Gempa Singkat di Dinkopi, Riuh Panik dari Manyak Payed hingga Gayo LuesGempa Singkat di Dinkopi, Riuh Panik dari Manyak Payed hingga Gayo Lues

MANYAK PAYED (Waspada.id): Asap tipis dari gelas - gelas berisi kopi yang masih hangat belum sempat menghilang ketika suasana di Warung Kopi (Warkop) Dinkopi, Manyak Payed, Aceh Tamiang, mendadak berubah.
Obrolan santai yang semula mengalir ringan, tiba-tiba terputus oleh getaran yang datang tanpa aba-aba.
Rabu (22/7/2026), pukul 11.18 WIB, Warkop yang berada di lintasan Jalan Medan–Banda Aceh, tepatnya di Kampung Ie Bintah, Kecamatan Manyak Payed, itu seketika menjadi saksi kepanikan kecil yang merambat cepat dari satu meja ke meja lain.
Getaran itu memang singkat tak sampai satu menit. Namun, bagi para pengunjung, waktu terasa melambat. Kursi-kursi bergetar, gelas-gelas kopi berdering pelan di atas meja, dan lantai yang biasanya terasa kokoh mendadak seperti berdenyut.
Andi, 38, yang saat itu tengah menikmati kopi hitamnya, menjadi salah satu yang pertama bereaksi.
Ia tersentak saat kursi yang didudukinya bergoyang.
“Gempa, gempa woi, gempa!” teriaknya, memecah keheningan yang mendadak berubah menjadi riuh.
Seruan itu seperti isyarat. Beberapa pengunjung refleks berdiri, sebagian lainnya menoleh ke sekeliling dengan wajah tegang.
Ada yang berusaha tetap tenang, namun tak sedikit yang langsung meraih ponsel, mencari kepastian di tengah ketidakpastian.
Di sudut warkop, Andi buru-buru membuka gadget-nya. Jari-jarinya bergerak cepat, menelusuri informasi yang berseliweran di mesin pencari. Dalam hitungan detik, jawaban itu muncul.
Gempa tersebut, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berpusat di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, dengan kekuatan 5,6 skala Richter.
Kabar itu menyebar cepat dari layar ke layar, dari mulut ke mulut. Kepanikan yang sempat menguat perlahan mereda, berganti dengan napas lega—meski sebagian pengunjung masih tampak waspada.
Di luar, lalu lintas tetap berjalan seperti biasa. Namun di dalam Dinkopi, pengalaman singkat itu meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan.
Secangkir kopi yang tadi dinikmati santai, kini terasa berbeda—lebih sunyi, seolah menyimpan cerita tentang betapa rapuhnya ketenangan dalam sekejap.
Di Manyak Payed, siang itu, gempa bukan sekadar getaran, namun menjadi pengingat—bahwa di balik rutinitas sederhana, selalu ada kemungkinan tak terduga yang bisa datang kapan saja. (Sutrisno)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda