Harga Karet Nyaris Cetak Rekor 10 Tahun, Petani Diuntungkan Efek Perang


MEDAN (Waspada.id): Harga karet internasional kembali menunjukkan tren penguatan signifikan dan nyaris menyentuh rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini menjadi angin segar bagi petani dan produsen karet di Sumatera Utara yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan harga dan penurunan produktivitas.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, produksi karet Sumut pada kuartal kedua tahun 2026 berpotensi meningkat hingga 30 persen dibandingkan kuartal pertama.
“Kenaikan produksi terjadi karena tanaman karet mulai melewati musim trek atau gugur daun. Produktivitas mulai pulih dan sebagian besar produsen berpeluang mengalami peningkatan produksi,” ujar Gunawan, Senin (25/5).
Meski demikian, ia menilai peningkatan produksi tersebut tidak sepenuhnya merata di semua wilayah maupun produsen.
Di tengah membaiknya produksi, harga karet justru bergerak sangat tinggi. Pada pertengahan Mei 2026, harga karet internasional sempat mencapai 2,23 dolar AS per kilogram, atau nyaris menembus rekor tertinggi dalam 10 tahun terakhir yang berada di kisaran 2,24 hingga 2,25 dolar AS per kilogram. Saat ini harga karet masih bertahan di kisaran 2,20 dolar AS per kilogram.
Menurut Gunawan, penguatan harga karet kali ini tidak terlepas dari memburuknya tensi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang memengaruhi rantai pasok dan kebutuhan industri global.
“Petani karet saat ini justru menikmati berkah dari situasi geopolitik. Walaupun produksi meningkat, harga tidak mengalami tekanan besar karena permintaan global masih kuat,” katanya.
Ia menjelaskan, permintaan ekspor karet terus mengalami pemulihan dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, porsi pasokan untuk kebutuhan domestik cenderung menurun dibandingkan ekspor.
Hal itu menunjukkan bahwa pasar internasional kembali aktif menyerap karet Indonesia, terutama setelah konflik di kawasan Selat Hormuz memicu gangguan distribusi dan kebutuhan industri tertentu meningkat.
Gunawan menambahkan, produk turunan karet berbentuk padat seperti Standard Indonesian Rubber (SIR) masih menjadi komoditas ekspor utama Sumut.
“Produsen dan petani karet belakangan ini jauh lebih menikmati hasil penjualan dibandingkan sebelum perang terjadi. Permintaan untuk kebutuhan industri, termasuk sektor militer, ikut menopang kenaikan harga,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa tren penguatan harga karet belum tentu bertahan dalam jangka panjang.
Menurutnya, arah harga karet ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah serta kondisi jalur logistik global.
“Permintaan memang tinggi, tetapi hambatan distribusi di jalur perdagangan seperti Selat Hormuz juga bisa menjadi faktor penahan kenaikan harga lebih lanjut,” pungkasnya. (id09)
Berita Terkait










































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda