Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Dunia Turun, Pertamax Belum Ikut Turun? Ini Penjelasan Ekonom

Redaksi
Redaksi
Kamis, 18 Juni 2026 - 7.13 AM WIB
Harga Minyak Dunia Turun, Pertamax Belum Ikut Turun? Ini Penjelasan Ekonom
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Meredanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang diikuti penurunan harga minyak dunia memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Banyak yang berharap harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, segera turun. Namun para ekonom menilai penyesuaian harga BBM di Indonesia tidak bisa dilakukan secara instan hanya karena harga minyak mentah global melemah.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa harga BBM yang dibayar masyarakat di SPBU dipengaruhi banyak faktor, bukan semata-mata harga minyak dunia.

“Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung, karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata, melainkan merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak,” kata kepala ekonom Bank Permata, Josua Pardede dikutip dari Republika, Kamis (18/6/2026).

Menurut Josua, seluruh komponen tersebut dihitung menggunakan rata-rata periode tertentu sehingga tidak mengikuti pergerakan harga harian minyak dunia. Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, kebijakan harga juga mempertimbangkan kemampuan fiskal negara serta daya beli masyarakat.

“Bukan langsung diteruskan sebagai penurunan harga di SPBU. Sementara untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian lebih mengikuti mekanisme pasar, tetapi tetap tidak bergerak harian karena memakai formula resmi dan pengawasan pemerintah; oleh karena itu, persoalan yang sesungguhnya bukan apakah harga BBM harus turun, melainkan seberapa transparan pemerintah dalam mengkomunikasikan komponen-komponen perhitungan harga tersebut kepada publik agar tidak mudah dipolitisasi,” ucapnya.

Pertamax Masih di Bawah Harga Keekonomian

Berdasarkan perhitungan Josua, harga keekonomian Pertamax saat ini justru berada di kisaran Rp16.500 per liter. Artinya, harga jual Pertamax yang kini berada di level Rp16.250 per liter masih lebih rendah sekitar Rp250 dibandingkan harga keekonomian.

“Dengan harga jual baru Rp16.250, Pertamax masih dijual di bawah harga keekonomian sekitar Rp250 per liter," ujar Josua.

Ia menjelaskan, tingginya harga keekonomian dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang sempat melampaui asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan biaya impor energi.

Karena itu, kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dinilai sebagai langkah korektif untuk mengurangi tekanan keuangan yang selama ini ditanggung Pertamina.

"Jika harga Pertamax tetap ditahan di Rp12.300 terlalu lama, beban harus ditanggung Pertamina," kata Josua.

Harga Berpotensi Turun Bertahap

Pandangan serupa disampaikan Pakar Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki. Menurutnya, berakhirnya ketegangan antara Iran dan AS menjadi sentimen positif bagi pasar energi global dan berpotensi mendorong penurunan harga minyak dunia.

Meski demikian, ia menilai harga Pertamax tidak akan langsung kembali ke level Rp12.300 per liter dalam waktu dekat.

"Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu," kata Yayan.

Yayan memperkirakan harga minyak dunia akan turun secara bertahap, dengan koreksi sekitar 1 hingga 3 persen per hari dalam beberapa bulan ke depan. Namun, arah pergerakan harga masih sangat bergantung pada kondisi geopolitik dan keberhasilan implementasi perdamaian antara Iran dan AS.

Ia juga menyoroti pergerakan harga minyak Brent yang saat ini tengah melemah dan diperkirakan masih berpotensi turun hingga awal Juli 2026.

"Kita lihat harga Brent semakin turun, dan kemungkinannya akan terus diturunkan hingga awal Juli. Setelah itu berpotensi naik lagi pada awal Agustus hingga September ketika musim panas berakhir," ujarnya.

Pasar Energi Masih Masa Transisi

Lebih lanjut, Yayan menilai pasar minyak global masih berada dalam fase transisi menuju keseimbangan baru. Mengacu pada proyeksi Short Term Energy Outlook (STEO) dari Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, peningkatan produksi minyak AS hingga sekitar 14 juta barel per hari diperkirakan menjadi faktor utama yang menahan kenaikan harga minyak dunia.

Jika kondisi geopolitik tetap kondusif dan pasokan energi global stabil, harga minyak diperkirakan bergerak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel hingga akhir tahun. Selanjutnya, harga berpotensi turun ke rentang US$75 hingga US$85 per barel pada akhir tahun atau awal tahun depan.

Dengan berbagai faktor tersebut, penurunan harga minyak dunia memang membuka peluang turunnya harga BBM nonsubsidi. Namun masyarakat tampaknya masih harus bersabar, karena proses penyesuaian harga membutuhkan waktu dan mempertimbangkan banyak komponen di luar harga minyak mentah semata. (Rep)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement