Breaking News
Memuat breaking news...

FKUB Medan Gelar Pendidikan dan Pelatihan Mitigasi Resiko Disharmonisasi, Walikota Medan Minta Camat Jadi Detektor Dini Konflik Sosial

Redaksi
Redaksi
Jumat, 25 September 2026 - 11.24 AM WIB
FKUB Medan Gelar Pendidikan dan Pelatihan Mitigasi Resiko Disharmonisasi, Walikota Medan Minta Camat Jadi Detektor Dini Konflik Sosial
Wali Kota Medan Rico Waas membuka Pendidikan dan Pelatihan Mitigasi Risiko Disharmonisasi dan Konflik Sosial bagi camat, yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan, Jumat (25/9).Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas meminta seluruh camat dan lurah memahami kondisi sosial, budaya dan keberagaman masyarakat di wilayah masing-masing sebagai langkah mendeteksi sekaligus mencegah potensi konflik sejak dini. Sebab, karakteristik sosial setiap kecamatan berbeda sehingga penyelesaian persoalan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama.

Hal itu disampaikan Rico saat membuka Pendidikan dan Pelatihan Mitigasi Risiko Disharmonisasi dan Konflik Sosial bagi camat, sekaligus penyerahan rekomendasi rumah ibadah oleh Pemko Medan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan, Jumat (25/9).

Rico mengatakan, Kota Medan merupakan kota multikultur dan multireligi yang selama ini hidup dalam suasana harmonis. Namun, berbagai persoalan kecil dapat menjadi gesekan apabila tidak segera diantisipasi.

“Hal-hal kecil apabila tidak dirawat dengan baik, bisa melebar ke mana-mana, bisa membesar dan akhirnya merusak antara kita satu dengan lainnya,” katanya.

Karena itu, ia menilai perbedaan bukan sesuatu yang harus dihalangi, tetapi perlu ditata dan dirawat agar menjadi kekuatan.

“Bangsa ini hanya bisa kuat kalau kita saling menguatkan. Kunci kita bisa maju apabila perbedaan yang kita miliki bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Rico mengibaratkan keberagaman seperti taman yang dipenuhi bunga dengan berbagai warna. Keindahan taman, katanya, muncul karena keberagaman tersebut ditata dan dirawat dengan baik.

“Kalau taman diisi bunga berwarna kuning, hijau, putih, biru, ungu dan lainnya, menjadi taman yang indah. Tapi memang harus ada perjuangan untuk menatanya agar terlihat enak dipandang,” jelasnya.

Ia menegaskan, menjaga harmonisasi tidak berhenti pada kegiatan pelatihan tersebut. Pemerintah bersama FKUB dan seluruh elemen masyarakat harus terus memberikan perhatian, pendampingan dan asistensi kepada umat beragama agar hak-haknya terpenuhi sesuai aturan dan hukum.

“Pekerjaan kita semua tidak berhenti di hari ini. Pasti akan ada umat yang membutuhkan perhatian, asistensi dan pendampingan agar seluruh haknya terpenuhi,” katanya.

Rico meminta camat tidak hanya berbicara mengenai urusan administratif, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat secara menyeluruh, mulai dari hubungan bertetangga, pekerjaan, ekonomi, sosial hingga pendidikan.

“Bagaimana menyelesaikan problem di Amplas akan berbeda dengan di Medan Baru, Petisah, Marelan, Belawan maupun Tuntungan. Pasti berbeda-beda,” katanya.

Ia juga meminta FKUB memberikan masukan terkait kondisi sosial dan budaya di setiap wilayah agar persoalan dapat dimitigasi sejak awal.

“Secara keseluruhan kita memahami Bhinneka Tunggal Ika, toleransi antarbudaya dan antarumat beragama. Tetapi praktiknya yang perlu dipahami, bagaimana saling menghormati supaya tidak terkikis,” ujarnya.

SSementara itu, Ketua FKUB Kota Medan H M Yasir Tanjung S.Pd.I mengajak seluruh camat memperkuat komunikasi dengan FKUB. Menurutnya, camat memiliki posisi penting karena bersentuhan langsung dengan masyarakat dan mengetahui dinamika di wilayah masing-masing.

“Saya mau semua camat punya satu kesamaan. Ayo buka komunikasi dengan kami di FKUB Kota Medan,” kata Yasir.

Ia mengakui FKUB tidak mungkin memantau seluruh wilayah Kota Medan. Karena itu, komunikasi dengan camat diperlukan agar berbagai persoalan sosial dan keagamaan dapat diketahui lebih cepat.

“Kami jauh dari kesempurnaan, tidak mungkin semua wilayah bisa termonitor. Lewat komunikasi bapak dan ibu camatlah kami mengetahui permasalahan yang ada di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Yasir juga menegaskan FKUB siap bersinergi dengan Pemko Medan dalam menjaga kerukunan umat beragama. Menurutnya, kerukunan merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan kota.

“Kerukunan ini adalah jantung keberhasilan setiap kota di Indonesia. Kalau kita rukun, kita bisa saling menerima pendapat satu dengan yang lainnya,” katanya.

Ia mengingatkan, perbedaan agama dan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menghina atau melakukan tindakan yang dapat memicu konflik, termasuk persoalan rumah ibadah.

Menurut Yasir, berbagai persoalan di masyarakat dapat diselesaikan apabila seluruh pihak mengedepankan komunikasi dan kebersamaan. Ia juga mengapresiasi camat yang selama ini ikut membantu menyelesaikan persoalan sosial dan keagamaan di wilayahnya.

“Jangan ragukan FKUB Kota Medan. Kami siap berdiri di depan dan di samping Pak Wali untuk merawat Kota Medan agar lebih baik ke depan,” tegasnya.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement