Breaking News
Memuat breaking news...

Franco Baresi Kapten dan Bek Tengah Legendaris AC Milan dan Timnas Italia

Redaksi
Redaksi
Jumat, 31 Juli 2026 - 7.16 PM WIB
Franco Baresi Kapten dan Bek Tengah Legendaris AC Milan dan Timnas Italia
Franco Baresi bersama Marco Van Basten dan Filippo Inzaghi ketika dinobatkan sebagai "Hall Of Fame" AC Milan pada peringatan 125 tahun AC Milan 16 Desember 2024.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Indra Efendi Rangkuti

Dunia sepakbola Internasional kembali kehilangan salah satu legenda besarnya. Franco Baresi sang kapten dan bek tengah legendari AC Milan dan Timnas Italia meninggal dunia pada 31 Juli 2026 akibat sakit di usia 66 tahun.
Kepergian Franco Baresi meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepakbola Internasional. Kesuksesannya bersama AC Milan dan Timnas Italia membuat dirinya dihormati dan dikagumi oleh banyak pesepakbola.
Kekokohannya mengawal lini pertahanan membuat dirinya menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Alessandro Costacurta,Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Fabio Cannavaro, Charles Puyol dan Giorgio Chiellini adalah beberapa sosok yang menjadikan Franco Baresi sebagai sumber inspirasi dan idola dalam bermain.
Bahkan pelatih legendaris Manchester United Sir Alex Ferguson mengagumi permainan Franco Baresi. Ferguson sering memasukkan nama Baresi sebagai ikon bek yang permainannya sangat cerdas dan elegan. Dia pernah membandingkan tim hebat Barcelona di suatu era dengan AC Milan di era Arrigo Sacchi yang sangat superior, di mana Baresi menjadi fondasi utamanya.

Franco Baresi mengangkat trofi Champions Cup usai membawa AC Milan menjadi Juara Champions Cup 1989 setelah di Final mengalahkan Steaua Bucharest 4-0.


Secara luas dianggap sebagai salah satu bek terhebat sepanjang masa.Baresi berada di peringkat ke-19 dalam daftar 100 pemain terhebat abad 20 versi majalah World Soccer. Baresi dinobatkan oleh Pele sebagai salah satu dari 125 Pemain Sepak Bola Terhebat yang Masih Hidup pada upacara penghargaan seratus tahun FIFA pada tahun 2004. Baresi dilantik ke dalam Hall of Fame Sepak Bola Italia pada tahun 2013.
Kiprah hebat Franco Baresi sejak 1978 hingga pensiun pada akhir musim 1996/1997 memang sebuah kisah yang menarik untuk dikenang. Apalagi sepanjang karirnya di sepakbola dirinya hanya memperkuat AC Milan. Pada saat dirinya mundur maka nomor 6 yang identik dengan dirinya juga ikut dipensiuynkan oleh AC Milan sebagai penghormatan atas dedikasi Baresi bersama AC Milan.
Meskipun Baresi mampu bermain di posisi mana pun di lini belakang, ia terutama unggul sebagai bek tengah dan sebagai sweeper, di mana ia menggabungkan atribut defensifnya, dan kemampuannya membaca permainan, dengan visi, teknik, distribusi, dan keterampilan bola yang sangat baik. Kekokohannya membuat dirinya sulit ditembus oleh barisan penyerang lawan. Jangkauan umpan, kemampuan teknis, dan kontrol bola Baresi memungkinkannya untuk maju ke lini tengah untuk memulai permainan menyerang dari belakang, memungkinkannya untuk berfungsi sebagai playmaker sekunder bagi timnya, dan juga bermain sebagai gelandang bertahan atau gelandang tengah bila diperlukan.

Franco Baresi mengangkat trofi Piala Toyota/Interkontinental 1989 setelah mengalahkan klub Kolombia Nacional Medelin 1-0.


Franco Baresi lahir di Travagliato Brescia Italia pada 8 Mei 1960. Franco bersama kakaknya Giuseppe Baresi dibesarkan di sebuah kawasan pertanian di pinggiran kota kecil Travagliato di Italia utara. Ayah dari legenda Franco Baresi adalah Ortensio Baresi. Bersama istrinya, Prisca Baresi, sang ayah meninggal dunia lebih dulu ketika Franco Baresi berusia 16 tahun, yang kemudian membuat Franco bersama kakaknya, Giuseppe Baresi, menjadi yatim piatu di usia muda.
Pada awalnya Franco dan Giuseppe melamar ke akademi Inter Milan. Namun hanya Giseppe yang diterima oleh akademi Inter Milan. Franco Baresi kemudian mencoba melamar ke akademi AC Milan dan dirinya diterima karena tim pemandu bakat AC Milan melihat potensi besar pada diri Farnco Baresi muda.
Berikut saya uraikan kiprah sukses perjalanan karir Franco Baresi di AC Milan dan Timnas Italia.

1. Kiprah Franco Baresi Di AC Milan
Debut Franco Baresi bersama AC Milan terjadi pada tanggal 23 April 1978 dalam pertandingan Serie A melawan Hellas Verona. Saat usianya baru itu 17 tahun dan debutnya di musim 1977/1978 itu dinilai positif oleh pelatih Nils Liedholm saat itu.
Pada musim berikutnya, ia menjadi anggota starting eleven, bermain sebagai sweeper atau sebagai bek tengah, dan turut berkontribusi membawa AC Milan memenangkan gelar juara Liga Italia musim 1978/1979, gelar kesepuluh Milan secara keseluruhan dan saat itu dirinya bermain bersama Fabio Capello dan Gianni Rivera.
Kesuksesan ini segera diikuti oleh periode kelam dalam sejarah klub, ketika AC Milan terdegradasi ke Serie B dua kali pada awal tahun 1980-an. AC Milan terdegradasi pada tahun 1980 karena terlibat dalam skandal pengaturan pertandingan tahun 1980 dan sekali lagi setelah finis di urutan ketiga dari bawah pada musim 1981/1982 di saat AC Milan baru saja kembali ke Serie A setelah musim sebelumnya memenangkan gelar Serie B 1980/1981.
Meskipun menjadi anggota skuad Italia di Piala Eropa (Euro 1980) yang finis di urutan keempat, dan tim pemenang Piala Dunia 1982, Franco Baresi memilih untuk tetap bersama Milan dan memenangkan gelar Serie B untuk kedua kalinya pada musim 1982/1983 dan membawa Milan kembali ke Serie A.

Franco Baresi merayakan kesuksesan AC Milan menjadi Juara Piala Champions 1989 bersama rekan setimnya Marco Van Basten


Setelah Aldo Maldera dan Fulvio Collovati meninggalkan klub pada tahun 1982, Baresi diangkat menjadi kapten Milan, pada usia 22 tahun, dan akan memegang posisi ini selama sebagian besar pengabdiannya di AC Milan.Baresi menjadi simbol dan pemimpin bagi rekan – rekannya di AC Milan. Selama periode suram bagi Milan, Baresi berhasil memenangkan Piala Mitropa pada tahun 1982 dan mencapai final Coppa Italia pada musim 1984/1985, meskipun tim gagal mendominasi di Serie A.
Pada akhir tahun 1980-an dan paruh pertama tahun 1990-an, Baresi berada di jantung lini pertahanan AC Milan yang terkenal bersama Paolo Maldini , Alessandro Costacurta , Mauro Tassotti dan kemudian Christian Panucci , di bawah asuhan manajer Arrigo Sacchi dan Fabio Capello. Pada era ini kwartet keempat pemain belakang AC Milan tersebut adalah sebuah pertahanan yang dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu yang terhebat sepanjang masa.
Ketika trio pemain Belanda Marco Van Basten , Ruud Gullit dan Frank Rijkaard tiba di AC Milan pada akhir tahun 1980-an, AC Milan memulai periode kemenangan domestik dan internasional dengan berada di puncak kesuksesan klub pada periode 1987 hingga 1996. Saat itu skuad AC Milan berisikan banyak bintang Italia dan internasional, seperti Roberto Donadoni , Carlo Ancelotti, Marco Van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Danielle Massaro,Carlo Ancelotti dan kemudian Demetrio Albertini, Dejan Savićević , Zvonimir Boban, Marcel Desailly, George Weah , Jean Pierre Papin, Brian Laudrup, Florin Raduciou, dan Roberto Baggio.
Di bawah asuhan Arrigo Sacchi, AC Milan memenangkan gelar juara Serie A pada musim 1987/1988 , dengan Baresi membantu Milan hanya kebobolan 14 gol. Gelar ini segera diikuti oleh Supercoppa Italiana pada tahun 1988 dan Piala Champions berturut-turut pada musim 1988/1989 dan 1989/1990.
Pada Final Piala Champions 1990, Baresi menunjukkan performa dominan sebagai kapten tim, membantu AC Milan mempertahankan gelar Piala Champions dan menjaga gawang tetap bersih dalam kemenangan 1–0 atas Benfica lewat gol yang dicetak Frank Rijkaard. Baresi juga menjadi Runner Up dari rekan setimnya Marco Van Basten untuk Ballon d'Or pada tahun 1989 dengan mengungguli rekan setimnya yang lain Frank Rijkaard, dan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Serie A pada tahun 1989/1990.
Baresi kemudian memenangkan empat gelar Serie A lagi bersama AC Milan di bawah asuhan Fabio Capello, termasuk tiga gelar berturut-turut pada musim 1991/1992 , 1992/1993 , dan 1993/1994. Baresi membantu AC Milan memenangkan gelar 1991/1992 tanpa terkalahkan, membantu Milan mencatatkan rekor tak terkalahkan di Italia sebanyak 58 pertandingan.
AC Milan juga mencetak rekor 74 gol pada musim 1992/1993. Selama musim 1993/1994, Baresi membantu Milan hanya kebobolan 15 gol di Serie A, membantu klub menyelesaikan musim dengan pertahanan terbaik. Baresi juga memenangkan tiga Supercoppa Italiana berturut-turut di bawah Capello, pada tahun 1992 , 1993, dan 1994 .
AC Milan juga mencapai tiga final Liga Champions berturut - turut selama musim 1992/1993 , 1993/1994 dan 1994/1995 , kalah dari Marseille pada 1992/1993 dan Ajax pada 1994/1995. Baresi memenangkan Piala/Liga Champions ketiga dalam kariernya pada musim 1993/1994 ketika AC Milan mengalahkan Barcelona asuhan Johan Cruyff 4–0 di final.
Baresi juga berhasil memenangkan Piala Super Eropa 1994 , meskipun AC Milan kalah di Piala Interkontinental 1994, Piala Super Eropa 1993 dan Piala Interkontinental 1993. Di bawah asuhan Fabio Capello, AC Milan dan Baresi mampu meraih gelar Serie A lainnya selama musim 1995/1996 yang merupakan gelar keenam bagi Baresi selama membela AC Milan.
Franco Baresi pensiun pada akhir musim Serie A 1996/1997 , pada usia 37 tahun. Dalam 20 musimnya bersama Milan, ia memenangkan enam gelar Serie A, tiga gelar Piala/Liga Champions (mencapai lima final secara total), dua Piala Interkontinental (empat final secara total), tiga Piala Super Eropa (empat final secara total), empat Supercoppa Italiana (lima final secara total), dua gelar Serie B dan satu Piala Mitropa.
Baresi mencetak 31 gol untuk AC Milan, 21 di antaranya melalui penalti, dan, meskipun berposisi sebagai bek, ia menjadi pencetak gol terbanyak Coppa Italia selama musim 1989/1990, satu-satunya trofi yang gagal ia menangkan bersama Milan, setelah dua kali mencapai final selama kariernya. Gol terakhirnya untuk Milan dicetak dalam kemenangan 2–1 melawan Padova pada 27 Agustus 1995.
Baresi juga membuktikan kwalitasnya sebagai bek handal Dirinya terpilih sebagai bagian dari Tim Terbaik Serie A pada tahun 1987, 1988, 1988, 1989, 1990 dan 1992.
Sebagai penghormatan kepadanya, AC Milan mempensiunkan nomor punggung 6 miliknya, yang telah ia kenakan sepanjang kariernya. Ban kapten, yang telah ia kenakan selama 15 musim, diserahkan kepada Paolo Maldini. Sebagai penghormatan AC Milan menyelenggarakan pertandingan perpisahan untuk menghormati dedikasi Baresi, yang dimainkan pada 28 Oktober 1997 di San Siro dengan menampilkan banyak bintang sepak bola dunia seperti : Ruud Gullit, Marco Van Basten, Frank Rijkaard, Roberto Baggio, Zico, Romario, Fernando Redondo, Eric Gerets, Ray Wilkins, Ronald De Boer dll.
Pada peringatan 125 tahun AC Milan yang digelar pada 16 Desember 2024 diwarnai peluncuran “Hall of Fame “ klub yang memasukkan empat legenda utama: Franco Baresi, Marco van Basten, Andriy Shevchenko, dan Filippo Inzaghi.Tentu ini bukti betapa Baresi sangat dihormati oleh AC Milan.
2. Kiprah Franco Baresi Bersama Timnas Italia

Pada usia 20 tahun, saat masih bermain di timnas Italia U-21 , Baresi masuk dalam skuad 22 pemain Italia untuk Piala Eropa 1980 bersama kakaknya Giuseppeyang dipilih oleh manajer Enzo Bearzot . Turnamen tersebut diadakan di Italia dan Italia finis di urutan keempat.

Franco Baresi melangkah lesu usai gagal mengeksekusi penalti pada drama adu penalti melawan Brazil di Final Piala Dunia 1994


Namun, tidak seperti kakaknya, Franco Baresi tidak memainkan satu pertandingan pun dalam turnamen tersebut. Piala Eropa 1980 akan menjadi satu-satunya kesempatan kedua bersaudara itu berada di skuad Italia bersama - sama dalam turnamen besar. Pada usia 22 tahun, Baresi masuk dalam skuad Italia untuk Piala Dunia 1982 di Spanyol.
Timnas Italia memenangkan Piala Dunia ketiga mereka setelah mengalahkan Jerman Barat di Final , tetapi Franco Baresi, sekali lagi, tidak terpilih untuk bermain satu pertandingan pun sepanjang turnamen. Saat itu dirinya berada di bawah bayang – bayang bek Juventus Gaetano Scirea.
Franco Baresi juga merupakan anggota skuad Italia yang ikut serta dalam Olimpiade 1984 di Los Angeles Amerika Serikat. Italia finis di posisi keempat setelah kalah di semifinal dari Brasil , dan kalah dalam pertandingan perebutan medali perunggu dari Yugoslavia. Baresi mencetak gol melawan Amerika Serikat selama babak penyisihan grup.
Baresi meraih caps internasional senior pertamanya dalam pertandingan kualifikasi Piala Eropa 1984 melawan Rumania di Florence , pada 14 Desember 1982, yang berakhir imbang 0–0. Namun, Italia akhirnya gagal lolos ke putaran Final Piala Eropa 1984 yang digelar di Prancis.
Franco Baresi tidak dimasukkan dalam skuad Italia untuk Piala Dunia 1986 oleh pelatih Enzo Bearzot, yang menganggapnya lebih cocok sebagai gelandang daripada bek meskipun saudaranya Giuseppe terpilih sebagai bek untuk Piala Dunia, begitu pula Roberto Tricella.
Baresi kembali ke Timnas Italia untuk Piala Eropa 1988 , bermain sebagai sweeper, di mana Italia mencapai semifinal di bawah asuhan pelatih Azeglio Vicini dan menjadi pilihan tim utama yang tak tergantikan dan bermain di setiap pertandingan. Ia melakukan penampilan pertamanya di pertandingan Piala Dunia pada Piala Dunia 1990, yang diadakan di Italia, dan ia bermain di setiap pertandingan sebagai salah satu bek tengah utama, saat Italia finis di tempat ketiga, setelah tersingkir oleh juara bertahan Argentina dalam adu penalti di semifinal.
Baresi membantu pertahanan Italia menjaga gawangnya tetap bersih selama lima kali berturut-turut, hanya kebobolan dua gol, dan tak terkalahkan selama 518 menit, sebuah rekor Piala Dunia, hingga mereka dikalahkan Argentina di semifinal Piala Dunia 1990 lewat adu penalti. Penampilan gemilangnya sebagai bek tengah sukses membuat Diego Maradona tak berkutik. Sayang keunggulan Italia lewat gol Salvatore Schillaci pada menirt ke-17 harus buyar setelah Claudio Cannigia menyamakan kedudukan pada menit ke-67. Meski sukses mengeksekusi penalti pada adu penalti, namun Baresi harus menelan kekecewaan karena Italia takluk dari Argentina dalam adu penalti tersebut.

Franco Baresi menyalami mantan rekan - rekan setimnya di AC Milan Marco Van Basten, Roberto Baggio, Danielle Massaro, Ruud Gullit dan Roberto Donadoni pada pertandingan perpisahan Baresi di Stadion San Siro 28 Oktober 1997.


Namun kehandalannya sebagai bek tengajh Italia selama Piala Dunia 1990 mendapat apresiasi. Baresi terpilih di Tim Terbaik Piala Dunia 1990.
Setelah menggantikan Giuseppe Bergomi sebagai kapten untuk Piala Dunia 1994 di bawah asuhan mantan pelatihnya di AC Milan, Arrigo Sacchi, Baresi mengalami cedera meniskus pada pertandingan grup kedua Italia ketika Italia menang 1–0 melawan Norwegia, dan melewatkan sebagian besar turnamen.
Baresi kembali ke skuad 25 hari kemudian dan membuatnya tampil di Final melawan Brazil. Dengan penampilan defensif yang dominan, membantu Italia menjaga gawangnya tetap bersih melawan Brazil. Baresi sukses mematikan duet penyerang Brazil Romario dan Bebeto. Setelah hasil imbang 0–0 setelah perpanjangan waktu, pertandingan dilanjutkan ke adu penalti, dan Franco Baresi kemudian gagal mencetak gol dari titik penalti karena kram dan kelelahan yang parah. Setelah kegagalan Daniele Massaro dan Roberto Baggio, Italia dikalahkan oleh Brasil dalam pertandingan final tersebut.
Setelah kekalahan di final Piala Dunia 1994, Baresi tampil sekali lagi untuk Italia, dalam pertandingan kualifikasi Piala Eropa 1996 saat partai tandang melawan Slovenia pada 7 September 1994, yang berakhir imbang 1–1. Baresi kemudian pensiun dari tim nasional pada usia 34 tahun dan menyerahkan ban kapten kepada rekan setimnya di AC Milan, Paolo Maldini.
Baresi mengumpulkan 81 caps untuk Italia, mencetak satu gol dalam kemenangan persahabatan melawan Uni Sovyet, dan dia adalah salah satu dari tujuh pemain yang telah mencapai prestasi langka memenangkan medali Emas, Perak, dan Perunggu Piala Dunia selama karier internasionalnya.
Setelah pensiun dari sepakbola Franco Baresi sempat menekuni dunia kepelatihan. Pada tanggal 1 Juni 2002, Baresi secara resmi diangkat menjadi direktur sepak bola di Fulham , namun ketegangan antara Baresi dan manajer Fulham saat itu, Jean Tigana, menyebabkan pengunduran dirinya dari klub pada bulan Agustus 2002.
Ketika Alessandro Nesta hadir ke AC Milan pada tahun 2002, Franco Baresi mengungkapkan kebahagiaannya.Sudah lama Baresi berharap Nesta bergabung dengan AC Milan karena dirinya menilai Nesta adalah sosok yang tepat untuk menggantikan dirinya sebagai bek tengah di AC Milan.
Nesta sendiri sangat tersanjung dengan pujian Baresi yang juga idolanya. Saat itu Nesta berkata kepada media:
“Bergabung ke AC Milan dimana Baresi menjadi idola adalah kebanggan buat saya. namun saya sadar kalau saya belum sehebat dirinya.Bisa meraih separuh dari prestasi Baresi bersama AC Milan adalah kebanggaan buat saya”.
Baresi diangkat sebagai pelatih kepala tim Primavera U-20 Milan. Pada tahun 2006, Baresi dipindahkan oleh klub untuk melatih tim Berretti U-19, dengan mantan rekan setimnya Filippo Galli menggantikannya sebagai pelatih kepala tim Primavera. Ia pensiun dari dunia kepelatihan dan digantikan oleh Roberto Bertuzzo.
Setrelah itu Baresi tetap terlibat dalam beberapa kegiatan AC Milan. Dirinya juga pernah menjadi duta klub AC Milan. Bahkan Baresi beberapa kali pernah berkunjung ke Indonesia. Kedatangannya ke Indonesia mengobati kekecewaannya yang absen ketika AC Milan berkunjung ke Indonesia pada tahun 1994 karena dirinya harus mengikuti persiapan Timnas Italia menuju Piala Dunia 1994.
Pada 29 April 2010 Franco Baresi datang ke Indonesia untuk membuka The All Star Team Competition di Lapangan Senayan, Jakarta, untuk mencari bibit muda yang akan diberi beasiswa ke kamp pelatihan AC Milan. Kemudian mempersiapkan “Milan Junior Camp”yang diselenggarakan di Bali pada 12 Juni hingga 10 Juli 2010, di mana anak-anak terpilih berkesempatan mendapatkan beasiswa dan terbang ke Italia.
Franco Baresi memimpin skuad AC Milan Glories ke Indonesia pada September 2011 untuk rangkaian laga amal Asia Disaster Relief Tour, dengan agenda transit di Bali dan pertandingan puncak melawan Indonesia All Star Legend di Jakarta. Pada 4 September 2011 Franco Baresi memimpin rekan – rekannya di AC Milan Glories melawan Indonesia All Star Legend di Gelora Bung Karno.
Saat itu AC Milan Glories menang 5-1 atas Indonesia All Star Legend dan banyak yang memuji aksi Baresi yang tetap terlihat tangguh sebagai bek tengah.Baresi sendiri terkesan dengan sambutan penonton Indonesia saat itu.
Baresi juga sangat menghormati prestasi yang ditorehkan oleh rekan – rekan setimnya di AC Milan.Ketika Paolo Maldini dicemooh oleh Ultras AC Milan pada saat memainkan pertandingan terakhirnya bersama AC Milan di San Siro pada 24 Mei 2009 Baresi membela Maldini.
Pada pertandingan perpisahan Paolo Maldini di Stadion San Siro pada 24 Mei 2009, kelompok suporter garis keras AC Milan (Curva Sud) membentangkan spanduk bertuliskan "Satu-satunya Kapten: Franco Baresi". Spanduk tersebut merupakan bentuk penolakan dan protes dari ultras Milan terhadap Maldini di hari terakhirnya membela klub tersebut.
Baresi kemudian mengecam sikap Ultas AC Milan tersebut dan berkata : “Tidak sepantasnya Ultras AC Milan mencemooh Maldini karena dedikasi dan pengabdiannya luar biasa untuk AC Milan. Sudah sepantasnya seluruh pendukung memberikan penghormatan kepada Maldini atas prestasi yang ditorehkannya untuk AC Milan”
Berita wafatnya Franco Baresi menimbulkan duka mendalam bagi AC Milan.Di akun media sosialnya AC Milan menulis :
“Seluruh sejarah AC Milan berduka. Contoh dan integritasnya akan selamanya tertanam dalam DNA klub, seperti halnya jersey nomor 6 ikoniknya. Belasungkawa yang disampaikan AC Milan kepada keluarga Franco Baresi di masa sulit ini dirasakan oleh setiap Rossonero, yang merasakan kehilangan ini seperti kehilangan mereka sendiri."
Ungkapan duka juga datang dari beberapa legenda sepakbola dunia.Marco Van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Paolo Maldini, Carlo Ancelotti, Dino Zoff, Clarence Seedorf, Patrick Kluivert, Roberto Baggio, Jerzy Dudek, Marco Amelia dan banyak lagi yang lainnya mengungkapkan rasa duka mereka di akun media sosial AC Milan.
FIFA, UEFA dan FIGC juga mengungkapkan dukacita mendalam atas wafatnya Baresi. Demikian juga dengan Parma, Juventus, Inter Milan, Ajax, Real Madrid, Barcelona dan Gremio Brazil.

Ucapan duka AC Milan atas wafatnya sang kapten legendaris AC Milan Franco Baresi di akun resmi Instagram AC Milan.


Mantan kiper Timnas Italia Dino Zoff memberikan penghormatan kepada Franco Baresi yang merupakan rekan setimnya di Piala Eropa 1980 dan Piala Dunia 1982. Kiper Italia saat Juara Piala Dunia 1982 itu menyoroti dampak besar Baresi baik di dalam maupun di luar lapangan.
"Ini adalah momen kesedihan yang besar atas kepergian sosok luar biasa, seorang pesepakbola. Franco Baresi adalah pribadi yang baik dan seorang juara di dalam maupun di luar lapangan. Ini benar-benar kehilangan besar bagi keluarganya, bagi para penggemar, dan bagi sepakbola Italia. Sebagai pemain, dia memenangi segalanya di semua level, piala, gelar liga, dan bersama tim nasional, semuanya dengan prestasi besar. Kehilangan Franco Baresi adalah kehilangan bagi seluruh olahraga Italia." ungkap Zoff.
Selamat jalan Franco Baresi. WASPADA.id

Penulis adalah pengamat olahraga

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement