Harga Emas Tertekan Inflasi AS, Investor Tunggu The Fed

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali tertekan setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) memperkuat spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, investor kini mengalihkan perhatian pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang dijadwalkan disampaikan pekan ini.
Mengutip CNBC, Kamis (27/8/2026), harga emas spot turun 1,4% menjadi US$4.592,97 per troy ounce. Padahal, sehari sebelumnya harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 14 Mei.
Sementara itu, harga emas berjangka AS melemah 0,9% dan ditutup pada US$4.653,30 per troy ounce.
Tekanan terhadap emas juga terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS sebesar 0,3%. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.
Salah satu perhatian utama pasar adalah data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, indikator inflasi yang menjadi salah satu acuan penting The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS melaporkan PCE meningkat 3,7% dalam 12 bulan hingga Juli. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6%.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan, pergerakan emas menjelang rilis data inflasi lebih banyak dipengaruhi aksi ambil untung.
“Pergerakan harga emas hingga menjelang rilis data hari ini hanya merupakan aksi ambil untung. Data PCE sebagian besar sesuai dengan ekspektasi, jadi saat ini kami berkonsolidasi dalam kisaran perdagangan kemarin,” kata Grant.
Data tersebut kemudian mendorong pasar meningkatkan perkiraan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan bulan depan.
Peluang Kenaikan Bunga Naik
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan depan kini diperkirakan mencapai 38%, naik dari 36% sebelum data inflasi dirilis.
Sementara itu, peluang suku bunga dipertahankan pada level saat ini berada di kisaran 62%.
Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika tingkat suku bunga tinggi karena investor memiliki alternatif aset berimbal hasil seperti obligasi.
Meski demikian, Grant masih melihat peluang tren kenaikan emas kembali berlanjut.
“Saya pikir tren kenaikan harga emas mulai kembali terbentuk. Jadi, saya melihat ada potensi harga kembali menembus US$ 5.000 tahun ini,” kata Grant.
Grant juga memperkirakan emas berpeluang mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa pada kuartal II 2027.
Selain kebijakan moneter AS, pasar emas masih dibayangi perkembangan geopolitik, terutama situasi di kawasan Timur Tengah.
Iran dan Oman dilaporkan telah mencapai kesepakatan terkait pembagian mereka atas Selat Hormuz serta pendapatan yang dihasilkan dari jalur perairan strategis tersebut.
Namun, Garda Revolusi Iran menyatakan pada Rabu bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali apabila Amerika Serikat tidak menerima persyaratan yang diajukan Iran dan Oman.
Selat Hormuz menjadi perhatian pasar karena merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Dengan demikian, arah harga emas ke depan akan ditentukan oleh kombinasi sejumlah faktor, mulai dari kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, perkembangan inflasi hingga dinamika geopolitik global.
Bagi investor, keputusan The Fed dan pernyataan Kevin Warsh menjadi salah satu katalis penting yang akan menentukan apakah emas mampu kembali menguji level US$5.000 atau justru melanjutkan koreksi. (Lip6)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda