Harga Minyak Dunia Tergelincir Setelah Arab Saudi Alihkan Ekspor Lewat Selat Hormuz

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia kembali tergelincir pada perdagangan Kamis, 17 September 2026, atau Jumat pagi waktu Jakarta. Penurunan terjadi setelah Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz untuk mengimbangi penutupan jalur pipa utama.
Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global yang lebih besar. Investor menilai pengalihan jalur distribusi dapat membantu menjaga aliran minyak di tengah meningkatnya risiko geopolitik di kawasan.
Mengutip CNBC, Jumat (18/9/2026), harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional turun US$1,01 dan ditutup di level US$104,82 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 52 sen menjadi US$101,91 per barel.
Meski terkoreksi pada perdagangan terakhir, harga minyak AS masih mencatat kenaikan hampir 2% sepanjang pekan ini. Bahkan, sepanjang September 2026, harga WTI telah melonjak lebih dari 18%.
Saudi Alihkan Pengiriman Minyak
Arab Saudi diketahui menyediakan tambahan kargo minyak mentah untuk kilang-kilang di Asia. Pengiriman tersebut dilakukan melalui mekanisme transfer antar-kapal di luar Selat Hormuz, tepatnya di sekitar pelabuhan Sohar, Oman, menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut kepada Reuters.
Dalam mekanisme tersebut, kapal pengangkut atau shuttle membawa minyak mentah melewati Selat Hormuz. Setelah itu, muatan dipindahkan ke kapal tanker yang telah menunggu di luar selat.
Skema ini memungkinkan pengiriman minyak tetap berjalan sekaligus mengurangi risiko bagi kapal tanker yang harus berlayar lebih jauh memasuki kawasan Teluk.
Transfer Minyak di Teluk Oman Meningkat
Direktur Riset Kpler, Matt Smith, mengatakan volume pemuatan minyak mentah Saudi dari sejumlah pelabuhan di kawasan Teluk mengalami peningkatan sepanjang September.
“Selain itu, transfer antar-kapal di Teluk Oman telah meningkat menjadi 2,7 juta barel per hari dibandingkan dengan 1,5 juta barel per hari pada bulan Agustus,” ujar Smith.
Peningkatan transfer tersebut menunjukkan adanya perubahan pola pengiriman minyak di kawasan ketika pelaku pasar menghadapi risiko terhadap jalur perdagangan utama.
Namun, Smith menegaskan masih sulit memastikan apakah peningkatan transfer tersebut sepenuhnya dilakukan oleh Arab Saudi atau melibatkan negara-negara Teluk lainnya.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan terhadap lalu lintas energi melalui kawasan tersebut berpotensi memengaruhi harga minyak global.
Dengan adanya pengalihan pengiriman dan peningkatan aktivitas transfer antar-kapal, kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan yang lebih besar untuk sementara mereda. Kondisi itu turut memberikan tekanan terhadap harga minyak pada perdagangan terakhir. (Lip6)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda