Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Tertekan Jelang Data Inflasi AS

Redaksi
Redaksi
Rabu, 9 September 2026 - 8.14 AM WIB
Harga Emas Tertekan Jelang Data Inflasi AS
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali tertekan menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Investor kini mencermati data ekonomi terbaru untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed pada September.

Mengutip CNBC, Rabu (9/9/2026), harga emas spot turun 0,4% menjadi US$4.385,85 per ons pada pukul 14.16 waktu setempat (ET). Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi US$4.442,70 per ons pada sesi perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 1% menjadi US$4.431 per ons.

Analis Senior StoneX Daniel Pavilonis mengatakan, pergerakan emas masih tertahan dalam kisaran tertentu akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga.

"Pergerakan emas tertahan dalam kisaran tertentu karena dibatasi oleh tingginya kemungkinan kenaikan suku bunga, yang terus menghambat momentum pasar," ujar Analis Senior di Stone X, Daniel Pavilonis.

Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Tekanan terhadap emas juga datang dari kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa pekan setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Teheran menyerang fasilitas energi Arab Saudi.

Di saat yang sama, Teheran juga mengancam Amerika Serikat dengan perang ekonomi.

Harga minyak mentah Brent bahkan mendekati US$100 per barel. Brent sempat menyentuh US$99,46 per barel, menjadi level tertinggi sejak 24 Juli.

Lonjakan harga minyak tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi. Kondisi ini kemudian berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan atau menaikkan suku bunga.

Pasar juga masih mencerna data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Investor kini menunggu rilis Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai tekanan inflasi.

Wakil Presiden dan Ahli Strategi Logam Zaner Metals Peter Grant mengatakan kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga pada September.

Harga emas spot sebelumnya sempat anjlok 2,4% pada Jumat setelah data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat tajam pada Agustus. Tingkat pengangguran juga tetap stabil di 4,1%, memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh.

Investor Menanti Data Inflasi AS

Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed. Angka tersebut meningkat dari sekitar 50% sebelum data ketenagakerjaan terbaru dirilis, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Data PPI AS dijadwalkan dirilis pada Kamis, sementara data CPI akan menyusul pada Jumat.

Data inflasi tersebut menjadi penting bagi pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap langkah The Fed.

Emas selama ini dikenal sebagai salah satu aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga justru cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil (non-yielding).

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak naik tipis 0,2% menjadi US$66,30 per ons. Platinum menguat 1% menjadi US$1.844,58 per ons, sedangkan paladium turun 2,6% menjadi US$1.351,75 per ons. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement