Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Berpotensi Berbalik Arah, Rupiah dan IHSG Masih Tertekan

Redaksi
Redaksi
Selasa, 13 Oktober 2026 - 10.04 AM WIB
Harga Emas Berpotensi Berbalik Arah, Rupiah dan IHSG Masih Tertekan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Gejolak pasar keuangan global kembali membayangi perdagangan domestik. Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga US$105,9 per barel di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran pelaku pasar, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai eskalasi konflik yang melibatkan sejumlah pihak di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk sentimen pasar keuangan. Serangan yang menyasar Arab Saudi mempertegas bahwa konflik tidak lagi terbatas pada ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

“Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga US$105,9 per barel menjadi perhatian serius pelaku pasar. Terlebih, konflik di Timur Tengah semakin meluas dan melibatkan lebih banyak pihak. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar keuangan,” ujar Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, Selasa (13/10).

Tekanan terhadap pasar juga terlihat dari penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index yang bergerak ke kisaran 102,6 pada perdagangan pagi. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun relatif bertahan di kisaran 5,23%, meskipun sebelumnya sempat melonjak di atas 5,36%.

Kombinasi penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS tersebut menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Rupiah Berpotensi Mendekati Rp17.990 per Dolar AS

Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah ke level Rp17.940 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang domestik diperkirakan masih berlanjut seiring tingginya ketidakpastian global.

Gunawan menilai peluang rupiah bergerak mendekati Rp17.990 per dolar AS masih terbuka apabila tekanan eksternal terus meningkat.

Kenaikan harga minyak juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan beban impor energi dan menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi, terutama apabila berlangsung dalam waktu yang panjang.

Di sisi lain, penguatan dolar AS berpotensi membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang. Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah masih rentan terhadap perubahan sentimen global.

“Penguatan dolar AS yang bergerak ke kisaran 102,6, ditambah tingginya imbal hasil US Treasury, membuat rupiah masih rentan mengalami pelemahan. Jika tekanan eksternal berlanjut, peluang rupiah mendekati level Rp17.990 per dolar AS masih terbuka,” katanya.

IHSG Terancam Terkoreksi Lebih Dalam

Tekanan serupa juga terlihat di pasar saham domestik. IHSG dibuka melemah ke level 5.914 pada perdagangan pagi.

Pelaku pasar turut mencermati perkembangan informasi terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang dirumorkan akan memberikan sanksi terhadap sejumlah emiten di Indonesia.

Ketidakpastian mengenai perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi keputusan investasi, terutama jika memicu kekhawatiran terhadap prospek saham-saham domestik.

IHSG pun dinilai rentan mengalami koreksi lebih dalam apabila menembus level psikologis 5.900. Karena itu, perkembangan sentimen global dan kabar terkait MSCI menjadi faktor penting yang akan menentukan arah perdagangan saham selanjutnya.

“Untuk IHSG, pelaku pasar perlu mencermati level psikologis 5.900. Apabila indeks menembus level tersebut, risiko koreksi lebih dalam perlu diwaspadai. Selain sentimen global, perkembangan informasi terkait MSCI juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keputusan investor,” jelasnya.

Tekanan yang terjadi secara bersamaan di pasar valuta asing dan saham menunjukkan bahwa investor masih menghadapi kombinasi risiko eksternal dan ketidakpastian dari dalam negeri.

Harga Emas Turun, Peluang Pembalikan Arah Tetap Terbuka

Di tengah tekanan pasar keuangan, harga emas dunia juga mengalami pelemahan. Emas diperdagangkan di kisaran US$4.168 per ons troi, dengan nilai setara sekitar Rp2,4 juta per gram berdasarkan estimasi yang disampaikan dalam analisis pasar.

Meski kerap dianggap sebagai aset lindung nilai atau safe haven, harga emas tidak selalu menguat ketika ketegangan geopolitik meningkat. Pergerakannya juga dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi kebijakan suku bunga.

Gunawan melihat masih terdapat sejumlah sentimen fundamental yang berpotensi menekan harga emas lebih lanjut. Namun, dari sisi teknikal, peluang pembalikan arah tetap terbuka setelah harga mengalami tekanan jual.

Tekanan jual yang berlebihan bahkan dapat memicu koreksi pada dolar AS dalam kondisi tertentu, terutama apabila pelaku pasar mulai melakukan penyesuaian posisi investasinya.

Dengan demikian, arah pergerakan emas ke depan akan sangat bergantung pada keseimbangan antara tekanan dari penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi dengan permintaan terhadap aset lindung nilai.

Secara keseluruhan, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, penguatan dolar AS, serta dinamika pasar saham domestik. Selama ketidakpastian global masih tinggi, rupiah dan IHSG berpotensi menghadapi tekanan lanjutan, sementara pergerakan emas tetap berpeluang berubah mengikuti perkembangan sentimen pasar. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement