Harga Minyak Dunia Anjlok, Pasar Sambut Pembukaan Selat Hormuz dan Damai AS-Iran


JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia kembali merosot tajam setelah muncul kepastian bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali menyusul kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Langkah tersebut memicu optimisme pasar terhadap kelancaran pasokan energi global dan mengurangi kekhawatiran akan gangguan distribusi minyak.
Pada perdagangan Selasa (16/6/2026) waktu setempat, harga minyak mentah Brent turun US$4,21 atau 5,1 persen menjadi US$78,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi lebih dalam, turun US$4,70 atau 5,8 persen ke level US$76,05 per barel.
Penurunan tersebut menjadi level penutupan terendah bagi Brent sejak 2 Maret dan bagi WTI sejak 4 Maret 2026.
Sebelum konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari lalu, harga minyak Brent berada di kisaran US$72,48 per barel, sedangkan WTI diperdagangkan pada level US$67,02 per barel. Kondisi tersebut membuat pasar menilai harga minyak masih berpotensi turun lebih lanjut apabila stabilitas kawasan Timur Tengah benar-benar terjaga.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Jumat (19/6/2026), bertepatan dengan penandatanganan perjanjian damai antara AS dan Iran di Swiss.
"Dengan dibukanya kembali Selat setelah penandatanganan Perjanjian pada Jumat untuk keperluan pembersihan ranjau, minyak akan kembali mengalir di kedua ujungnya bagi kawasan tersebut, dan juga dunia!" ujar Trump melalui media sosial Truth Social.
Trump juga menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka tanpa pungutan bagi kapal-kapal yang melintas dan AS akan mengakhiri blokade laut terhadap Iran.
"Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!" tulis Trump.
Kesepakatan Damai Resmi Ditandatangani Jumat
Kesepakatan damai antara AS dan Iran disebut akan menjadi titik akhir konflik yang berlangsung hampir empat bulan dan sempat mengguncang pasar energi dunia.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, mengungkapkan bahwa naskah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) telah rampung dan siap ditandatangani pada Jumat (19/6/2026) di Swiss.
"Teks nota kesepahaman telah diselesaikan, dan penandatanganan resmi Nota Kesepahaman Islamabad akan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6)," kata Gharibabadi.
Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan hasil kombinasi antara jalur diplomasi dan kekuatan pertahanan Iran.
"Komitmen kami akan berlaku mulai Jumat," tegas Gharibabadi.
Ia juga menyatakan bahwa Iran akan menghentikan seluruh operasi militer di berbagai front konflik, termasuk di kawasan Lebanon.
"Pertama, penyetopan permanen dan segera perang di semua front, termasuk Lebanon. Kedua, pencabutan dan penghentian blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran," ia menambahkan.
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Sanksi Mulai Dilonggarkan
Berdasarkan informasi yang beredar dari sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran, rancangan MoU mencakup 14 poin kesepakatan utama.
Beberapa poin penting di antaranya adalah penghentian perang secara permanen, komitmen AS untuk menghormati kedaulatan Iran, pencabutan blokade laut dalam 30 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga pelonggaran sanksi terhadap sektor minyak dan petrokimia Iran.
Kesepakatan tersebut juga memuat rencana rekonstruksi ekonomi senilai sedikitnya US$300 miliar serta pencairan dana Iran yang selama ini dibekukan sebesar US$24 miliar.
Selain itu, kedua negara akan menjalani masa negosiasi lanjutan selama 60 hari untuk menyelesaikan isu nuklir, pencabutan sanksi, serta kerja sama ekonomi jangka panjang.
Dampak Positif bagi Indonesia
Turunnya harga minyak dunia diperkirakan menjadi kabar baik bagi Indonesia sebagai negara pengimpor energi. Harga energi yang lebih rendah berpotensi menekan inflasi, mengurangi beban subsidi pemerintah, memperbaiki neraca perdagangan, serta memberikan ruang fiskal yang lebih besar untuk pembiayaan program pembangunan.
Jika tren penurunan harga minyak berlanjut setelah pembukaan Selat Hormuz dan implementasi penuh kesepakatan damai AS-Iran, pasar memperkirakan harga minyak dapat bergerak mendekati level sebelum konflik pecah, sehingga memberikan sentimen positif bagi perekonomian global maupun domestik. (cnni)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda