Breaking News
Memuat breaking news...

Harga CPO Bertahan Di Level 4.500 Ringgit, Ditopang Sentimen Positif

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 30 Mei 2026 - 7.51 AM WIB
Harga CPO Bertahan Di Level 4.500 Ringgit, Ditopang Sentimen Positif
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) masih bertahan di kisaran 4.500 Ringgit Malaysia per ton pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026).

Pergerakan harga yang relatif solid tersebut ditopang oleh penguatan harga minyak nabati di Bursa Dalian, China, serta kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan produksi sawit Malaysia.

Berdasarkan data BMD, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juni 2026 ditutup menguat 8 Ringgit Malaysia menjadi 4.470 Ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak Juli 2026 terkoreksi tipis 2 Ringgit Malaysia menjadi 4.503 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk kontrak Agustus 2026, harga turun 2 Ringgit Malaysia menjadi 4.535 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan kontrak September 2026 berhasil mencatat kenaikan tipis 1 Ringgit Malaysia ke level 4.561 Ringgit Malaysia per ton.

Penguatan lebih lanjut terjadi pada kontrak Oktober dan November 2026. Kontrak Oktober naik 5 Ringgit Malaysia menjadi 4.590 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak November menguat 9 Ringgit Malaysia menjadi 4.620 Ringgit Malaysia per ton.

Selain faktor pasokan dan pergerakan minyak nabati global, sentimen positif juga datang dari Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Berdasarkan laporan TradingView, pemerintah Indonesia berencana menyalurkan ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk minyak sawit, melalui perusahaan perdagangan milik negara mulai September 2026.

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi mengubah pola perdagangan global minyak sawit dan mendorong sebagian permintaan beralih ke Malaysia. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menopang optimisme pelaku pasar terhadap harga CPO dalam jangka pendek.

Meski demikian, pasar masih menghadapi sejumlah tantangan. Kontrak CPO berpotensi mencatat penurunan bulanan untuk kedua kalinya secara berturut-turut akibat melemahnya kinerja ekspor Malaysia dalam beberapa pekan terakhir.

Data perusahaan survei kargo menunjukkan ekspor CPO Malaysia sepanjang periode 1-25 Mei turun antara 14,5 persen hingga 18 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi setelah berakhirnya periode peningkatan permintaan musiman yang biasanya muncul menjelang dan selama perayaan hari besar keagamaan.

Dari sisi permintaan global, pasar juga masih mencermati perkembangan di India yang merupakan importir minyak sawit terbesar dunia. Impor minyak sawit India pada April tercatat anjlok 26 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak mentah dunia turut menjadi perhatian. Harga minyak global diperkirakan membukukan penurunan bulanan yang cukup signifikan setelah muncul laporan mengenai kemungkinan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah berpotensi menekan harga energi dunia. Kondisi tersebut dapat membatasi ruang penguatan harga minyak nabati, termasuk CPO, mengingat harga minyak sawit memiliki korelasi yang cukup kuat dengan pergerakan harga energi global.

Meski dibayangi berbagai sentimen negatif dari sisi ekspor dan permintaan, harga CPO sejauh ini masih mampu bertahan di level psikologis 4.500 Ringgit Malaysia per ton berkat dukungan faktor pasokan dan sentimen positif dari Indonesia. Kondisi ini membuat pelaku pasar tetap mencermati perkembangan produksi, ekspor, serta kebijakan perdagangan kedua negara produsen sawit terbesar dunia tersebut. (invid)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement