Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Pekan Ini Diprediksi Fluktuatif, Data Ekonomi AS Jadi Sorotan

Redaksi
Redaksi
Senin, 28 September 2026 - 8.28 AM WIB
Harga Emas Pekan Ini Diprediksi Fluktuatif, Data Ekonomi AS Jadi Sorotan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Pergerakan harga emas pekan ini diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif. Investor ritel cenderung mempertahankan pandangan optimistis terhadap logam mulia, sementara para analis Wall Street justru terbelah mengenai arah harga emas dalam jangka pendek.

Survei Emas Mingguan Kitco menunjukkan perbedaan pandangan tersebut terjadi setelah harga emas mencatat kinerja mingguan yang melemah. Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini.

Mengutip Kitco, Senin (27/9/2026), sebanyak 14 analis berpartisipasi dalam Survei Emas Kitco News. Hasilnya menunjukkan pandangan Wall Street terbagi cukup merata antara kelompok yang memperkirakan harga emas naik, turun, maupun bergerak mendatar.

Kondisi tersebut berbeda dengan pekan sebelumnya ketika mayoritas analis memiliki konsensus bullish terhadap emas.

Sebanyak lima analis atau 36% memprediksi harga emas menguat pada pekan ini. Sementara itu, 29% lainnya memperkirakan logam mulia kembali turun.

Lima analis lainnya atau 36% dari total responden memperkirakan harga emas bergerak mendatar, tetapi tetap fluktuatif sepanjang pekan.

Investor Ritel Masih Bullish

Berbeda dengan kalangan analis, investor ritel masih mempertahankan pandangan positif terhadap harga emas.

Jajak pendapat daring Kitco yang diikuti 152 responden menunjukkan sebanyak 57% atau 86 pedagang ritel memprediksi harga emas akan naik pekan ini.

Sebanyak 23% atau 35 responden memperkirakan harga emas turun. Sementara 20% atau 31 investor memperkirakan harga emas bergerak mendatar.

Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex Marc Chandler memperkirakan harga emas menguat pekan ini.

Menurut Chandler, ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) telah bergerak cukup jauh, sementara sejumlah data ekonomi yang akan dirilis berpotensi memperkuat ekspektasi tersebut.

“Pekan ini, AS akan merilis data deflator PCE Agustus yang mencakup penyesuaian metodologis yang akan sedikit menurunkan angka inflasi dan pertumbuhan lapangan kerja September tampak lebih lemah dibandingkan Agustus,” ujar dia.

Harga Emas Perlu Tembus US$4.400

Chandler menilai kenaikan harga emas perlu menembus level US$4.400 per ons agar pergerakannya dapat dianggap signifikan.

Analis Senior Barchart.com Darin Newsom juga memperkirakan harga emas akan menguat. Secara teknikal, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Desember berada dalam kondisi oversold atau jenuh jual pada grafik harian jangka pendek.

Namun, menurut Newsom, kondisi oversold dapat bertahan lebih lama dari yang diperkirakan pelaku pasar.

“Perlu dicatat, secara fundamental tidak ada yang berubah. Imbal hasil obligasi pemerintah AS terus meningkat akibat inflasi, sementara bank-bank sentral terus membeli emas,” Newsom menambahkan.

Presiden dan COO Asset Strategies International Rich Checkan juga memperkirakan harga emas akan naik.

Ia menilai investor mulai menyadari adanya batas sejauh mana The Fed dapat menaikkan suku bunga. Hal tersebut berkaitan dengan besarnya beban pembayaran bunga utang pemerintah AS.

"Dan karena Kongres tidak akan pernah berhenti melakukan pengeluaran berlebih, harga emas akan naik. Ini ada kesimpulang yang sangat jelas,” ujar Checkan.

Analis Terbelah, Imbal Hasil Jadi Perhatian

Tidak seluruh analis melihat prospek emas secara positif.

Chief Market Strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski memilih bersikap netral terhadap emas pekan ini.

“Saya tidak melihat banyak katalis utama,” kata dia.

Sementara itu, Senior Market Strategist Forex.com James Stanley memperkirakan harga emas akan turun. Ia menilai sentimen kenaikan imbal hasil obligasi belum akan segera berakhir.

Menurut Stanley, kondisi pasar obligasi yang rentan dapat mendorong imbal hasil kembali melonjak dan memberikan tekanan terhadap harga emas.

"Selama harga bertahan di atas level US$ 4.000, menurut saya masih ada alasan kuat untuk mempertahankan pandangan bullish jangka panjang. Level 4.100 akan menjadi titik support yang lebih ideal, mengingat level itu sempat berperan kuat sebagai resistance sebelum penembusan pada Agustus,” kata dia.

Head of Currency Strategy InvestingLive Adam Button menilai pelemahan emas belakangan ini banyak dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil obligasi.

“Anda bisa melihat korelasi yang jelas saat imbal hasil kembali menembus 5%,” kata dia.

Ia menuturkan, imbal hasil yang melonjak diikuti dengan penurunan harga emas.

“Emas juga memiliki karakteristik aset berisiko, jadi itulah faktor penekannya. Kondisi pasar cukup berat kemarin dan sehari sebelumnya. Faktor musiman biasanya mulai berpengaruh kuat pada bulan November, jadi Anda bisa mencari kesempatan beli saat harga turun,” kata dia.

Data Ekonomi AS Jadi Penentu Harga Emas

Pelaku pasar akan menghadapi pekan yang padat dengan sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan, manufaktur, kondisi konsumen, hingga inflasi akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Pada Selasa waktu setempat, Reserve Bank of Australia akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya. Pada hari yang sama, AS akan merilis data Keyakinan Konsumen dan lowongan pekerjaan JOLTS.

Selanjutnya, Rabu akan menjadi perhatian pasar dengan rilis data ADP Nonfarm Payrolls, angka final Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal II, serta indeks PCE.

Kemudian pada Kamis, pelaku pasar akan mencermati ISM Manufacturing PMI September dan data klaim tunjangan pengangguran mingguan AS.

Rangkaian data ekonomi tersebut akan ditutup pada Jumat dengan publikasi laporan Nonfarm Payrolls (NFP) September.

Dengan demikian, arah harga emas pada pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana pasar merespons data ekonomi AS, khususnya indikator inflasi dan tenaga kerja, serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement