Breaking News
Memuat breaking news...

Harga CPO Diproyeksi Kembali Menguat Hingga Akhir Tahun

Redaksi
Redaksi
Rabu, 7 Oktober 2026 - 2.58 PM WIB
Harga CPO Diproyeksi Kembali Menguat Hingga Akhir Tahun
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diproyeksikan kembali menguat hingga akhir tahun 2026. Tekanan jual yang sempat menahan pergerakan harga CPO mulai melemah setelah komoditas tersebut sebelumnya mendekati level 4.500 ringgit per ton.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, harga CPO saat ini berada di kisaran 4.560 ringgit per ton. Pergerakan tersebut turut ditopang oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah berada di atas US$100 per barel serta penguatan harga sejumlah komoditas minyak nabati pesaing, termasuk minyak kedelai.

Menurutnya, permintaan dari sejumlah negara, khususnya India, akan menjadi salah satu motor penggerak harga CPO dalam jangka pendek. Momentum konsumsi pada akhir tahun juga berpotensi memberikan tambahan dorongan terhadap harga.

"Dalam 3 bulan yang akan datang setidaknya ada beberapa momen besar yang akan turut mendongkrak kenaikan harga CPO. Pertama ada perayaan Deepawali pada 8 November serta perayaan Natal dan Tahun Baru," kata Gunawan, Rabu (7/10).

Selain faktor permintaan, Gunawan melihat potensi penurunan produksi CPO di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Data yang dihimpun menunjukkan produksi minyak sawit mulai mengalami penurunan setelah Juli.

Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi tekanan dari sisi pasokan. Terlebih, harga CPO juga berpotensi mendapatkan dukungan dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang dapat mendorong kenaikan harga berbagai komoditas pangan dan energi.

"Belum lagi demand atau permintaan untuk kebutuan bio diesel. Jadi secara fundamental harga CPO masih ditopang oleh sejumlah kabar positif yang bisa mendorong kenaikan harga dalam jangka pendek," ujarnya.

Gunawan menjelaskan, tekanan terhadap harga CPO dalam satu bulan terakhir lebih banyak dipengaruhi peningkatan pasokan CPO dari Malaysia. Namun, kondisi tersebut diperkirakan tidak berlangsung lama apabila tingkat persediaan mulai menurun dalam beberapa bulan mendatang.

Ia merujuk pada pola produksi historis sebagai salah satu indikator. Berdasarkan sampel perusahaan produsen CPO, produksi pada kuartal IV 2025 tercatat turun 20,8 persen dibandingkan kuartal III 2025.

"Artinya ada potensi penurunan yang sama yang bisa saja terjadi berulang di tahun ini," jelasnya.

Dengan berbagai faktor tersebut, Gunawan masih mempertahankan proyeksi bullish terhadap harga CPO hingga tutup tahun. Secara teknikal, harga CPO dinilai memiliki peluang untuk kembali menguji level psikologis 5.000 ringgit per ton.

"Sehingga saya tetap mempertahankan proyeksi kenaikan harga CPO hingga tutup tahun. Dimana harga CPO secara teknikal akan mampu mengulangi capaian kenaikan harga yang terealisasi pada 21 Agustus kemarin di atas level 5.000 ringgit per tonnya," pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement