Harga Ayam Terus Merosot, Pengamat Ungkap Biang Kerok Over Supply yang Ancam Peternak


MEDAN (Waspada.id): Harga daging ayam di Sumatera Utara (Sumut) terus mengalami penurunan. Setelah sebelumnya bertahan di atas Rp40.000 per kilogram (kg), harga komoditas pangan ini kini bergerak ke kisaran Rp30.000 per kg. Kondisi tersebut memunculkan persoalan baru bagi peternak, terutama karena biaya produksi justru mengalami kenaikan sepanjang 2026.
Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam di Medan saat ini paling murah berada di kisaran Rp32.000 per kg. Sementara itu, di wilayah Sumatera Utara, harga terendah tercatat sekitar Rp27.000 per kg di Pasar Dwikora, Pematangsiantar.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai penurunan harga daging ayam belakangan ini tidak semata-mata berkaitan dengan melemahnya permintaan masyarakat. Sebaliknya, kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan ayam potong di pasar atau over supply.
"Penurunan harga ayam sebelumnya sempat dikaitkan dengan berhentinya operasional sejumlah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumut, ketika kegiatan belajar di sekolah dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Namun, setelah kegiatan pembelajaran tatap muka kembali berlangsung dan banyak dapur MBG beroperasi, harga daging ayam justru melanjutkan tren penurunan," ujar Gunawan yang juga merupakan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut ini, Rabu (28/10).
Menurut Gunawan, hasil observasi di lapangan menunjukkan permintaan daging ayam dari dapur MBG maupun masyarakat sebenarnya mengalami peningkatan. Permintaan rumah tangga bahkan diperkirakan meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan ketika harga ayam masih bertahan di atas Rp40.000 per kg.
Dengan asumsi permintaan dapur MBG relatif sama, kenaikan konsumsi masyarakat seharusnya turut menopang harga. Akan tetapi, harga ayam tetap melemah karena pasokan yang tersedia di pasar diduga meningkat lebih besar dibandingkan pertumbuhan permintaannya.
Biaya Produksi Naik, Harga Jual Justru Turun
Tekanan terhadap peternak semakin besar karena biaya produksi tidak ikut turun. Gunawan mengungkapkan, harga pakan ternak mengalami kenaikan lebih dari Rp1.000 per kg sepanjang 2026.
Kenaikan harga pakan tersebut mendorong peningkatan harga pokok produksi (HPP) ayam potong. Di sisi lain, harga jual ayam di tingkat konsumen justru terus merosot.
Harga ayam di tingkat kandang bahkan disebut berada di kisaran Rp18.000 per kg pada level terendah. Kondisi ini membuat peternak menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan biaya input dan penurunan harga jual.
"Jika berlangsung berkepanjangan, situasi tersebut berisiko menggerus margin keuntungan peternak, bahkan memicu kerugian, terutama bagi pelaku usaha yang memiliki biaya produksi relatif tinggi," ujarnya.
Pasokan Ayam Melimpah Diduga Berasal dari Siklus Produksi
Gunawan menjelaskan, terdapat indikasi bahwa melimpahnya pasokan ayam potong saat ini berkaitan dengan siklus produksi industri perunggasan yang telah terbentuk sejak tahun sebelumnya.
Berdasarkan observasi lapangan, terdapat pasokan Day Old Chick (DOC) untuk Grand Parent Stock (GPS) pada Juni 2025. GPS selanjutnya menghasilkan Parent Stock (PS), yang kemudian memproduksi indukan untuk menghasilkan ayam siap potong atau final stock (FS).
"Rangkaian proses tersebut membutuhkan waktu panjang. Periode dari DOC GPS hingga menghasilkan ayam siap potong diperkirakan mencapai sekitar 1,5 tahun. Dengan demikian, pasokan ayam potong yang mulai memasuki masa panen saat ini diduga merupakan dampak dari ketersediaan GPS yang disiapkan pada 2025," ujarnya.
Artinya, penurunan harga ayam tidak bisa hanya dilihat dari sisi permintaan jangka pendek. Perencanaan produksi dan ketersediaan bibit dalam rantai industri perunggasan juga berperan penting dalam menentukan keseimbangan pasokan di pasar.
Ketika produksi meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan konsumsi, kelebihan pasokan berpotensi menekan harga jual, meskipun permintaan masyarakat dan dapur MBG masih menunjukkan peningkatan.
Peternak Berpotensi Pangkas Produksi
Gunawan mengingatkan, jika kondisi kelebihan pasokan terus berlangsung dan peternak mengalami kerugian, pelaku usaha berpotensi mengambil langkah penyesuaian produksi.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memangkas jumlah DOC pada lini final stock untuk mengurangi produksi ayam siap potong pada periode berikutnya.
Apabila tekanan biaya operasional terus meningkat, penyesuaian juga berpotensi merambat ke tingkat yang lebih hulu, yakni pengurangan jumlah GPS.
Langkah tersebut dapat memengaruhi ketersediaan ayam potong pada periode mendatang. Jika pengurangan produksi dilakukan secara luas, pasokan berpotensi kembali mengetat sehingga memengaruhi pergerakan harga di pasar.
"Karena itu, persoalan kelebihan pasokan saat ini perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi siklus produksi yang terlalu tinggi pada satu periode, kemudian diikuti pengurangan produksi secara berlebihan pada periode berikutnya," katanya.
Pemerintah dan Peternak Perlu Hitung Harga Keekonomian
Menurut Gunawan, kondisi tersebut pada akhirnya membutuhkan pembahasan antara pemerintah dan pelaku usaha peternakan untuk menghitung harga keekonomian ayam potong.
Perhitungan itu perlu mempertimbangkan biaya produksi aktual, termasuk kenaikan harga pakan, sekaligus memperhitungkan keseimbangan antara kapasitas produksi dan kebutuhan pasar.
Selain itu, pembenahan rantai pasok menjadi bagian penting untuk memastikan distribusi ayam potong berjalan lebih seimbang. Ketersediaan data produksi, proyeksi permintaan, dan kebutuhan pasar dapat menjadi dasar dalam menyusun perencanaan produksi yang lebih terukur.
Dengan langkah tersebut, pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat mengurangi risiko kelebihan pasokan yang menekan harga secara berlebihan, sekaligus mencegah harga jual yang terlalu rendah hingga merugikan peternak.
Di sisi lain, harga yang terbentuk juga perlu tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat. Sebab, harga ayam yang lebih terjangkau memberikan manfaat bagi konsumen, tetapi penurunan yang tidak sebanding dengan biaya produksi dapat mengancam keberlanjutan usaha peternakan.
Dengan demikian, tantangan utama industri ayam potong saat ini bukan sekadar mendorong kenaikan atau menahan penurunan harga, melainkan menciptakan keseimbangan antara pasokan, permintaan, biaya produksi, dan keberlangsungan usaha peternak. (id09)
Berita Terkait









































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda