Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Avtur Tembus US$ 206 per Barel, Maskapai Dunia Terancam Pangkas Rute

Redaksi
Redaksi
Senin, 26 Oktober 2026 - 7.10 AM WIB
Harga Avtur Tembus US$ 206 per Barel, Maskapai Dunia Terancam Pangkas Rute
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Industri penerbangan global menghadapi tekanan berat seiring lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang kian tak terkendali. Tembus US$ 206 per barel, harga avtur mencatatkan rekor tertinggi sejak konflik di Iran pecah pada akhir Februari lalu.

Kondisi ini tidak hanya menggerus keuntungan maskapai, tetapi juga memunculkan ancaman pengurangan rute penerbangan hingga kenaikan harga tiket yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Berdasarkan data Argus US Jet Fuel Index, harga avtur mencapai US$ 4,90 per galon atau setara US$ 206 per barel. Sebagai gambaran, satu barel minyak setara dengan 42 galon Amerika Serikat (AS).

Sejak perang pecah, harga avtur telah melonjak hingga 96 persen, atau hampir dua kali lipat dibandingkan harga normal. Para pengamat penerbangan memperkirakan tekanan harga ini masih akan berlanjut hingga tahun depan, terutama jika konflik geopolitik belum mereda.

Dampaknya mulai terasa pada kinerja keuangan industri penerbangan. Empat maskapai raksasa dunia atau the big four kompak memangkas proyeksi laba tahunan mereka akibat membengkaknya biaya bahan bakar.

Pakar manajemen risiko penerbangan dari McGill University, John Gradek, menjelaskan bahwa ketika harga avtur menembus US$ 200 per barel, kenaikan tarif tiket sekalipun tidak lagi cukup untuk mengimbangi lonjakan biaya operasional. Situasi ini menjadi persoalan serius karena maskapai harus menjaga keseimbangan antara pendapatan, biaya operasional, dan keberlanjutan bisnis.

"Para petinggi maskapai terpaksa memangkas sejumlah rute penerbangan demi menjaga margin keuntungan," ungkap Gradek dikutip Forbes, Minggu (25/10/2026).

Tekanan diperkirakan belum mencapai puncaknya. Gradek memprediksi harga avtur dapat menyentuh US$ 225 per barel pada akhir Desember mendatang. Sementara itu, pendiri sekaligus penasihat AirAsia Group, Tan Sri Tony Fernandes, memperkirakan harga avtur dunia berpotensi melonjak hingga US$ 250 per barel.

Ancaman tersebut semakin besar jika konflik di Iran terus berlanjut dan distribusi minyak dunia belum kembali normal, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi global.

"Risiko ke arah sana sangat terbuka lebar jika konflik di Iran tak kunjung usai dan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz belum kembali lancar," tambah Presiden firma riset penerbangan Atmosphere Research Group, Henry Harteveldt.

MINAT TERBANG MULAI TERTEKAN

Di tengah lonjakan biaya operasional, maskapai masih menghadapi tantangan lain, yakni menjaga minat masyarakat untuk bepergian menggunakan pesawat. Saat ini, tarif tiket pesawat telah meningkat sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan tahun lalu.

Meski daya beli penumpang, khususnya dari segmen kelas atas, sejauh ini masih relatif bertahan, kondisi tersebut belum tentu berlangsung lama. Kenaikan harga tiket yang terus berlanjut berpotensi membuat masyarakat mengurangi perjalanan, terutama untuk keperluan liburan.

Analis Third Bridge, Liam Dorsey, menilai kuartal keempat tahun ini akan menjadi periode yang berat bagi industri penerbangan. Tingginya harga avtur dan berkurangnya jumlah penerbangan menjadi tantangan tersendiri bagi maskapai, meskipun pendapatan dari penumpang saat ini masih relatif stabil.

"Kuartal keempat ini bakal jadi periode yang sangat berat bagi operasional maskapai. Harga avtur masih tinggi dan jumlah penerbangan berkurang, meski pemasukan dari penumpang saat ini relatif stabil," jelas analis Third Bridge, Liam Dorsey. Namun, ia mempertanyakan seberapa lama konsumen sanggup menanggung kenaikan harga tersebut.

Kekhawatiran serupa mulai disuarakan para pimpinan maskapai. Mereka menilai lonjakan biaya perjalanan yang berlangsung bersamaan dengan kenaikan biaya hidup dapat mengurangi kemampuan masyarakat untuk bepergian.

"Pada akhirnya, gelombang inflasi ini bakal menggerus daya beli masyarakat," ujar seorang CEO maskapai kepada Financial Times.

Gradek dan Harteveldt juga melihat indikasi bahwa tekanan ekonomi mulai memengaruhi keputusan masyarakat dalam mengalokasikan anggaran perjalanan. Bahkan, kelompok berpenghasilan relatif tinggi mulai mempertimbangkan kembali pengeluaran untuk liburan.

"Semua orang mulai merasakan tekanan ekonomi. Riset kami mencatat kelompok masyarakat berpenghasilan US$ 100.000 hingga US$ 150.000 per tahun pun mulai memangkas anggaran liburan mereka," terang Harteveldt.

Menurut Harteveldt, penumpang dari segmen super-premium memang belum menunjukkan dampak yang berarti. Namun, perubahan perilaku mulai terlihat pada kelompok masyarakat kelas menengah atas atau mass affluent, yang mulai menyesuaikan anggaran perjalanan mereka.

Gradek menambahkan, kenaikan biaya hidup membuat masyarakat semakin sensitif terhadap harga tiket pesawat. Jika tren kenaikan terus berlanjut, bukan tidak mungkin semakin banyak calon penumpang menunda perjalanan atau memilih alternatif transportasi lain.

"Masyarakat kini berpikir dua kali sebelum membeli tiket yang harganya terus melonjak. Kondisi seperti ini jelas tidak bisa bertahan selamanya," pungkasnya.

Lonjakan harga avtur kini menjadi ujian besar bagi industri penerbangan global. Jika konflik geopolitik terus menekan pasokan energi dan harga bahan bakar bertahan di level tinggi, maskapai berpotensi menghadapi tekanan berlapis, mulai dari penyusutan laba dan pengurangan rute hingga melemahnya permintaan perjalanan akibat mahalnya harga tiket. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement