Harga Emas Melesat, ETF dan Bank Sentral Jadi Penopang

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali menguat setelah sempat mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya. Permintaan dari dana yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded fund/ETF) dan pembelian bank sentral menjadi salah satu penopang utama logam mulia, di tengah perhatian investor yang tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026, atau Jumat pagi waktu Jakarta, harga emas di pasar spot naik 0,4% menjadi US$4.609,97 per ons. Penguatan tersebut terjadi setelah emas ditutup melemah 1,4% pada perdagangan Rabu, yang menjadi penurunan harian terbesar dalam sepekan.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,2% menjadi US$4.664,40.
Harga emas bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei pada awal pekan ini. Reli tersebut didorong kekhawatiran terhadap potensi penurunan nilai dolar AS setelah Departemen Keuangan AS pada pekan lalu meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang.
Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, menilai prospek emas masih positif karena kuatnya permintaan dari sejumlah investor institusi.
"Saya bersikap bullish (optimistis terhadap kenaikan harga emas) semata-mata karena permintaan saat ini; kita melihat banyak permintaan yang datang dari sisi ETF, serta permintaan dari bank sentral yang menjadikannya aset alternatif selain dolar," tutur Senior Market Strategist, StoneX Bob Haberkorn.
Menurut Haberkorn, pelaku pasar masih akan berhati-hati sambil menunggu agenda penting di Jackson Hole yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed).
Pasar kini menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium tahunan Jackson Hole di Wyoming pada Jumat waktu setempat. Investor berharap pidato perdana Warsh dapat memberikan gambaran mengenai strategi bank sentral AS dalam membawa inflasi kembali ke target, termasuk pandangannya mengenai peran pasar obligasi dalam strategi tersebut.
Inflasi AS Jadi Perhatian
Perhatian investor juga tertuju pada data inflasi Amerika Serikat. Data yang dirilis Rabu menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), yang menjadi salah satu indikator utama The Fed dalam menentukan target inflasi, naik 3,7% dalam 12 bulan hingga Juli.
Angka tersebut tidak berubah dibandingkan Juni dan berada di atas perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6%.
Kondisi tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan perubahan suku bunga The Fed. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga AS pada September turun menjadi 34%, sementara peluang kenaikan pada Desember berada di level 74%.
Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil (yield).
Sebelumnya, harga emas dunia memperpanjang penurunan pada perdagangan Rabu setelah data inflasi AS sebagian besar sesuai dengan ekspektasi pasar. Investor juga melakukan aksi ambil untung setelah emas sempat mencapai level tertinggi sejak 14 Mei pada perdagangan Selasa.
Mengutip CNBC, Kamis (27/8/2026), harga emas spot turun 1,4% menjadi US$4.592,97 per troy ounce. Sementara harga emas berjangka AS melemah 0,9% dan ditutup pada level US$4.653,30 per troy ounce.
Penurunan harga emas pada perdagangan tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS sebesar 0,3%. Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pergerakan harga emas sebelum rilis data inflasi lebih banyak dipengaruhi aksi ambil untung.
“Pergerakan harga emas hingga menjelang rilis data hari ini hanya merupakan aksi ambil untung. Data PCE sebagian besar sesuai dengan ekspektasi, jadi saat ini kami berkonsolidasi dalam kisaran perdagangan kemarin,” kata Grant.
Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS melaporkan PCE naik 3,7% dalam periode 12 bulan hingga Juli. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6%.
Dengan kombinasi permintaan ETF, akumulasi bank sentral, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed, pasar emas masih memiliki sejumlah katalis untuk bergerak lebih tinggi. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan inflasi dan pernyataan Warsh di Jackson Hole sebagai penentu arah harga emas berikutnya. (Lip6)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda