Harga Kedelai Melonjak, Pedagang Tahu Pilih Gulung Tikar

JAKARTA (Waspada.id): Kenaikan harga kedelai mulai memukul usaha tahu dan tempe di berbagai daerah. Di kawasan Ledok Kulon, Bojonegoro, Jawa Timur, omzet pedagang tahu dilaporkan merosot hingga separuh dalam hampir dua bulan terakhir.
Ketua Asosiasi Pedagang Tahu dan Tempe Ledok Kulon Bojonegoro, Ari Nur Cahyono, mengatakan omzet harian pedagang yang sebelumnya dapat mencapai hampir Rp2 juta kini turun menjadi sekitar Rp1 juta per hari.
Kondisi tersebut membuat margin keuntungan semakin tipis. Bahkan, sejumlah pelaku usaha akhirnya memilih menghentikan produksinya karena tidak lagi mampu menanggung biaya operasional.
Saat ini, harga kedelai sebagai bahan baku utama tahu dan tempe telah mencapai sekitar Rp11.000 per kilogram.
"Usaha sekarang keuntungan jualan tidak ada, ya seperti kerja bakti saja," ujar Ari dikutip dari Liputan6.com, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Ari, sedikitnya 10 pedagang telah memilih menutup usaha akibat tekanan biaya produksi dan penjualan yang terus menurun. Sementara sekitar 150 pedagang lainnya masih berusaha bertahan dengan kondisi seadanya.
"Kebanyakan pedagang dan masyarakat mengeluh karena kebutuhan bahan baku naik semua," tambah Ari.
Subsidi Kedelai Tersendat
Tekanan yang dirasakan pedagang di Bojonegoro juga berkaitan dengan belum tersalurkannya subsidi kedelai dari pemerintah kepada para anggota perajin di daerah.
Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo mengatakan, program subsidi kedelai belum dapat disalurkan karena terkendala aturan Harga Acuan Pembelian (HAP).
Pemerintah menetapkan HAP kedelai sebesar Rp12.000. Namun, angka tersebut dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi perekonomian pada 2026.
"Mohon tolong sampai saat ini subsidi belum keluar karena terbentur aturan HAP. Angka HAP Rp12.000 tidak relevan dengan kondisi 2026 saat ini," tegas Wibowo.
Wibowo mengatakan, Gakoptindo telah menunggu realisasi subsidi tersebut selama enam bulan. Meski informasi mengenai pencairan anggaran dari Kementerian Keuangan kepada Badan Pangan Nasional telah beredar, subsidi secara fisik belum sampai ke tingkat perajin di daerah.
Gakoptindo pun telah melayangkan surat resmi kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Surat tersebut berisi permintaan agar pemerintah meninjau kembali sekaligus menyesuaikan HAP kedelai dengan kondisi pasar saat ini. Namun, hingga kini permintaan tersebut belum terealisasi.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha tahu dan tempe menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, harga bahan baku meningkat, sementara di sisi lain daya beli dan omzet pedagang mengalami penurunan.
Jika persoalan harga bahan baku dan penyaluran subsidi tidak segera ditangani, keberlangsungan usaha tahu dan tempe yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat berpotensi semakin tertekan. (Lip6)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda