Harga Emas Pekan Ini di Persimpangan Arah


JAKARTA (Waspada.id): Prospek harga emas dunia pekan ini masih menjadi perhatian pelaku pasar setelah logam mulia tersebut mengalami tekanan tajam pada akhir pekan lalu. Meski demikian, mayoritas analis Wall Street masih melihat peluang emas untuk kembali menguat.
Survei emas mingguan Kitco menunjukkan sentimen analis Wall Street masih cenderung bullish, meski optimisme investor ritel sedikit menurun setelah harga emas terkoreksi.
Mengutip Kitco, Senin (31/8/2026), sebanyak 21 analis berpartisipasi dalam survei Kitco News Gold pekan lalu. Sebanyak 10 analis atau 48% memperkirakan harga emas akan menguat pada pekan ini.
Sementara itu, enam analis atau 29% memperkirakan harga emas akan kembali melemah. Adapun lima analis atau 24% memperkirakan harga emas bergerak konsolidasi dari level yang lebih rendah.
Sentimen investor ritel juga masih didominasi pandangan positif, meski porsinya mengalami penurunan.
Dari 207 suara yang masuk dalam jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 121 investor ritel atau 59% memperkirakan harga emas akan naik pekan ini. Sebanyak 44 investor atau 21% memperkirakan harga emas turun, sedangkan 42 investor atau 20% memperkirakan harga bergerak mendatar atau sideways.
Emas Berisiko Terkoreksi Lebih Dalam
Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, melihat momentum kenaikan emas mulai kehilangan tenaga setelah harga sempat mencapai puncak di sekitar US$4.697 pada awal pekan.
"Indikator momentum mulai berbalik arah, dan saya memperkirakan dolar akan menguat menjelang rilis data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan depan," ujar dia.
Chandler memperkirakan tekanan terhadap emas dapat berlanjut apabila harga menembus level teknikal tertentu.
"Saya mengantisipasi penembusan di bawah level US$ 4.555, dengan penurunan berlanjut ke kisaran US$ 4.500-US$ 4.527,” ia menambahkan.
Menurut Chandler, pergerakan emas berlangsung sangat cepat setelah pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh memicu aksi jual di pasar.
“Sekarang saya memperkirakan level US$ 4.440 dan mungkin US$ 4.360,” ujar dia.
Analis Masih Lihat Peluang Kenaikan
Namun, tidak semua analis melihat koreksi emas sebagai awal dari tren penurunan yang lebih panjang.
Senior Market Strategist Forex.com, James Stanley, justru menilai harga emas masih memiliki peluang untuk kembali menguat.
"Menurut saya, kita sedang melihat koreksi harga yang wajar setelah pidato Warsh, dan saya berpendapat bahwa dalam jangka panjang arah pergerakannya tetap sama karena tidak ada penyebutan atau pemikiran mengenai kebijakan pengetatan anggaran (austerity) ataupun pengurangan utang pemerintah AS,” ujar dia.
Menurut Stanley, pidato Warsh dirancang untuk mencoba mengendalikan imbal hasil obligasi Treasury. Namun, ia tidak memperkirakan Warsh akan mengambil sikap yang terlalu agresif atau hawkish.
"Jadi saya tetap bersikap bullish terhadap emas berdasarkan hal tersebut,” tutur dia.
Pandangan serupa disampaikan Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan. Ia memperkirakan harga emas masih berpotensi naik dalam jangka panjang.
"Ketua Federal Reserve Warsh akan menolak kenaikan suku bunga karena beban utang yang mencapai US$ 40 triliun. Menteri Keuangan Bessent juga berupaya mengendalikan imbal hasil obligasi pemerintah (Treasuries) karena alasan yang sama. Semua solusi mereka bersifat inflasioner dalam jangka panjang,” ujar dia.
"Harga emas akan naik,” Checkan menambahkan.
Menurut dia, koreksi harga yang terjadi saat ini lebih tepat dilihat sebagai fenomena jangka pendek.
“Manfaatkan momen tersebut untuk membeli di harga yang bagus,” ujar dia.
Suku Bunga Jadi Penentu
Di sisi lain, Head of Currency Strategy investingLive, Adam Button, justru memprediksi harga emas akan melemah.
Pandangan tersebut muncul setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
"Probabilitas pasar telah meningkat ke angka 50/50, namun angka tersebut perlu mencapai lebih dari 80% agar kenaikan suku bunga benar-benar terjadi,” ujar dia.
Dengan demikian, arah harga emas pekan ini masih sangat bergantung pada kombinasi kebijakan moneter The Fed, pergerakan dolar AS, imbal hasil Treasury, serta data ekonomi Amerika Serikat.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Sorotan
Dari sisi sentimen, perhatian pasar pekan ini akan tertuju pada serangkaian data ekonomi Amerika Serikat, khususnya sektor ketenagakerjaan.
Selain itu, pelaku pasar akan mencermati survei aktivitas manufaktur dan jasa serta keputusan suku bunga dari dua bank sentral.
Agenda dimulai pada Selasa pagi dengan rilis data ISM Manufacturing PMI Agustus dan data lowongan kerja JOLTS. Pada malam harinya, Reserve Bank of New Zealand dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya.
Memasuki Rabu, pasar akan mendapatkan data ADP nonfarm payrolls sektor swasta. Pada hari yang sama, Bank of Canada juga akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya.
Selanjutnya, Kamis akan diwarnai rilis data klaim tunjangan pengangguran mingguan Amerika Serikat, disusul data ISM Services PMI.
Puncak agenda ekonomi pekan ini akan berlangsung Jumat pagi dengan rilis laporan Nonfarm Payrolls Agustus.
Pelaku pasar akan mencermati apakah data ketenagakerjaan utama pemerintah AS tersebut kembali berada di bawah ekspektasi untuk bulan keempat berturut-turut.
Rangkaian data tersebut berpotensi menjadi penentu arah harga emas setelah koreksi tajam pada akhir pekan lalu. Jika data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, peluang emas untuk kembali mendapatkan momentum kenaikan dapat terbuka. Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas. (Lip6)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda