FORVADIS FTIK UIN Syahada Bahas Kekeliruan Riset Kualitatif Mahasiswa


P.SIDIMPUAN (Waspada.id): Forum Riset dan Inovasi Pendidikan Islam (FORVADIS) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Syahada Padangsidimpuan membahas kekeliruan mahasiswa dalam melakukan penelitian yang masih kerap terjebak pada pola pikir kuantitatif.
Dalam membahas kekeliruan riset kualitatif mahasiswa tersebut, FORVADIS yang dibuka Dekan FTIK UIN Syahada, Dr. Hamka, M.Hum., yang diwakili Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Dr. Suparni, M.Si., Rabu (4/11/2026), menghadirkan Dr. Anhar sebagai pemateri.
Dr. Suparni dalam sambutannya mengatakan, forum tersebut menjadi ruang akademik bagi mahasiswa dan dosen untuk memperluas wawasan, memperoleh informasi baru, serta memperkuat pemahaman tentang metodologi penelitian melalui pengalaman dan pemikiran narasumber.
"FORVADIS bukan sekadar forum diskusi biasa, melainkan ruang pembentukan kesadaran riset bagi sivitas akademika. Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh pemahaman baru mengenai cara berpikir ilmiah yang selaras dengan karakter keilmuan Islam dan humaniora," ucapnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi FTIK UIN Syahada untuk memperkuat budaya penelitian yang tidak sekadar berorientasi pada pemenuhan persyaratan administratif penyelesaian skripsi, tetapi juga mengedepankan kedalaman metodologi, ketajaman analisis, dan kejujuran akademik.
Kualitas sebuah penelitian, ungkap Dr. Suparni, tidak hanya ditentukan oleh banyaknya data yang dikumpulkan atau lengkapnya instrumen yang digunakan. Lebih mendasar, kualitas riset ditentukan oleh ketepatan peneliti dalam memahami realitas, memilih paradigma, dan mengungkap makna secara bertanggung jawab.
Ia berharap, melalui FORVADIS, FTIK UIN Syahada mampu mendorong lahirnya tradisi akademik yang lebih kritis, reflektif, dan berkualitas, sehingga penelitian mahasiswa tidak berhenti sebagai tumpukan laporan ilmiah, tetapi memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam.

Dr. H. Anhar, M.A. (kiri depan) saat menjelaskan lima kekeliruan riset kualitatif mahasiswa dalam FORVADIS FTIK UIN Syahada Padangsidimpuan, Rabu (4/11/2026). Waspada.id/Ist.
Lima Kekeliruan Penelitian Kualitatif
Dr. H. Anhar, M.A., selaku pemateri dalam FORVADIS tersebut, mengungkapkan fenomena masih kuatnya paradigma positivistik dalam praktik penelitian kualitatif mahasiswa di lingkungan PTKIN, termasuk di UIN Syahada Padangsidimpuan.
Ia menjelaskan, penelitian kuantitatif berorientasi pada variabel, hubungan sebab-akibat, pengukuran, dan generalisasi. Sebaliknya, penelitian kualitatif harus bertumpu pada pemahaman makna, kedalaman konteks, perspektif emik-empatik, serta deskripsi tebal (thick description) terhadap fenomena yang diteliti.
Menurutnya, tidak sedikit mahasiswa mengklaim menggunakan pendekatan kualitatif, tetapi cara berpikir dan desain penelitiannya justru masih mengikuti logika penelitian kuantitatif.
"Lima kekeliruan yang sering ditemukan dalam penelitian kualitatif mahasiswa," ungkapnya.
Pertama, pengumpulan data masih dilakukan secara dangkal tanpa membangun kedekatan emik-empatik dengan informan. Akibatnya, peneliti hanya memperoleh informasi di permukaan dan gagal memahami pengalaman serta sudut pandang subjek penelitian.
Kedua, mahasiswa masih memaksakan perangkat penelitian kuantitatif, seperti definisi operasional, variabel, hipotesis, dan instrumen yang kaku, ke dalam desain penelitian kualitatif.
Ketiga, fokus penelitian terlalu luas sehingga mengorbankan kedalaman analisis.
Keempat, teori diperlakukan sebagai kerangka yang mengikat dan memaksa data agar sesuai dengan asumsi peneliti, padahal teori semestinya menjadi pemandu dalam membaca dan menganalisis fenomena.
Kelima, kesimpulan penelitian masih diarahkan pada generalisasi sebagaimana lazimnya penelitian kuantitatif. Padahal, penelitian kualitatif lebih menekankan pengungkapan pola, makna, dan pemahaman mendalam terhadap realitas yang diteliti.
"Penelitian kualitatif bukan berarti sekadar pergi ke lapangan. Ia membutuhkan paradigma alamiah yang benar-benar membiarkan fenomena tampak secara alamiah," tegas Dr. Anhar. (id46)
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda