Harga Emas Dunia Anjlok 2 Persen, Dolar AS MenguatHarga Emas Dunia Anjlok 2 Persen, Dolar AS Menguat

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia melemah sekitar 2 persen pada perdagangan Jumat (31/7/2026) seiring menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). Meski terkoreksi tajam di akhir pekan, logam mulia masih membukukan kenaikan bulanan pertamanya dalam lima bulan terakhir, didukung meredanya tekanan inflasi di AS.
Mengutip CNBC, Sabtu (1/8/2026), harga emas spot turun 1,8 persen menjadi US$4.027,75 per ons, setelah sempat merosot hingga 2 persen pada awal perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS pengiriman Agustus turun 1,9 persen menjadi US$4.025,10 per ons.
Sepanjang Juli 2026, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 0,5 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak Februari, ketika konflik Iran mulai memicu gejolak pasar global.
Penguatan harga emas dalam beberapa waktu terakhir didorong oleh data inflasi AS yang lebih rendah, sehingga pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada tahun ini. Selain itu, harga minyak yang kembali turun ke level sebelum konflik Iran turut menopang pergerakan emas.
"Meskipun emas hampir mengakhiri tren penurunan selama empat bulan berturut-turut, logam mulia ini kesulitan untuk mencatatkan kenaikan signifikan di atas level psikologis $4.000," kata Analis Bybit, Han Tan.
Menurut Tan, harga emas masih mampu bertahan di atas level US$4.000 karena adanya ekspektasi Ketua The Fed, Kevin Warsh, akan memperluas fokus kebijakan bank sentral tidak hanya pada inflasi dan suku bunga.
Di sisi lain, data yang dirilis Kamis menunjukkan inflasi AS melambat pada Juni. Namun, perlambatan tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara karena memanasnya kembali konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak.
Dalam pernyataannya pekan ini, Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen Federal Reserve untuk menekan inflasi tanpa memberikan sinyal akan segera menaikkan suku bunga.
Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,5 persen setelah sehari sebelumnya anjlok sekitar 2,4 persen, penurunan harian terbesar sejak Januari 2023. Penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang selain dolar sehingga menekan permintaan.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September sebesar 65 persen, turun dari lebih dari 80 persen pada sepekan sebelumnya.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan. Harga perak spot turun 2,9 persen menjadi US$57,29 per ons. Platinum melemah 2,5 persen menjadi US$1.618,97 per ons, sedangkan paladium turun 3,4 persen menjadi US$1.260 per ons, meskipun kedua logam tersebut masih mencatat kenaikan secara bulanan. (Lip6)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda