Fellow Ashoka Buka Jalan dr Sofyan Tan Memutus Rantai Kemiskinan dan Diskriminasi


MEDAN (Waspada.id): Berangkat dari kehidupan dalam kemiskinan dan pengalaman pahit menghadapi diskriminasi, dr Sofyan Tan memilih pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan perubahan. Dukungan Ashoka melalui penghargaan Fellow Ashoka pada 1989 menjadi titik penting yang menguatkan langkahnya membangun pendidikan inklusif bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Pengalaman hidup tersebut dibagikan Sofyan Tan, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dalam live podcast bertajuk “Mengubah Dunia dari Sumatera Utara” pada rangkaian Pelatihan Guru Gaharu (Gerakan Semua Orang Pembaharu/Changemaker) yang digelar Ashoka Asia Tenggara di Hotel Santika Dyandra Medan, Minggu (18/10).
Kegiatan tersebut diikuti guru-guru SMP dan SMA di Sumatera Utara serta dihadiri Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni.
Sofyan Tan mengungkapkan, masa kecilnya di sebuah rumah berdinding tepas, beratap nipah, dan berlantaikan tanah di Sunggal menjadi bagian dari perjalanan panjangnya memahami kemiskinan dan ketidakadilan sosial.
Anak kedelapan dari keluarga kurang mampu itu bahkan hampir diserahkan kepada orang lain karena keterbatasan ekonomi. Pengalaman tersebut, ditambah diskriminasi yang disaksikannya sejak kecil, menumbuhkan tekad untuk menghadirkan pendidikan yang terbuka bagi semua kalangan.
“Tanpa Ashoka, saya tidak bisa menjadi seperti saat ini. Penghargaan Fellow Ashoka pada 1989 memberi saya stipendium dan jaminan biaya untuk melanjutkan perjuangan di dunia pendidikan, meskipun saat itu saya harus merelakan jubah dokter yang saya impi-impikan sejak kecil,” ujarnya.
Pendidikan Melawan Diskriminasi
Tekad Sofyan Tan membangun sekolah inklusif juga berakar dari pengalaman menghadapi ketegangan rasial, termasuk peristiwa pembakaran sekolah-sekolah Tionghoa pada 1966 yang disaksikannya.
Pengalaman diskriminasi kembali dirasakannya ketika menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist dan menghadapi ujian negara di Universitas Sumatera Utara (USU). Menurutnya, berbagai hambatan yang dialami saat itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa ketidakadilan sosial harus dilawan.
Ia kemudian memandang pendidikan sebagai jalan untuk memutus rantai kemiskinan sekaligus mengikis prasangka dan diskriminasi antarkelompok masyarakat.
Dengan modal pinjaman awal Rp60 juta, Sofyan Tan mendirikan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM). Lembaga pendidikan tersebut dibangun dengan semangat mempertemukan anak-anak dari beragam latar belakang suku, agama, dan kondisi ekonomi dalam lingkungan belajar yang setara.
Perjalanan membangun sekolah itu tidak mudah. Keterbatasan dana dan penolakan yang dihadapinya menjadi tantangan dalam mempertahankan sekaligus mengembangkan gagasan pendidikan inklusif.
Di tengah situasi tersebut, dukungan Ashoka melalui penghargaan Fellow Ashoka berupa tunjangan rutin atau stipendium Rp500 ribu per bulan pada 1989 menjadi salah satu penopang perjuangannya. Bantuan finansial dan dukungan moral itu turut membantunya menghadapi beban awal pendirian sekolah dan melanjutkan gerakan pendidikan yang dirintisnya.
“ Butuh waktu sangat lama untuk membangun dan melahirkan ini semua. Hari ini, dari modal nekat dan dukungan jejaring pembaharu, YPSIM telah memiliki aset pendidikan senilai ratusan miliar dan, yang paling berharga, melahirkan lebih dari 7.500 anak asuh serta mencetak ribuan sarjana dan puluhan dokter dari keluarga miskin,” tegasnya.
Gerakan Pembaharu dari Lingkungan Terdekat
Dalam kesempatan yang sama, pendiri Kiddos Explorer, Deasy M. Sitompul, berbagi pengalaman membangun komunitas pembelajaran alternatif berbasis keluarga dan homeschooling.
Deasy menekankan pentingnya menyediakan ruang belajar yang mendorong kemandirian anak sekaligus membuka kesempatan berinteraksi dengan teman-teman dari latar belakang sosial, usia, dan budaya yang berbeda.
Menurutnya, upaya menciptakan perubahan di bidang pendidikan tidak harus menunggu tersedianya fasilitas yang lengkap. Inisiatif dapat dimulai dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar.
“Ketika kita ingin fokus mendidik anak dan menciptakan perubahan, jangan menunggu semua sarana tersedia. Gunakan apa yang ada, dan jika belum ada, buatlah inisiatif itu sendiri,” tuturnya.
Pengalaman Sofyan Tan dan Deasy M. Sitompul menunjukkan bahwa perubahan di bidang pendidikan dapat dimulai dari keberanian mengambil langkah nyata, meskipun dihadapkan pada keterbatasan.
Melalui gerakan changemaker, Ashoka Asia Tenggara mendorong para pendidik untuk menjadi penggerak perubahan di lingkungan masing-masing. Semangat tersebut diharapkan dapat memperluas akses pendidikan, menumbuhkan toleransi, serta membuka kesempatan yang lebih setara bagi anak-anak, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. (wsp.id)
Berita Terkait
































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda