Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Turun, Namun Permintaan Masih Kuat

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 26 September 2026 - 9.03 AM WIB
Harga Emas Turun, Namun Permintaan Masih Kuat
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan pekan ini. Harga emas spot masih berupaya bertahan di level US$4.300 per ons di tengah tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga.

Meski demikian, sejumlah analis menilai tekanan terhadap harga emas masih relatif terbatas. Permintaan dari investor jangka panjang dan pembelian emas oleh bank sentral menjadi penopang pasar logam mulia.

Mengutip Kitco, Sabtu (26/9/2026), harga emas spot terakhir diperdagangkan di kisaran US$4.292 per ons. Posisi tersebut turun lebih dari 2% dibandingkan perdagangan Jumat pekan sebelumnya.

Tekanan terhadap emas semakin terasa setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam dua dekade, yakni 5,20%.

Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

“Pasar semakin memperhitungkan kenaikan suku bunga di AS yang lebih cepat dari perkiraan. Hal ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan pada akhirnya meningkatkan suku bunga riil,” kata Analis Komoditas Commerzbank Barbara Lambrecht.

“Hal ini meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas,” lanjutnya.

Harga Emas Masih Relatif Tinggi

Meski mengalami tekanan, Commerzbank menilai harga emas saat ini masih berada pada level yang relatif tinggi.

Dua bulan lalu, harga emas masih berjuang mempertahankan level US$4.000 per ons. Saat itu, imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga AS berada pada level yang jauh lebih rendah dibandingkan kondisi saat ini.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa emas masih memiliki daya tahan meski lingkungan pasar saat ini kurang mendukung.

Lambrecht juga menilai investor jangka panjang masih mempertahankan eksposur terhadap emas melalui exchange-traded fund (ETF).

“Hal yang menggembirakan adalah investor dengan orientasi jangka panjang masih berinvestasi pada ETF emas. Oleh karena itu, kami menilai potensi koreksi akan terbatas,” ujarnya.

Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang

Kepala Logam Britannia Global Markets Neil Welsh mengatakan pasar emas masih memiliki penyangga struktural meski tekanan jual meningkat.

Menurutnya, sejumlah faktor masih menopang permintaan emas, termasuk pembelian emas oleh bank sentral yang kuat, ketegangan geopolitik yang terus berlangsung, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal yang semakin dalam.

Sementara itu, Joy Yang, Global Head of Index Product Management di MarketVector Indexes, menilai emas juga memperoleh dukungan dari rendahnya volatilitas pasar saham.

Indeks S&P 500 masih berada di dekat rekor tertinggi, yakni di atas 7.000 poin, meski inflasi meningkat dan imbal hasil obligasi berada pada level tinggi.

“Sepertinya investor saham terlalu percaya diri terhadap risiko yang meningkat di pasar obligasi. Namun, saya menduga sebagian investor menggunakan emas sebagai lindung nilai dan hanya menunggu untuk melihat apakah tekanan inflasi mulai mereda,” kata Yang.

Imbal Hasil Obligasi Jadi Risiko Harga Emas

Meski sejumlah analis menilai risiko penurunan harga emas relatif terbatas, tekanan jual masih berpotensi berlanjut pada pekan depan apabila imbal hasil obligasi AS tetap berada di atas 5%.

Ole Hansen, Head of Commodity Strategy Saxo Bank, akan memperhatikan level support baru emas di US$4.235 per ons.

“Penembusan level tersebut dapat membuka peluang koreksi lebih dalam dan berpotensi kembali mengarahkan perhatian ke area Juni-Juli di sekitar US$4.000,” katanya.

Waleed Said, Market Analyst GivTrade, bahkan menilai level US$4.000 per ons masih menjadi target yang mungkin dicapai apabila imbal hasil obligasi tetap tinggi.

“Selama imbal hasil tetap setinggi ini, saya melihat risikonya cenderung ke bawah. Jika The Fed melanjutkan kenaikan suku bunga dan imbal hasil tetap tinggi, pergerakan menuju US$ 3.800 merupakan skenario yang tidak akan saya kesampingkan,” ujarnya.

Data Ekonomi AS Jadi Penentu

Di tengah tekanan tersebut, sebagian analis justru melihat pelemahan harga emas sebagai peluang bagi investor jangka panjang.

Perhatian pasar pada pekan depan akan tertuju pada sejumlah data inflasi dan ketenagakerjaan AS. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Jika data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, imbal hasil obligasi dan dolar AS berpotensi turun. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali menguat.

Sebaliknya, apabila data ekonomi tetap kuat dan mendorong imbal hasil obligasi bertahan di atas 5%, emas berpotensi kembali menghadapi tekanan jual. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement