Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Melonjak 4%, Sentuh Level Tertinggi Sejak Juni

Redaksi
Redaksi
Kamis, 6 Agustus 2026 - 7.44 AM WIB
Harga Emas Melonjak 4%, Sentuh Level Tertinggi Sejak Juni
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Rabu (5/8/2026), sekaligus menyentuh level tertinggi sejak akhir Juni. Reli logam mulia dipicu pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global.

Mengutip CNBC, Kamis (6/8/2026), harga emas di pasar spot naik 4,3% menjadi US$4.252,74 per ounce. Sepanjang sesi perdagangan, harga emas bahkan sempat mencapai posisi tertinggi sejak 22 Juni 2026. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 3,7% ke level US$4.305,20 per ounce.

"Dua hari penurunan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar AS selama sepekan tampaknya membuka jalan bagi kenaikan harga emas dan perak," kata pedagang logam independen Tai Wong.

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga emas. Nilai tukar dolar berada di dekat level terendah terhadap yen Jepang dalam tiga bulan terakhir, sehingga membuat emas lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.

Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di dekat level terendah dalam sepekan. Kondisi ini meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai karena biaya peluang untuk memiliki logam mulia menjadi lebih rendah.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi AS. Laporan ADP National Employment Report menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta hanya mencapai 44.000 orang pada Juli 2026, jauh di bawah ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan sebanyak 70.000 pekerja.

Meski demikian, sejumlah pejabat Federal Reserve masih memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat tetap diperlukan untuk mengendalikan inflasi.

Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid, menilai pengetatan kebijakan moneter masih dibutuhkan agar inflasi dapat kembali ke target 2%. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, menyebut saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai menaikkan suku bunga secara bertahap.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 57% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Prospek kenaikan suku bunga tersebut berpotensi membatasi penguatan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga terus menjadi perhatian investor. Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya telah melakukan "diskusi yang sangat baik" dengan Iran. Pernyataan tersebut memunculkan harapan bahwa konflik yang telah berlangsung selama lima bulan dapat segera mereda.

Meski optimisme terhadap penyelesaian konflik mulai muncul, pelaku pasar masih terus mencermati perkembangan di Timur Tengah karena berpotensi memengaruhi inflasi global, arah kebijakan suku bunga, dan pergerakan harga emas dalam waktu dekat. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement