Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Daging Ayam Melonjak, Mulai Resahkan Masyarakat

Redaksi
Redaksi
Selasa, 11 Agustus 2026 - 6.25 PM WIB
Harga Daging Ayam Melonjak, Mulai Resahkan Masyarakat
Foto ilustrasi daging ayam
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Harga daging ayam ras di sejumlah daerah mengalami kenaikan signifikan. Kondisi ini mulai meresahkan masyarakat karena harga ayam kini berada jauh di atas level harga saat periode libur sekolah.

Mengacu pada Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam secara nasional telah berada di kisaran lebih dari Rp40 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut dinilai cukup fantastis, terutama setelah berakhirnya masa libur sekolah yang diikuti dengan meningkatnya permintaan.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, lonjakan permintaan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga daging ayam. Permintaan meningkat seiring dengan kebutuhan pemenuhan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Sebagai gambaran, harga daging ayam di salah satu pasar tradisional di Deli Serdang sempat berada di kisaran Rp28 ribu per kilogram saat libur sekolah. Namun, saat ini harga komoditas tersebut telah mencapai sekitar Rp39 ribu per kilogram di pasar yang sama.

"Seakan memicu kekhawatiran para ibu rumah tangga bahwa harga daging ayam akan konsisten bertahan mahal untuk waktu yang lama," ujar Gunawan, Selasa (11/8).

Menurutnya, langkah utama yang perlu dilakukan untuk mengendalikan harga adalah meningkatkan pasokan ayam hidup. Pasalnya, kenaikan harga saat ini lebih dominan dipicu oleh lonjakan permintaan, selain adanya kenaikan harga bahan baku pakan.

Untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan, kata Gunawan, pemerintah dan pelaku usaha perlu memperkuat ketersediaan bibit ayam, salah satunya melalui penambahan Grand Parent Stock (GPS).

GPS merupakan bibit dasar dalam rantai pembibitan ayam. Dari GPS kemudian dihasilkan Parent Stock (PS) yang berfungsi sebagai indukan untuk menghasilkan Final Stock (FS) atau ayam yang nantinya dibesarkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

"Memang untuk mengentaskan masalah pasokan perlu perencanaan indukan sebagai tahap awal. Indukan tersebut merupakan ayam hasil rekayasa genetika yang umumnya dibeli dengan cara diimpor," jelasnya.

Namun, penambahan pasokan tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan waktu untuk memastikan bibit berkembang hingga menghasilkan jumlah ayam hidup yang cukup untuk memenuhi tingginya permintaan di pasar.

Gunawan menyebut pemerintah telah melakukan penambahan GPS dan langkah tersebut diproyeksikan memberikan dampak terhadap peningkatan pasokan ayam secara signifikan mulai 2027.

Menurutnya, tanpa penambahan GPS, peternak sebenarnya dapat mengambil langkah dengan menetaskan lebih banyak bibit untuk langsung dijadikan FS. Namun, strategi tersebut memiliki risiko terhadap kualitas dan kesehatan ayam.

"Namun hal ini ada risikonya. Karena seleksinya tidak ketat, maka FS akan gampang terserang penyakit dan berpotensi memicu wabah penyakit serta merugikan peternak," katanya.

Dengan demikian, Gunawan menilai kenaikan harga daging ayam saat ini masih memiliki peluang untuk kembali turun. Namun, besarnya penurunan akan sangat bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari ketersediaan ayam hidup, harga pakan, nilai tukar rupiah, konsistensi permintaan hingga biaya input produksi secara keseluruhan.

"Jadi kenaikan harga ayam saat ini berpeluang untuk kembali turun nantinya. Penurunan akan sangat tergantung dari jumlah pasokan ayam hidup, harga pakan, kurs mata uang, konsistensi demand dan biaya input produksi secara keseluruhan," ujarnya.

Menurut Gunawan, pola pengendalian pasokan yang sama juga dapat diterapkan untuk meredam kenaikan harga telur ayam. Sebab, kedua komoditas tersebut memiliki rantai produksi yang membutuhkan perencanaan pasokan dalam jangka panjang.

"Pada dasarnya perencanaan supply untuk dua komoditas ini butuh perencanaan yang panjang," ungkapnya.

Dengan mempertimbangkan realisasi impor GPS dan perkembangan pasokan ke depan, Gunawan memproyeksikan harga daging ayam berpotensi kembali lebih rendah.

"Jika mengacu kepada realisasi impor GPS, saya memproyeksikan harga daging ayam nantinya bisa ditekan dalam rentang Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram dalam kurun waktu enam bulan mendatang," pungkas Gunawan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement