Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Dekati Puncak Tujuh Pekan, Harapan Damai di Selat Hormuz Dongkrak Sentimen

Redaksi
Redaksi
Jumat, 7 Agustus 2026 - 8.00 AM WIB
Harga Emas Dekati Puncak Tujuh Pekan, Harapan Damai di Selat Hormuz Dongkrak Sentimen
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali melanjutkan reli dan mendekati level tertinggi dalam tujuh pekan pada perdagangan Kamis (6/8/2026) atau Jumat pagi WIB. Penguatan yang telah berlangsung selama empat sesi berturut-turut didorong meredanya kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan suku bunga tinggi, seiring meningkatnya harapan tercapainya solusi diplomatik yang membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,6 persen menjadi US$4.271,33 per ons pada pukul 08.43 GMT, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 18 Juni. Sehari sebelumnya, logam mulia tersebut mencatat kenaikan harian terbesar sejak Februari. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat juga menguat 0,6 persen menjadi US$4.330,20 per ons.

“Emas berusaha mempertahankan kenaikan baru-baru ini di tengah meningkatnya optimisme terkait Selat Hormuz. Harapan akan terobosan diplomatik yang memulihkan aliran minyak telah meredakan kekhawatiran inflasi dan mengurangi spekulasi mengenai pengetatan kebijakan agresif oleh the Federal Reserve (the Fed),” ujar Analis Tradu.com, Nikos Tzabouras.

Sentimen positif muncul setelah beredar usulan kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan antara Iran dan Amerika Serikat. Berdasarkan informasi dari seorang sumber senior Iran dan dua pejabat regional kepada Reuters, kesepakatan tersebut akan memberikan kendali kepada Teheran atas kapal-kapal yang memasuki Teluk melalui Selat Hormuz.

Membaiknya prospek diplomasi turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS pada September turun menjadi 55 persen, dari sebelumnya 67 persen hanya dalam dua hari terakhir.

Di sisi lain, emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada pada level tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.

Investor Menunggu Data Ketenagakerjaan AS

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan nonfarm payrolls (NFP) Juli yang dijadwalkan terbit pada Jumat waktu setempat. Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Sebelumnya, Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary Daly, menyatakan bank sentral masih memilih mempertahankan suku bunga sambil menunggu data ekonomi yang lebih lengkap.

"Sangat mendukung" keputusan pekan lalu untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil, sembari bank sentral mengumpulkan lebih banyak data mengenai langkah yang tepat untuk merespons inflasi yang berada jauh di atas target 2%.

Di saat yang sama, laporan ketenagakerjaan nasional ADP menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta AS melambat sepanjang Juli, sehingga memperkuat perhatian investor terhadap hasil laporan NFP.

Meski harga emas sedang menguat, analis menilai pergerakan logam mulia itu masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter dan perkembangan geopolitik.

"Emas masih rentan terhadap tekanan lanjutan dan kemungkinan menyentuh level terendah baru sejak 2026. Dengan masih adanya tekanan harga yang membuat pihak-pihak yang menentang kenaikan suku bunga tetap vokal, serta risiko geopolitik yang berada dalam keseimbangan yang rapuh, setiap kemunduran diplomatik dapat dengan cepat memicu kembali tekanan penurunan tersebut,” Tzabouras menambahkan. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement