Harga CPO Anjlok, Pasar China Dan Lonjakan Stok Jadi BebanHarga CPO Anjlok, Pasar China Dan Lonjakan Stok Jadi Beban

JAKARTA (Waspada.id): Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali tertekan pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Pelemahan harga dipicu kombinasi sentimen negatif dari pasar minyak nabati China serta meningkatnya stok minyak sawit Malaysia.
Berdasarkan data penutupan Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka CPO Mei 2026 turun 44 Ringgit Malaysia menjadi 4.451 Ringgit Malaysia per ton. Pelemahan juga terjadi pada kontrak Juni 2026 yang merosot 34 Ringgit Malaysia ke level 4.450 Ringgit Malaysia per ton.
Tekanan berlanjut pada kontrak Juli 2026 yang terkoreksi 35 Ringgit Malaysia menjadi 4.481 Ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak Agustus 2026 turun 28 Ringgit Malaysia menjadi 4.504 Ringgit Malaysia per ton.
Untuk kontrak September 2026, harga melemah 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.515 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan kontrak Oktober 2026 turun 23 Ringgit Malaysia menjadi 4.525 Ringgit Malaysia per ton.
Dikutip dari Tradingview, harga CPO berbalik melemah setelah sempat menguat pada sesi sebelumnya. Tekanan utama datang dari pasar minyak nabati China, terutama kontrak palm olein di Dalian yang mengalami aksi jual sepanjang perdagangan Asia.
“Pasar terbebani tekanan jual pada kontrak palm olein Dalian selama sesi perdagangan Asia,” ujar seorang trader berbasis di Kuala Lumpur.
Di pasar China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat naik 0,16%, sedangkan kontrak minyak sawit justru turun 1,35%. Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat 0,81%.
Pergerakan harga minyak sawit memang cenderung mengikuti dinamika minyak nabati global karena bersaing langsung di pasar internasional.
Meski demikian, lonjakan harga minyak mentah dunia sempat menjadi penahan penurunan CPO. Harga minyak naik setelah harapan tercapainya kesepakatan damai terkait konflik AS-Iran mulai memudar. Kenaikan harga energi tersebut membuat CPO kembali menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Namun, sentimen positif itu belum cukup kuat mengangkat harga karena pasar masih dibayangi kenaikan stok minyak sawit Malaysia pada April 2026. Kenaikan ini menjadi yang pertama dalam empat bulan terakhir.
Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan peningkatan stok terjadi akibat melemahnya ekspor di tengah lonjakan produksi dan naiknya impor sawit.
Di sisi lain, data ekspor masih menunjukkan perbedaan proyeksi. Survei Intertek Testing Services memperkirakan ekspor produk sawit Malaysia pada periode 1-10 Mei naik 8,5% dibanding bulan sebelumnya.
Namun, lembaga survei independen AmSpec Agri Malaysia justru memperkirakan ekspor turun 10,8% pada periode yang sama.
Sementara itu, pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia sebesar 0,31% terhadap dolar AS membuat harga CPO relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. (invid)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda