Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Dunia Tembus US$105 per Barel, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan

Redaksi
Redaksi
Senin, 12 Oktober 2026 - 8.06 AM WIB
Harga Minyak Dunia Tembus US$105 per Barel, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia menembus US$105 per barel pada perdagangan Senin (12/10/2026). Eskalasi konflik di Timur Tengah, serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi, serta insiden penyerangan kapal tanker di jalur pelayaran strategis memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Mengutip Investing.com, Senin (12/10/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia naik 76 sen atau 0,73% menjadi US$105,48 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 59 sen atau 0,64% menjadi US$92,44 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut terjadi di tengah meningkatnya risiko gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah. Pasar mengkhawatirkan konflik yang meluas dapat mengganggu produksi maupun pengiriman minyak, terutama melalui jalur pelayaran penting seperti Selat Hormuz.

Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu terhadap bandara internasional Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Otoritas Arab Saudi juga melaporkan adanya korban luka dalam serangan baru di bandara tersebut pada Minggu.

Presiden AS Donald Trump mengatakan negaranya mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi. Konflik tersebut merupakan dampak meluas dari perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari.

Meluasnya ketegangan ini menambah tekanan terhadap pasar energi dunia. Jika serangan terhadap fasilitas maupun jalur distribusi minyak terus berlanjut, pasokan global berpotensi semakin ketat dan menjaga harga minyak tetap tinggi.

Serangan Kapal Tanker Perbesar Risiko Pasokan Minyak

Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah muncul laporan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Otoritas perdagangan maritim Inggris melaporkan sebuah kapal tanker diserang drone di dekat area labuh Sohar, Oman. Kapal lainnya mengalami kerusakan akibat proyektil yang belum diketahui saat melintasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi kelancaran pengiriman minyak dan meningkatkan biaya transportasi energi.

Situasi ini membuat perkembangan konflik Timur Tengah menjadi perhatian pelaku pasar, terutama karena harga minyak sangat sensitif terhadap risiko gangguan pasokan dari negara-negara produsen utama.

Goldman Sachs Revisi Proyeksi Harga Minyak Brent

Di tengah ketidakpastian tersebut, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent pada Desember menjadi US$90 per barel, dari perkiraan sebelumnya US$85 per barel.

Meski menaikkan proyeksi harga, analis yang dipimpin Daan Struyven menilai penyesuaian pasokan minyak Timur Tengah pada akhirnya dapat menurunkan harga.

“Kami mempertahankan skenario dasar bahwa penyesuaian pasokan Timur Tengah yang berkelanjutan pada akhirnya akan menurunkan harga minyak mentah, sementara potensi eskalasi kembali masih menimbulkan risiko kenaikan harga yang signifikan,” tulis para analis.

Goldman Sachs memperkirakan premi risiko sedikit di atas US$20 per barel. Premi tersebut mencerminkan tambahan harga yang terbentuk akibat ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan pasokan.

Untuk minyak mentah WTI, Goldman Sachs memperkirakan harga rata-rata mencapai US$81 per barel pada Desember 2026 dan US$73 per barel pada 2027.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa meskipun risiko geopolitik masih dapat mendorong harga naik dalam jangka pendek, harga minyak berpotensi kembali melemah apabila pasokan menyesuaikan dan ketegangan mereda.

Produksi Minyak Teluk Meksiko Berangsur Pulih

Sementara itu, di Teluk Meksiko, Shell, Chevron, dan BP berupaya memulihkan produksi serta menempatkan kembali pekerja di anjungan minyak setelah Badai Isaias mendarat pada Sabtu pagi.

Pemulihan produksi di kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pasar energi global di tengah ketidakpastian pasokan akibat konflik geopolitik.

Ke depan, pergerakan harga minyak dunia akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran, serta kemampuan produsen menjaga kelancaran pasokan. Eskalasi lebih lanjut berpotensi memperbesar tekanan harga, sedangkan meredanya konflik dan pulihnya produksi dapat membuka ruang koreksi. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement