Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Dunia Bangkit, Seyelah Minyak Turun Jelang Keputusan The Fed

Redaksi
Redaksi
Selasa, 27 Oktober 2026 - 8.21 AM WIB
Harga Emas Dunia Bangkit, Seyelah Minyak Turun Jelang Keputusan The Fed
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali menguat setelah sempat terpuruk ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Kenaikan ini terjadi ketika harga minyak mulai terkoreksi sehingga meredakan kekhawatiran inflasi menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), pekan ini.

Mengutip CNBC, Selasa (27/10/2026), harga emas di pasar spot pada Senin (26/10/2026) naik 0,6 persen menjadi US$4.020,60 per ons pada pukul 14.09 EDT. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$3.975 per ons pada Jumat, level terendah sejak 20 Juli 2026.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup menguat 0,8 persen ke level US$4.038,40 per ons.

Analis StoneX, Bob Haberkorn, menilai koreksi harga minyak ikut memberikan ruang bagi emas untuk bangkit. Selain itu, investor mulai memanfaatkan penurunan harga emas untuk kembali melakukan pembelian.

"Terjadi sedikit penurunan pada harga minyak mentah yang turut membantu emas, di samping adanya aksi beli saat harga rendah," ujar Analis StoneX, Bob Haberkorn.

Meski demikian, pergerakan harga emas diperkirakan masih cenderung terbatas menjelang pengumuman kebijakan moneter The Fed. Pelaku pasar memilih mencermati arah suku bunga sebelum menentukan langkah investasi berikutnya.

"Menurut saya, aktivitas perdagangan akan cenderung sepi, dan harga kemungkinan akan bertahan di kisaran US$ 4.000 hingga pengumuman dari The Fed keluar,” ia menambahkan.

Harga Minyak Turun, Inflasi Jadi Sorotan

Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah sempat melonjak pada pekan sebelumnya. Meski terkoreksi, harga minyak masih bertahan di dekat level tertinggi dalam enam bulan di tengah harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah kebijakan moneter AS.

Namun, risiko gangguan pasokan energi masih membayangi pasar. Jika ketegangan geopolitik kembali meningkat dan mendorong harga minyak naik, tekanan inflasi berpotensi kembali menguat.

Kondisi tersebut membuat investor mencermati hubungan antara harga energi, inflasi, dan kebijakan suku bunga. Bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga, arah suku bunga menjadi faktor penting karena memengaruhi biaya peluang atau opportunity cost dalam memegang logam mulia.

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan biaya peluang kepemilikan emas. Sebaliknya, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dapat memberikan dukungan bagi harga emas, meskipun pergerakannya juga dipengaruhi nilai tukar dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah, dan permintaan aset lindung nilai.

Keputusan suku bunga The Fed dijadwalkan pada Rabu. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan menahan suku bunga setelah kenaikan pada September. Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember disebut berada di angka 80 persen berdasarkan perangkat FedWatch dari CME, sebagaimana tercantum dalam laporan sumber.

Investor Menanti Data Inflasi dan Pemilu AS

Selain keputusan suku bunga, perhatian investor tertuju pada data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan dirilis pada Kamis.

PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam mengevaluasi perkembangan harga dan menentukan arah kebijakan moneter. Data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan bagi pasar untuk memperkirakan kemungkinan perubahan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Investor juga mencermati pemilihan umum paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November. Hasil pemilu tersebut dinilai berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan fiskal, tarif perdagangan, belanja pemerintah, serta arah kebijakan geopolitik AS.

Analis OCBC menilai dampak kebijakan setelah pemilu lebih penting untuk dicermati daripada hasil pemilu itu sendiri.

"Kami tidak terlalu berfokus pada hasil pemilu itu sendiri, melainkan lebih kepada implikasinya terhadap kebijakan fiskal, tarif, pengeluaran geopolitik, dan ketidakpastian kebijakan. Hal-hal ini dapat berdampak pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury), nilai tukar dolar, dan harga emas," ungkap para analis di OCBC dalam sebuah catatan.

Pergerakan imbal hasil Treasury dan dolar AS menjadi perhatian karena keduanya dapat memengaruhi daya tarik emas di pasar global. Ketidakpastian kebijakan juga berpotensi mendorong investor mengubah komposisi aset untuk mengelola risiko.

Perak Menguat, Platinum Tertekan

Pergerakan logam mulia lainnya berlangsung bervariasi. Harga perak di pasar spot naik 0,2 persen menjadi US$54,01 per ons, sedangkan platinum melemah 1,2 persen menjadi US$1.532,55 per ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak November 2025.

Sebaliknya, harga paladium naik 0,5 persen menjadi US$1.048,70 per ons.

Dari sisi pasokan, Nornickel, perusahaan asal Rusia yang merupakan produsen paladium terbesar di dunia sekaligus produsen utama nikel olahan, menyatakan rencana perombakan besar-besaran pada tanur atau tungku peleburan berpotensi mengurangi produksi logam-logam utamanya pada 2027–2028.

Prospek penurunan produksi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pelaku pasar logam, terutama dalam menilai keseimbangan pasokan dan permintaan pada periode mendatang.

Dengan demikian, arah harga emas dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi kombinasi pergerakan harga minyak, perkembangan inflasi AS, keputusan The Fed, serta dinamika dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement