Breaking News
Memuat breaking news...

Gencatan Senjata Iran-AS Berakhir, Minyak Dekati US$100

Redaksi
Redaksi
Selasa, 18 Agustus 2026 - 9.46 AM WIB
Gencatan Senjata Iran-AS Berakhir, Minyak Dekati US$100
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Berakhirnya gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan ketegangan geopolitik global. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas dan berdampak langsung terhadap pergerakan harga komoditas serta pasar keuangan.

Masa gencatan senjata Iran-AS resmi berakhir pada 17 Agustus 2026. Hingga saat ini, belum terdapat kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata. Bahkan, AS menyatakan tidak akan memperpanjang kesepakatan tersebut.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan berakhirnya gencatan senjata menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan karena meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan energi global.

"Pasar keuangan kembali dihantui ketakutan akan eskalasi perang yang memburuk. Tidak adanya kesepakatan gencatan lanjutan membuat pelaku pasar kembali meningkatkan kewaspadaan," ujar Gunawan, Selasa (18/8).

Kekhawatiran tersebut tercermin dari pergerakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah Brent terpantau naik dan mendekati level US$100 per barel, seiring meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi global. Jika konflik berkembang dan mengganggu distribusi maupun pasokan minyak, harga energi berpotensi kembali melonjak.

Tekanan juga mulai terlihat di pasar saham Asia. Mayoritas bursa saham di kawasan tersebut bergerak melemah pada sesi perdagangan pagi akibat meningkatnya kekhawatiran geopolitik.

Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu dibuka menguat hingga level 6.488. Penguatan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh pergerakan positif sejumlah bursa Asia saat IHSG tidak diperdagangkan pada Senin.

Namun, Gunawan menilai penguatan IHSG pada awal perdagangan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.

"Penguatan IHSG di sesi awal perdagangan cukup signifikan, tetapi tetap rawan terkoreksi hingga penutupan. Sentimen geopolitik dari Timur Tengah berpotensi menjadi tekanan bagi pasar keuangan domestik," katanya.

Selain pasar saham, tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah. Rupiah pada perdagangan pagi melemah ke kisaran Rp17.840 per dolar AS.

Menurut Gunawan, kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban impor energi sekaligus memperbesar tekanan terhadap inflasi.

"Rupiah berpeluang bertahan di zona merah jika pelemahan tidak diimbangi dengan intervensi Bank Indonesia. Apalagi, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi," jelasnya.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga turut memengaruhi pergerakan harga emas dunia. Emas yang sebelumnya menjadi salah satu aset lindung nilai justru mengalami koreksi.

Harga emas dunia tercatat berada di kisaran US$4.404 per troy ounce atau sekitar Rp2,53 juta per gram. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan perdagangan Senin ketika harga emas sempat menguat ke sekitar US$4.428 per troy ounce.

Pergerakan pasar ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik Iran-AS. Jika ketegangan meningkat dan berujung pada gangguan pasokan minyak, tekanan terhadap harga energi, rupiah, IHSG, dan inflasi berpotensi semakin besar.

Sebaliknya, setiap indikasi menuju deeskalasi konflik berpeluang meredakan tekanan di pasar keuangan global. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement