Gema Syiar di Kota Atlas: Kala Tiga Srikandi Aceh Mengetuk Pintu Langit Lewat Harmoni Al-Qur'an

"Mereka duduk bersama di satu meja makan yang sama, menghirup aroma hidangan yang sama. Namun, pandangan mata dan hati mereka mengembara jauh ke dalam layar telepon genggam. Berada dalam satu ruangan, namun terasing di dunia yang berbeda," Ulfa Masturina.
Di bawah kubah megah Gedung Prof. Sudarto, S.H., Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, angin malam seolah berhenti berdesir tatkala tiga dara asal Serambi Mekkah melangkah pasti menuju panggung syiar.
Hari itu, Selasa yang penuh berkah, Ulfa Masturina, Ken Nevrety Banyu Bening, dan Naurah Clarisa—tiga mujahidah muda Kafilah Aceh—bukan sekadar bertanding pada MTQ Nasional XXXI 2026. Mereka hadir untuk merajut tenunan hikmah, mengetuk hati yang lalai lewat bait-bait Syarhil Qur'an yang memukau dunia.
Retak yang Tak Kasat Mata: Suara dari Meja Makan
Dengan jilbab yang anggun dan kekompakan yang berbalut rasa percaya diri, ketiganya melantunkan kegelisahan zaman. Tema yang diusung sangat lekat menampar realitas: “Ketahanan Keluarga di Tengah Disrupsi Digital”.
Lewat syarahan yang mengalir laksana air jernih, kata Waled Misran kepada Waspada.id, Selasa (15/9/3026) malam, mereka tidak mengutuk teknologi, melainkan meratapi hilangnya ruh kehangatan dalam rumah tangga muslim akibat derasnya arus digital.
Pesan islami itu mengalun syahdu: kemajuan teknologi lahir sebagai wasilah (sarana) untuk mempererat silaturahmi, bukan tembok angkuh yang menciptakan jarak di antara darah daging sendiri.

Air Mata Haru di Serambi Panggung
Pesan yang menyentuh sanubari itu tak pelak membuat air mata menetes. Dr. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., Ketua Kafilah yang juga Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, duduk terpaku menyaksikan langsung anak-anak didiknya bertarung. Raganya hadir sebagai benteng dukungan, namun jiwanya ikut larut dalam nasehat suci yang dideklamasikan.
“Kami melihat tema ini sangat menarik dan relevan dengan kondisi sekarang," ujar Dr. Misran dengan suara yang bergetar penuh keharuan.
Kehadiran jajaran tim Kafilah Aceh di sisi panggung adalah bukti bahwa perjuangan ini tidak dipanggul sendiri. “Kita ingin mereka merasa tidak sendiri dan bisa tampil maksimal membawa nama harum tanah leluhur, Aceh,” tambahnya penuh ketulusan.
Hangatnya Ukhuwah Perantau di Tanah Jawa
Suasana syiar di Kota Atlas malam itu kian benderang oleh indahnya ukhuwah islamiyah. Mahasiswa-mahasiswa asal Aceh yang tengah menuntut ilmu di Semarang melangkah kaki menuju venue perlombaan. Mereka membawa sorakan, tepuk tangan, dan doa-doa yang diitidangkan ke langit sebagai energi tambahan bagi Ulfa, Ken Nevrety, dan Naurah.
“Terima kasih kepada mahasiswa Aceh di Semarang yang sudah hadir dan memberikan semangat. Dukungan ini sangat berarti bagi peserta kita yang sedang berjuang membawa nama Aceh,” tutur Dr. Misran penuh syukur atas hangatnya kekeluargaan di perantauan.
Lebih dari Sekadar Angka dan Piala
Ketika tirai panggung perlahan menutup, penampilan Syarhil Quran Putri Aceh ini sejatinya telah melompat jauh melampaui sekat-sekat kompetisi MTQ. Mereka tidak lagi mengejar sekadar nilai dari dewan hakim atau piala yang berkilau.
Di tengah gemerlap lampu panggung dan kemajuan zaman yang kian tak terbendung, tiga srikandi Aceh ini telah menanam sebutir benih pengingat di hati setiap insan: bahwa rumah adalah madrasah pertama, tempat di mana komunikasi, perhatian, dan kehadiran utuh satu sama lain harus tetap dijaga demi meraih rida-Nya. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda