Breaking News
Memuat breaking news...

Harga CPO Menguat Dua Hari Beruntun, Ditopang Ekspor Dan Program B50

Redaksi
Redaksi
Selasa, 30 Juni 2026 - 7.44 AM WIB
Harga CPO Menguat Dua Hari Beruntun, Ditopang Ekspor Dan Program B50
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kembali menguat pada perdagangan Senin (29/6/2026), menandai kenaikan selama dua hari berturut-turut. Lonjakan ekspor Malaysia sepanjang Juni serta dimulainya program biodiesel B50 di Indonesia menjadi faktor utama yang mendorong optimisme pasar.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives (BMD), seluruh kontrak berjangka CPO ditutup di zona hijau. Kontrak Juli 2026 naik 19 Ringgit Malaysia menjadi 4.523 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Agustus 2026 menguat dengan besaran yang sama menjadi 4.558 Ringgit Malaysia per ton.

Penguatan juga terjadi pada kontrak September 2026 yang naik 20 Ringgit Malaysia menjadi 4.588 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 bertambah 21 Ringgit Malaysia menjadi 4.612 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak November dan Desember 2026 masing-masing naik 22 Ringgit Malaysia menjadi 4.633 Ringgit Malaysia dan 4.653 Ringgit Malaysia per ton.

Pelaku pasar menilai kombinasi kuatnya permintaan ekspor dan meningkatnya konsumsi domestik Indonesia akan menjaga keseimbangan pasar minyak sawit global dalam beberapa bulan ke depan.

Dikutip dari TradingView, Direktur Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengatakan peningkatan ekspor Malaysia menjadi pendorong utama kenaikan harga pada Juni. Sentimen positif juga datang dari implementasi mandatori biodiesel B50 di Indonesia.

"Ekspor yang kuat sepanjang Juni memberikan dukungan terhadap harga, sementara kebijakan mandatori B50 di Indonesia menjadi katalis tambahan bagi pasar," ujarnya.

Mulai 1 Juli 2026, Indonesia resmi menerapkan program biodiesel B50 yang mencampurkan 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit dengan 50 persen solar. Kebijakan tersebut diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik CPO dan mengurangi volume yang tersedia untuk pasar ekspor.

Data perusahaan survei kargo menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-25 Juni meningkat antara 10,6 persen hingga 11,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap tingginya permintaan global.

Pelaku pasar kini menantikan data ekspor penuh Malaysia sepanjang Juni yang dijadwalkan dirilis pada Selasa, sebagai petunjuk arah pergerakan harga berikutnya.

Produksi Mulai Pulih

Dari sisi pasokan, produksi CPO di Semenanjung Malaysia mulai menunjukkan pemulihan yang lebih baik dari perkiraan. Namun, produksi di wilayah Malaysia Timur masih relatif lemah.

Supramaniam mengatakan kondisi cuaca yang mendukung diperkirakan akan membantu peningkatan produksi hingga kuartal III 2026. Meski demikian, pergerakan harga diperkirakan masih terbatas sambil menunggu laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang akan dirilis pada 10 Juli mendatang.

Selain ditopang faktor fundamental pasar sawit, kenaikan harga CPO juga mengikuti tren positif minyak nabati global. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai naik 0,65 persen dan kontrak minyak sawit menguat 1,26 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) naik 0,49 persen.

Harga minyak mentah dunia yang masih bertahan pada level tinggi turut memberikan dukungan tambahan bagi pasar CPO. Meski kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran meredakan sebagian kekhawatiran pasar, risiko gangguan pasokan energi global masih menjadi perhatian.

Kondisi tersebut membuat minyak sawit semakin kompetitif sebagai bahan baku biodiesel, sehingga memperkuat prospek permintaan dan menjaga tren positif harga CPO dalam jangka pendek. (invid)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement