Gubernur Lemhannas Ingatkan Mahasiswa Ancaman Geopolitik Global


BANDA ACEH (Waspada): Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., mengingatkan mahasiswa agar mewaspadai ancaman geopolitik global yang dampaknya kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Konflik antarnegara tidak hanya memengaruhi stabilitas politik dan keamanan dunia, tetapi juga dapat memicu kenaikan harga energi, mengganggu rantai pasok, hingga mengancam ketersediaan pangan.
Peringatan itu disampaikan Ace Hasan saat memberikan kuliah umum bertema “Transformasi Kepemimpinan dan Inovasi Mahasiswa: Mengawal Ketahanan Nasional demi Dampak Nyata bagi Negeri” di Gedung AAC Prof. Dr. Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Selasa (3/11/2026).
Di hadapan sekitar 1.200 mahasiswa, Ace Hasan menjelaskan bahwa dunia tengah menghadapi ketidakpastian akibat dinamika geopolitik, persaingan ekonomi antarnegara, serta pergeseran tatanan kekuatan global.
Ia menyebutkan, terdapat sekitar 128 konflik bersenjata di berbagai belahan dunia yang turut memengaruhi stabilitas energi, ketersediaan pangan, rantai pasok global, persaingan teknologi dan data, hingga arus informasi melalui media sosial.
Menurutnya, tatanan dunia sedang bergeser dari sistem unipolar yang didominasi Amerika Serikat menuju multipolar dengan melibatkan sejumlah kekuatan besar, seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Uni Eropa, dan blok negara berkembang.
“Konflik global bisa memengaruhi meja makan Anda,” ujarnya.
Ace Hasan mencontohkan konflik Israel-Palestina, ketegangan Iran dan Amerika Serikat, serta berbagai konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memicu gejolak harga energi dan mengganggu rantai pasok pangan dunia.
Karena itu, ia mengingatkan mahasiswa bahwa geopolitik bukan lagi persoalan jauh yang hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara. Dampaknya dapat dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari energi, pangan, pendidikan, teknologi, ekonomi digital, hingga keamanan siber.
“Geopolitik sebenarnya sudah berada di sekitar kita. Mulai dari media sosial, energi, data, pendidikan, budaya, kecerdasan buatan, teknologi, pekerjaan, pangan, ekonomi digital hingga keamanan siber,” jelasnya.
Di tengah perubahan tersebut, Ace Hasan menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara yang menerima dampak dinamika global. Indonesia memiliki posisi strategis dalam percaturan dunia karena berada di persilangan dua benua dan dua samudra, memiliki sumber daya alam strategis, serta menjadi salah satu kekuatan pasar utama di kawasan ASEAN.
Indonesia, katanya, juga memiliki potensi untuk memengaruhi perekonomian global melalui sumber daya alam dan pengembangan sektor industri strategis.
Namun, posisi strategis tersebut harus diimbangi dengan kemampuan menguasai teknologi. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi sendiri.
Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga ketahanan nasional. Indonesia harus mampu menciptakan, mengembangkan, menguasai, sekaligus mengamankan teknologi agar tidak terus bergantung pada platform asing.
Selain itu, generasi muda perlu membangun narasi positif tentang bangsa sendiri sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas dan ketahanan nasional.
Ace Hasan berharap, dalam 10 tahun ke depan, USK mampu melahirkan pemimpin masa depan Indonesia yang memiliki kapasitas, integritas, serta wawasan kebangsaan yang kuat.
Ia menekankan mahasiswa harus ditempatkan sebagai subjek transformasi kepemimpinan. Mereka tidak boleh hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi harus menjadi kekuatan utama dalam menghasilkan inovasi dan solusi bagi persoalan bangsa.
Dalam konteks Aceh, Ace Hasan menyebutkan sedikitnya lima sektor unggulan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, yakni ekonomi kelautan dan perikanan, ketahanan pangan, energi baru terbarukan, teknologi kebencanaan dan mitigasi iklim, serta ekonomi kreatif dan digitalisasi UMKM.
Potensi tersebut perlu didukung ekosistem penelitian yang kuat, akses pembiayaan, kemitraan industri, pendampingan usaha, serta tata kelola yang mampu menghubungkan gagasan mahasiswa dengan kebijakan pembangunan.
Dengan dukungan tersebut, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga melahirkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, S.E., menekankan pentingnya penguatan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda, terutama mahasiswa. Menurutnya, lemahnya pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan dapat membuat generasi muda mudah terpengaruh berbagai isu yang berpotensi menggerus nilai dan norma kehidupan bermasyarakat.
Ia menilai kuliah umum tersebut relevan dengan kondisi saat ini dan penting diikuti seluruh kalangan, khususnya generasi muda.
Sebagai bentuk komitmen membangun karakter mahasiswa, USK telah mewajibkan seluruh mahasiswa mengikuti mata kuliah karakter kebangsaan selama satu semester.
Pada kesempatan yang sama, kegiatan tersebut juga menjadi momentum penandatanganan kerja sama antara USK dan Lemhannas RI. Mirza berharap, kerja sama tersebut dapat memberikan manfaat bagi penguatan pendidikan, pengembangan wawasan kebangsaan, serta kemajuan Aceh dan Indonesia.
Kegiatan itu turut dihadiri Sekretaris Utama Lemhannas RI Komjen Pol. Dr. Gatot Tri Suryananta, Deputi Bidang Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Lemhannas RI Mayjen TNI Raden Djaenudin Slamet, S.E., Tenaga Ahli/Pengkaji Lemhannas RI Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan, M.Si., Kepala Badan Kesbangpol Aceh Dr. Munawar A. Djalil, M.A., Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Dedy Tabrani, serta sejumlah pejabat dan civitas akademika lainnya. (id64)
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda