Harga CPO Melemah, Pasar Tunggu Kejelasan Implementasi Program B50 RI

JAKARTA (Waspada.id): Harga kontrak berjangka Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Pelaku pasar masih menunggu kejelasan mengenai alokasi program biodiesel B50 di Indonesia yang dinilai akan menentukan besarnya tambahan permintaan minyak sawit.
Berdasarkan data BMD, kontrak berjangka CPO Juli 2026 turun 21 Ringgit Malaysia menjadi 4.482 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Agustus 2026 melemah 16 Ringgit Malaysia menjadi 4.556 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak September 2026 terkoreksi 15 Ringgit Malaysia menjadi 4.594 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 turun 10 Ringgit Malaysia menjadi 4.627 Ringgit Malaysia per ton.
Pelemahan juga terjadi pada kontrak November 2026 yang turun 9 Ringgit Malaysia menjadi 4.659 Ringgit Malaysia per ton. Adapun kontrak Desember 2026 melemah 5 Ringgit Malaysia menjadi 4.689 Ringgit Malaysia per ton.
Mengutip Reuters, Head of Commodity Research Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan pasar masih menantikan rincian pelaksanaan program biodiesel B50 di Indonesia, terutama terkait alokasi bagi peserta bersubsidi dan non-subsidi.
"Pelaku pasar masih menunggu rincian alokasi untuk peserta bersubsidi maupun non-subsidi serta total volume yang akan dialokasikan. Faktor-faktor tersebut sangat menentukan tambahan permintaan minyak sawit dari program B50," ujar Bagani.
Meski demikian, penurunan harga CPO tertahan oleh kembali menguatnya harga energi dunia seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, permintaan minyak sawit dari India dan China juga dilaporkan meningkat sepanjang pekan ini.
Harga minyak mentah sebelumnya sempat melonjak ke level tertinggi sejak 22 Juni setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. Kenaikan harga minyak mentah umumnya meningkatkan daya saing minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel sehingga mampu menopang harga CPO.
Di pasar minyak nabati lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian, China, turun tipis 0,01 persen, sedangkan kontrak minyak sawit naik 0,11 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBoT) menguat 0,23 persen.
Pergerakan harga minyak sawit umumnya mengikuti tren minyak nabati pesaingnya karena sama-sama bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global. Sementara itu, nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat terpantau relatif stabil sepanjang perdagangan Kamis. (invid)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda