Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Melonjak Di Tengah Ancaman Serangan Baru Ke Iran

Redaksi
Redaksi
Kamis, 4 Juni 2026 - 8.39 AM WIB
Harga Minyak Melonjak Di Tengah Ancaman Serangan Baru Ke Iran
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (3/6/2026) setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) siap melancarkan serangan militer baru terhadap Iran apabila dianggap diperlukan. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip CNBC, Kamis (4/6/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 2 persen dan ditutup pada level US$96,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional naik hampir 2 persen dan berakhir di posisi US$97,81 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Netanyahu menyampaikan bahwa Washington dan Tel Aviv tetap memiliki kesiapan militer menghadapi Iran apabila situasi memerlukan tindakan lebih lanjut.

"Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan Iran, "akan ada kembalinya aksi militer skala penuh" jika perlu," kata Netanyahu kepada Sara Eisen dari CNBC dalam sebuah wawancara eksklusif.

"Itu keputusan presiden," kata Netanyahu.

"Israel siap dan pasukan AS siap. Saya pikir Iran harus mempertimbangkan hal itu. Saya pikir mereka mempertimbangkannya, tetapi mereka bermain api."

Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran investor mengenai meningkatnya risiko konflik regional yang dapat mengganggu jalur distribusi energi dunia, terutama di kawasan Teluk dan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.

Selain menyinggung Iran, Netanyahu juga menegaskan sikap Israel terkait operasi militernya di Lebanon. Menurutnya, ancaman dari Hizbullah harus diakhiri melalui pelucutan senjata kelompok tersebut.

Ketika ditanya tentang serangan militer Israel di Lebanon, Netanyahu mengatakan, pihaknya harus melucuti senjata Hizbullah. “Kita harus melakukan demiliterisasi Lebanon." Trump juga memiliki tujuan yang sama,” ujar dia.

Ia juga membantah spekulasi yang menyebut hubungan pemerintah Israel dengan Presiden AS Donald Trump sedang mengalami ketegangan akibat operasi militer di Lebanon. Menurut Netanyahu, kedua negara hanya memiliki perbedaan taktis, namun tetap berada dalam satu garis kebijakan strategis.

Di sisi lain, Iran masih menolak menyetujui kesepakatan dengan AS untuk membuka kembali Selat Hormuz. Teheran mensyaratkan penghentian serangan Israel di Lebanon serta penarikan pasukan dari wilayah tersebut sebelum pembahasan lebih lanjut dilakukan.

Ketegangan semakin meningkat setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer. Komando Pusat AS menyatakan berhasil menggagalkan sejumlah rudal balistik dan drone Iran serta melakukan serangan defensif sebagai respons atas apa yang disebut sebagai upaya serangan dari Iran.

Meski situasi keamanan memburuk, Washington mengklaim jalur diplomasi masih terbuka. Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan komunikasi dengan Iran tetap berlangsung untuk mencari jalan keluar konflik.

Rubio bahkan mengungkapkan adanya peluang pembahasan lebih lanjut terkait program nuklir Iran sebagai bagian dari negosiasi yang sedang berlangsung.

"ada prospek" bahwa Iran "dapat menegosiasikan aspek-aspek program nuklir mereka."

Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan sejumlah laporan media Iran. Kantor berita Fars sebelumnya melaporkan bahwa komunikasi antara Teheran dan Washington telah terhenti selama beberapa hari terakhir. Sementara media Tasnim menyebut Iran berencana menghentikan komunikasi tidak langsung dengan AS dan berupaya menutup sepenuhnya Selat Hormuz.

Menanggapi laporan tersebut, Trump membantah keras kabar yang beredar dan menegaskan bahwa proses komunikasi masih berjalan.

"Laporan Berita Palsu bahwa Republik Islam Iran, dan AS, berhenti berbicara beberapa hari yang lalu adalah salah dan keliru,” kata Trump dalam unggahan Truth Social pada Selasa sore.

Pasar energi kini terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Setiap eskalasi yang melibatkan Iran, Israel, maupun AS berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi, terutama jika mengancam aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. (lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement