Breaking News
Memuat breaking news...

FORDAVIS FTIK UIN Syahada Bahas Paradigma Teoantropoekosentris Dalam Sains

Redaksi
Redaksi
Rabu, 23 September 2026 - 8.49 PM WIB
FORDAVIS FTIK UIN Syahada Bahas Paradigma Teoantropoekosentris Dalam Sains
Peserta FORDAVIS FTIK UIN Syahada Padangsidimpuan foto bersama dengan Wakil Dekan Dr. H.Akhiril Pane, M.Pd dan Pemateri, Rabu (23/9/2026). Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

P.SIDIMPUAN (Waspada.id): Forum Riset dan Inovasi Pendidikan Islam (FORVADIS) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Syahada Padangsidimpuan bahas paradigma Teoantropoekosentris dalam ilmu pengetahuan alam atau sains.

Pembahasan paradigma teoantropoekosentris atau cara pandang keilmuan yang memadukan tiga elemen utama secara terpadu: Tuhan (Teo), manusia (Antropo), dan lingkungan atau alam semesta (Ekosentris) digelar di Aula FTIK UIN Syahada, Jl.Ht.Rizal Nurdin, Sihitang, P.Sidimpuan, Rabu (23/9/2026).

Dalam bidang sains, paradigma ini menolak pemisahan antara ilmu pengetahuan umum dan nilai-nilai agama. Sains tidak hanya dipahami sebagai penguasaan materi, tetapi sebagai sarana untuk memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan serta menjaga kelestarian alam dan kesejahteraan manusia.

Dalam Forum itu, dosen diajak untuk melihat fenomena fisika bukan semata sebagai hukum alam, tetapi juga sebagai ruang refleksi terhadap kebesaran Allah SWT karena sesuai dengan ajaran agama Islam semuanya dapat terjadi atas izin Allah SWT.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga FTIK UIN Syahada, Dr. H.Akhiril Pane, M.Pd, saat membuka kegiatan itu menegaskan, bahwa penggabungan sains dan wahyu merupakan bagian penting dalam membangun karakter pendidikan di lingkungan UIN Syahada.

“Menggabungkan sains dan wahyu adalah jalan menjadikan lembaga ini pusat ilmu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual,” ujarnya.

Himsar, M.Pd sebagai pemateri dalam FORDAVIS FTIK UIN Syahada P.Sidimpuan saat memberikan pemahaman tentang Paradigma Teoantropoekosentris Dalam Sains.Rabu (23/9/2026). Waspada.id/Ist

Himsar, M.Pd sebagai pemateri utama forum tersebut menjelaskan sejumlah konsep fisika yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari waktu, massa jenis, hukum gerak Newton hingga tekanan.

Namun, pembahasannya tidak berhenti pada hitungan matematis.Menurutnya konsep-konsep tersebut dikaitkan dengan ayat Al-Qur'an dan Hadis untuk membangun paradigma teoantropoekosentris, yakni cara pandang yang menempatkan Tuhan, manusia dan alam dalam hubungan yang saling terkait.

Waktu Dunia Hanya Sejenak

Salah satu pembahasan menarik menyangkut rotasi dan revolusi bumi yang menjadi dasar terjadinya siang dan malam serta pergantian musim.

Himsar mengaitkannya dengan Surah As-Sajdah ayat 5 dan Al-Hajj ayat 47 mengenai perbandingan waktu dalam perspektif Allah dan perhitungan manusia.Untuk memahaminya, ia mengajak peserta melakukan refleksi terhadap usia manusia.

“Jika usia kita 60 tahun di dunia, di akhirat itu hanya sekitar 86 menit saja,” ungkapnya sambil menjelaskan bahwa pesan tersebut bukan sekadar persoalan konversi waktu.

Himsar mengajak peserta menyadari bahwa kehidupan dunia memiliki batas, sehingga ilmu yang dimiliki manusia semestinya tidak hanya digunakan untuk mengejar kecerdasan, tetapi juga membangun kesadaran tentang tujuan kehidupan.

Selanjutnya pembahasan bergeser pada massa jenis dan fenomena dua massa air yang bertemu tetapi memiliki batas tertentu, yang dikaitkan dengan Surah Ar-Rahman ayat 19-20. Fenomena tersebut digunakan sebagai pintu masuk untuk memahami bahwa alam memiliki keteraturan dan batas.

Bagi Himsar, konsep itu dapat menjadi bahan refleksi dalam kehidupan sosial. Perbedaan tidak selalu berarti pertentangan. Ada batas yang justru menjaga keseimbangan.

Ia juga mengaitkannya dengan Surah An-Nur ayat 26 tentang kecenderungan kesesuaian antara yang baik dengan yang baik.

Kemudian Himsar meenjelaskan rumus tekanan P = F/A ke dalam realitas kehidupan manusia. Dalam fisika, tekanan merupakan perbandingan antara gaya dengan luas bidang tekan. Dalam kehidupan, konsep tersebut ia analogikan sebagai gambaran tekanan yang dialami manusia. “Tekanan hidup muncul ketika gaya hidup melebihi kapasitas diri,” katanya.

Menurut dia, manusia memiliki dua pilihan untuk menjaga keseimbangan yakni menurunkan keinginan atau meningkatkan kemampuan diri. Untuk itu, Himsar menegaskan pentingnya menempatkan Al-Qur'an sebagai sumber nilai dan inspirasi dalam pengembangan ilmu.

Menurutnya, ilmu dalam perspektif Islam tidak semestinya dipisahkan secara kaku antara pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Sains, bahasa, sosial, muamalah dan berbagai bidang keilmuan dapat dikembangkan dalam kerangka nilai Islam.(id46)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement