Harga Emas Dunia Melonjak, Penurunan Harga Minyak Picu Optimisme PasarHarga Emas Dunia Melonjak, Penurunan Harga Minyak Picu Optimisme Pasar

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa (4/8) waktu setempat atau Rabu (5/8) pagi WIB. Kenaikan logam mulia dipicu oleh melemahnya harga minyak dunia yang memicu ekspektasi inflasi lebih rendah dan mengurangi tekanan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Di sisi lain, pelaku pasar masih menunggu petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.
Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,6% menjadi US$4.078,10 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka menguat 1,1% ke level US$4.134,60 per ons.
Penguatan emas terjadi setelah harga minyak dunia memangkas kenaikannya. Harga minyak terkoreksi usai Qatar menyatakan upaya diplomatik untuk meredakan konflik antara AS dan Iran masih terus berlangsung, meski gangguan terhadap distribusi minyak melalui jalur pelayaran utama masih terjadi. Kondisi tersebut membuat harga minyak mentah Brent berjangka turun lebih dari 4%.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, mengatakan penurunan harga minyak menjadi salah satu faktor yang menopang kenaikan harga emas. Selain itu, pelemahan harga energi turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga jangka pendek.
Harga energi yang tinggi selama ini mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi. Kondisi tersebut biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Sebelumnya, Presiden The Fed New York, John Williams, menyampaikan optimisme bahwa tekanan inflasi akan terus mereda secara bertahap. Namun, ia menegaskan bank sentral AS siap kembali menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak bergerak sesuai target.
Pasar Menanti Data Ketenagakerjaan AS
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 61% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Proyeksi tersebut muncul setelah bank sentral AS, yang sempat diwarnai perbedaan pandangan di internalnya, memutuskan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan terakhir.
Fokus investor kini tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini. Laporan ketenagakerjaan ADP dijadwalkan terbit pada Rabu, sementara data non-farm payrolls akan diumumkan pada Jumat. Kedua indikator tersebut dipandang akan menjadi penentu utama arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
"Apa pun yang menunjukkan pelemahan ekonomi kemungkinan akan berdampak positif bagi emas, terutama karena hal itu mengurangi kemungkinan atau kebutuhan bank sentral untuk mengambil tindakan terkait suku bunga," ujar Melek. (Lip6)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda