Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Dalam Tekanan Jual, Potensi Koreksinya Menjadi Terbatas

Redaksi
Redaksi
Minggu, 2 Agustus 2026 - 3.26 PM WIB
Harga Emas Dalam Tekanan Jual, Potensi Koreksinya Menjadi Terbatas
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Harga emas dunia tengah mengalami tekanan jual setelah sempat mencetak rekor tertinggi di kisaran US$5.300 per ons troi. Meski demikian, potensi koreksi dinilai semakin terbatas dan emas masih prospektif sebagai instrumen investasi jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, dalam satu dekade terakhir harga emas menunjukkan tren kenaikan yang sangat signifikan. Dari kisaran US$1.168 per ons troi sekitar 10 tahun lalu, harga emas kini masih bertahan di sekitar US$4.043 per ons troi meski mengalami tekanan dari posisi puncaknya.

Menurut Gunawan, reli harga emas sejak 2024 dipicu oleh penurunan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dari 5,5 persen menjadi 3,75 persen. Kebijakan tersebut mendorong perpindahan dana investor dari aset berbasis dolar AS ke emas sebagai instrumen lindung nilai.

"Selain itu, perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sempat memicu sentimen risk off yang mengangkat harga emas hingga menyentuh rekor tertinggi pada 2026. Namun, sentimen tersebut mulai mereda setelah kenaikan harga minyak mentah meningkatkan tekanan inflasi dan memunculkan spekulasi bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga," ujar Gunawan, Minggu (2/8).

Meski demikian, Gunawan menilai tekanan yang terjadi saat ini belum tentu berlanjut dalam jangka panjang. Ia berkaca pada periode 2022 hingga 2023 ketika The Fed menaikkan suku bunga dari 0,25 persen menjadi 5,5 persen, namun harga emas tetap mampu bertahan bahkan bergerak naik dari kisaran US$1.960 menjadi di atas US$2.000 per ons troi.

"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang ketat tidak selalu diikuti pelemahan harga emas. Karena itu, sekalipun saat ini emas mengalami tekanan, saya melihat kemampuannya untuk bertahan masih cukup kuat, termasuk jika The Fed kembali bersikap hawkish akibat meningkatnya inflasi," katanya.

Gunawan menambahkan, emas tetap menjadi aset safe haven di tengah konflik geopolitik yang belum mereda. Karakteristik emas sebagai pelindung kekayaan (wealth protection) membuat permintaannya cenderung tetap tinggi ketika risiko ekonomi global meningkat.

Bagi investor di Indonesia, emas juga dinilai masih layak menjadi pilihan investasi jangka panjang meskipun penguatan dolar AS terhadap rupiah sempat meningkatkan daya tarik mata uang tersebut.

Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan mengalihkan investasi ke dolar AS. Menurutnya, peningkatan permintaan dolar dapat memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan berdampak pada perekonomian nasional.

"Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan eskalasi konflik geopolitik, koreksi harga emas justru menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang," ungkapnya.

Secara teknikal, Gunawan memperkirakan ruang penurunan harga emas juga semakin terbatas. Ia menilai level US$3.980 per ons troi menjadi area support yang cukup kuat sehingga peluang koreksi lanjutan relatif kecil dibandingkan potensi penguatan apabila ketidakpastian global kembali meningkat. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement