Breaking News
Memuat breaking news...

Harga CPO Melemah, Impor India Anjlok Ke Level Terendah Dalam 14 Bulan

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 4 Juli 2026 - 8.25 AM WIB
Harga CPO Melemah, Impor India Anjlok Ke Level Terendah Dalam 14 Bulan
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kembali melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Jumat (3/7/2026). Penurunan ini sekaligus menandai pelemahan harga selama dua pekan berturut-turut, dipicu penguatan nilai tukar ringgit Malaysia serta melemahnya harga minyak nabati di Bursa Dalian, China.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives (BMD), kontrak berjangka CPO Juli 2026 turun 6 Ringgit Malaysia menjadi 4.439 Ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak Agustus 2026 terkoreksi 20 Ringgit Malaysia ke level 4.458 Ringgit Malaysia per ton.

Pelemahan juga terjadi pada kontrak September 2026 yang turun 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.480 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 melemah 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.505 Ringgit Malaysia per ton, diikuti kontrak November 2026 yang turun 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.533 Ringgit Malaysia per ton, serta kontrak Desember 2026 yang terkoreksi 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.559 Ringgit Malaysia per ton.

Selain tekanan dari penguatan ringgit, aktivitas perdagangan juga cenderung sepi karena pasar Chicago tutup memperingati Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Pelaku pasar pun memilih bersikap hati-hati menjelang rilis data pasokan dan permintaan minyak nabati yang dijadwalkan keluar pada pekan depan.

Secara mingguan, harga CPO diperkirakan turun sekitar 1,5 persen, memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung selama dua pekan.

Tekanan terbesar datang dari India sebagai importir minyak sawit terbesar di dunia. Impor minyak sawit negara tersebut pada Juni 2026 tercatat turun ke level terendah dalam 14 bulan terakhir. Penurunan dipicu melemahnya permintaan domestik serta menyempitnya selisih harga CPO dengan minyak nabati pesaing, sehingga mengurangi minat pembelian.

Di tengah tekanan tersebut, harga CPO masih mendapat penopang dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang meningkatkan daya saing biodiesel berbasis sawit. Selain itu, permintaan ekspor juga menunjukkan perbaikan.

Data perusahaan survei kargo mencatat ekspor minyak sawit Malaysia selama periode 1–25 Juni meningkat sekitar 10,6 hingga 11,1 persen dibandingkan periode yang sama pada Mei.

Sentimen positif juga datang dari Indonesia. Pemberlakuan mandatori biodiesel B50 yang resmi dimulai pada 1 Juli 2026 diperkirakan akan meningkatkan konsumsi minyak sawit domestik. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menopang permintaan global dalam jangka menengah.

Meski masih dibayangi lemahnya permintaan dari India, pelaku pasar tetap mencermati peningkatan konsumsi dari sektor biodiesel dan membaiknya kinerja ekspor sebagai faktor yang berpotensi menopang harga CPO pada periode mendatang. (invid)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement