Harga CPO Berpeluang Tembus Rp5.000 RinggitHarga CPO Berpeluang Tembus Rp5.000 Ringgit

MEDAN (Waspada.id): Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih memiliki peluang melanjutkan tren penguatan hingga akhir 2026. Sejumlah katalis, mulai dari meningkatnya permintaan, ancaman El Nino hingga implementasi kebijakan biodiesel B50, berpotensi menopang harga komoditas strategis tersebut.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memberikan sentimen positif terhadap sejumlah komoditas energi dan perkebunan, termasuk CPO.
Saat ini, harga CPO diperdagangkan di kisaran 4.754 ringgit per ton. Menurut Gunawan, level tersebut masih berpotensi bergerak lebih tinggi dan bahkan menembus level psikologis 5.000 ringgit per ton.
“Petani sawit berpeluang mendapatkan keuntungan ke depan di tengah kemungkinan kenaikan harga CPO dunia. Saya melihat harga CPO berpeluang untuk menembus level psikologis 5.000 di tahun ini,” ujar Gunawan, Rabu (19/8).
Menurutnya, salah satu faktor penting yang dapat mendorong harga CPO adalah peningkatan permintaan produk turunan minyak sawit, khususnya menjelang perayaan Deepawali di India pada November mendatang.
Permintaan minyak sawit diperkirakan meningkat cukup signifikan menjelang periode tersebut. Bahkan, konsumsi minyak sawit domestik India berpeluang mengalami peningkatan hingga sekitar 8 persen dibandingkan konsumsi normal.
“Kalau berbicara demand, perayaan Deepawali berpeluang mendongkrak peningkatan permintaan minyak sawit domestik India. Ini menjadi salah satu katalis positif bagi harga CPO,” katanya.
Selain faktor permintaan, ancaman El Nino juga menjadi perhatian pasar. Kondisi cuaca yang lebih kering dan musim kemarau yang lebih panjang berpotensi mengganggu produktivitas perkebunan kelapa sawit.
Gunawan mengatakan, dari hasil observasinya, sejumlah produsen minyak kelapa sawit memperkirakan musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, produksi CPO berpotensi mengalami tekanan. Situasi ini pada akhirnya dapat memperketat pasokan dan memberikan dorongan tambahan terhadap harga.
“Tren bullish harga CPO berpeluang berlanjut hingga tutup tahun 2026. Ancaman El Nino, peningkatan demand dan kebijakan penggunaan B50 menjadi katalis utama peningkatan harga CPO,” jelasnya.
Kebijakan B50, lanjut Gunawan, juga menjadi faktor penting karena meningkatkan kebutuhan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel. Bertambahnya kebutuhan domestik dapat mengurangi ruang ekspor dan berpotensi menjaga harga CPO tetap tinggi.
Meski demikian, terdapat satu faktor yang berpotensi menahan laju kenaikan harga, yakni meningkatnya stok minyak sawit di Malaysia.
Dalam waktu dekat, pasokan CPO Malaysia diperkirakan mengalami peningkatan. Namun, Gunawan menilai tambahan pasokan tersebut belum tentu mampu memberikan tekanan harga dalam jangka panjang.
“Satu-satunya kemungkinan yang bisa menekan harga minyak kelapa sawit adalah potensi peningkatan stok di Malaysia. Tetapi kenaikan supply tersebut diproyeksikan tidak akan mampu bertahan lama,” ujarnya.
Di sisi lain, kenaikan harga CPO belum tentu sepenuhnya meningkatkan kesejahteraan petani sawit. Pasalnya, petani juga menghadapi kenaikan biaya input produksi.
Kenaikan biaya pupuk, perawatan tanaman, tenaga kerja dan kebutuhan produksi lainnya berpotensi menggerus tambahan pendapatan yang diperoleh petani ketika harga TBS maupun CPO meningkat.
“Petani sawit juga tengah menghadapi tantangan dari kenaikan biaya input produksi. Kondisi ini berpeluang membuat kenaikan harga sawit tidak optimal dalam memperbaiki daya beli petani,” pungkas Gunawan.
Dengan demikian, meski prospek CPO masih bullish, peningkatan harga komoditas tersebut tetap perlu dilihat bersamaan dengan perkembangan biaya produksi, sehingga dampaknya terhadap kesejahteraan petani dapat terlihat secara lebih utuh. (id09)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda