Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Melambung, Data Tenaga Kerja AS Jadi Pemicu

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 8 Agustus 2026 - 9.13 AM WIB
Harga Emas Melambung, Data Tenaga Kerja AS Jadi Pemicu
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia melesat ke level tertinggi dalam tujuh minggu setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan tak terduga. Kondisi ini kembali menghidupkan ekspektasi pasar terhadap peluang penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026, atau Sabtu pagi waktu Jakarta, harga emas spot melonjak 2,3% menjadi US$4.336,11 per ons. Harga emas bahkan sempat melesat lebih dari 3% hingga menyentuh level tertinggi sejak 17 Juni 2026.

Mengutip CNBC, Sabtu (8/8/2026), emas diperkirakan mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak 19 Januari. Sepanjang pekan ini, harga emas telah menguat lebih dari 7%.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turut menguat 2,3% menjadi US$4.396,9 per ons.

Lonjakan emas terjadi setelah data non-farm payrolls AS menunjukkan penurunan sebanyak 23.000 pekerjaan pada Juli. Angka kenaikan pekerjaan Juni juga direvisi turun menjadi 20.000.

Data tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar. Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan jumlah lapangan kerja AS akan bertambah 80.000 pada Juli.

Direktur High Ridge Futures, David Meger, menilai pelemahan pasar tenaga kerja tersebut mengubah ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed.

"Data lapangan kerja yang lebih lemah dari perkiraan menciptakan skenario di mana The Fed kemungkinan kecil akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya," ujar Direktur High Ridge Futures, David Meger.

Menurut Meger, penurunan harga energi dan semakin kecilnya peluang kenaikan suku bunga The Fed sama-sama menjadi sinyal yang berpotensi melemahkan dolar AS dan menopang harga emas.

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun

Perubahan ekspektasi pasar terlihat dari kontrak berjangka suku bunga. Berdasarkan data LSEG, peluang pengetatan kebijakan The Fed pada September kini berada di level 43,9%, turun dari 57% sebelum data tenaga kerja AS dirilis.

Sebaliknya, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan depan meningkat menjadi 60,4%, dari sebelumnya 43,2%.

Kondisi suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi katalis positif bagi emas. Sebab, emas tidak memberikan imbal hasil atau bunga sehingga menjadi lebih menarik ketika tingkat suku bunga dan imbal hasil aset lainnya menurun.

Prospek harga emas juga semakin positif. UBS memperkirakan harga emas dapat menembus US$5.000 per ons pada paruh pertama 2027.

Selain faktor ekonomi AS, pasar emas juga mencermati perkembangan geopolitik. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa ia yakin perang dengan Iran akan segera berakhir.

Perkembangan geopolitik tersebut turut menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi permintaan terhadap aset safe haven, termasuk emas.

Kenaikan juga terjadi pada sejumlah logam mulia lainnya. Harga perak di pasar spot naik 3% menjadi US$63,31 per ons.

Platinum menguat 1,2% menjadi US$1.749,95 per ons, sedangkan paladium naik 0,8% menjadi US$1.380,53 per ons.

Ketiga logam tersebut juga mencatatkan kenaikan sepanjang pekan. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement