Harga Emas Dunia Pekan Ini Diprediksi Naik, 50% Analis Wall Street Optimistis


JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia berpeluang melanjutkan penguatan pada pekan ini setelah berhasil bangkit dari tekanan dan menutup perdagangan pekan lalu di zona hijau. Survei terbaru Kitco News menunjukkan separuh analis Wall Street memperkirakan harga logam mulia tersebut kembali naik, meski investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan perkembangan inflasi.
Pergerakan harga emas sepanjang pekan lalu berlangsung fluktuatif. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, penguatan dolar AS, serta kekhawatiran inflasi sempat menekan harga. Namun, pelemahan imbal hasil obligasi dan harga minyak, disertai aksi beli ketika harga turun, mendorong pemulihan emas menjelang akhir pekan.
Mengutip Kitco, Senin (12/10/2026), harga emas spot dibuka pada US$4.142,40 per ons pada Minggu malam. Pada awal pekan, harga sempat menguat seiring perhatian investor terhadap dampak inflasi dari konflik AS-Iran, kenaikan harga minyak, dan pembelian emas oleh bank sentral China.
Tekanan kemudian meningkat pada pertengahan pekan setelah risalah rapat Federal Reserve (The Fed) September menunjukkan sebagian besar pejabat masih memperkirakan kenaikan suku bunga diperlukan sebelum akhir tahun.
Kondisi tersebut mendorong harga emas menyentuh level terendah mingguan US$4.066,31 per ons pada Rabu. Namun, logam mulia itu berhasil berbalik arah dan mencapai level tertinggi mingguan US$4.207,48 per ons pada Jumat, didukung pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi.
Survei Kitco: Separuh Analis Prediksi Emas Menguat
Survei mingguan Kitco News yang melibatkan 14 analis Wall Street menunjukkan kecenderungan positif terhadap prospek harga emas pada pekan ini.
Sebanyak tujuh analis atau 50% memperkirakan harga emas akan menguat. Sementara itu, dua analis atau 14% memprediksi harga melemah, sedangkan lima analis atau 36% memperkirakan harga bergerak mendatar atau belum menunjukkan arah yang jelas.
Darin Newsom, analis senior Barchart.com, memperkirakan harga emas berpeluang naik. Secara teknikal, menurut dia, emas berada dalam kondisi jenuh jual sehingga membuka peluang terjadinya penguatan dalam jangka pendek.
Optimisme serupa disampaikan Rich Checkan, Presiden sekaligus Chief Operating Officer Asset Strategies International. Ia menilai tekanan jangka pendek terhadap emas berpotensi mereda apabila Federal Reserve tidak menaikkan suku bunga dalam pertemuan Oktober.
Sementara itu, Kevin Grady, Presiden Phoenix Futures and Options, menilai data inflasi AS yang dirilis pekan ini akan menjadi perhatian utama pelaku pasar. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed sekaligus menentukan arah pergerakan harga emas.
Investor Ritel Masih Terbelah
Berbeda dengan kecenderungan optimistis analis Wall Street, investor ritel belum menunjukkan keyakinan yang dominan terhadap kenaikan harga emas.
Dalam jajak pendapat daring Kitco News yang mengumpulkan 206 suara, sebanyak 45% responden memperkirakan harga emas akan naik pada pekan ini. Sebanyak 37% memprediksi harga turun, sedangkan 18% memperkirakan harga bergerak mendatar.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa meskipun peluang kenaikan masih terbuka, sebagian investor tetap mewaspadai risiko koreksi harga.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar, terutama menjelang rilis sejumlah indikator ekonomi AS yang dapat mengubah ekspektasi terhadap arah suku bunga.
Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Emas
Pasar emas pekan ini akan mencermati sejumlah data ekonomi AS, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) September, data penjualan ritel, serta klaim pengangguran.
Data inflasi menjadi penting karena dapat memengaruhi keputusan Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga. Apabila inflasi tetap tinggi, peluang kebijakan moneter ketat dapat meningkat dan berpotensi menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Sebaliknya, tanda-tanda meredanya inflasi dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi tersebut berpotensi mendukung emas, terutama jika diikuti pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah.
Meski demikian, prospek emas tidak sepenuhnya mengarah pada kenaikan. Marc Chandler, Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, memperkirakan harga emas masih menghadapi tekanan.
Menurut dia, emas perlu kembali bertahan di atas US$4.230 per ons untuk menunjukkan bahwa fondasi penguatan mulai terbentuk.
Di sisi lain, Alex Kuptsikevich, analis senior FxPro, melihat peluang kenaikan harga emas menuju US$4.300–US$4.350 per ons.
Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan dolar AS dan persoalan utang global masih menjadi tantangan bagi emas dalam jangka panjang.
Dengan beragam faktor tersebut, pergerakan harga emas pekan ini akan ditentukan oleh kombinasi data inflasi AS, ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, dan imbal hasil obligasi. Hasil survei memang menunjukkan kecenderungan optimistis di kalangan analis Wall Street, tetapi risiko volatilitas masih perlu diwaspadai investor. (Lip6)



















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda