Harga Minyak AS Anjlok 7,9%, Pertemuan AS-Iran Bikin Pasar Lega

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan tajam sepanjang pekan setelah pertemuan antara AS dan Iran di sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York memunculkan harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Mengutip CNBC, Sabtu (26/9/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,3% menjadi US$92,41 per barel pada perdagangan terakhir pekan ini.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan global melemah 2,1% ke level US$104,32 per barel.
Tekanan lebih terlihat jika dihitung sepanjang pekan. Harga WTI tercatat anjlok 7,9% secara mingguan, sedangkan Brent relatif datar.
Penurunan tersebut terjadi ketika pasar mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran, terutama kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat mengurangi risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Iran Tawarkan Pembukaan Selat Hormuz
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar adalah pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Araghchi mengatakan, Teheran menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut dalam waktu tujuh hari apabila AS memenuhi sejumlah persyaratan dalam kesepakatan perdamaian sementara yang dicapai pada Juni.
Selat Hormuz menjadi salah satu jalur paling penting dalam perdagangan energi global. Karena itu, setiap perkembangan terkait keamanan dan akses pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi sentimen pasar minyak.
Namun, nota kesepahaman atau MOU tersebut kemudian runtuh setelah pertempuran kembali pecah terkait hak transit melalui Selat Hormuz.
Hingga kini, belum jelas bagaimana proposal terbaru Iran dapat mencegah kembali pecahnya konflik di kawasan.
Iran Tak Terburu-buru Capai Kesepakatan
Araghchi mengatakan, Iran bersedia kembali melakukan perundingan untuk mencapai kesepakatan final apabila AS menerapkan ketentuan yang tercantum dalam MOU tersebut.
Menurutnya, Teheran kini masih menunggu tanggapan dari pemerintah AS.
“Menurut saya, akan jauh lebih baik jika hal itu dilakukan sebelum pemilu paruh waktu, tetapi keputusan tersebut bergantung pada pemerintah AS,” kata Araghchi kepada wartawan.
“Menurut saya, akan jauh lebih baik jika hal itu dilakukan sebelum pemilu paruh waktu, tetapi semuanya bergantung pada keputusan pemerintah AS,” ujar Araghchi.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak terburu-buru mengambil keputusan.
“Kami tidak terburu-buru,” kata Araghchi.
Pasar Minyak Pantau Selat Hormuz
Perkembangan hubungan AS dan Iran menjadi perhatian besar bagi pasar minyak karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia.
Setiap gangguan terhadap keamanan maupun kelancaran pelayaran di jalur tersebut dapat memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Sebaliknya, sinyal menuju deeskalasi dan terbukanya kembali jalur pelayaran dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya tercermin dalam harga minyak.
Dengan WTI yang telah turun hampir 8% sepanjang pekan, pasar kini akan mencermati apakah perkembangan diplomatik AS-Iran dapat berlanjut menjadi kesepakatan yang lebih konkret atau kembali diikuti peningkatan ketegangan di kawasan. (Lip6)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda