Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Melonjak di Tengah Konflik AS-Iran, Tembus US$107 per Barel

Redaksi
Redaksi
Jumat, 11 September 2026 - 8.11 AM WIB
Harga Minyak Melonjak di Tengah Konflik AS-Iran, Tembus US$107 per Barel
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia kembali melonjak tajam dan menembus level US$100 per barel pada perdagangan Kamis (10/9/2026), atau Jumat pagi waktu Jakarta. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.

Mengutip CNBC, Jumat (11/9/2026), kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak 6,7% dan ditutup di level US$102,48 per barel. Angka tersebut menjadi level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent naik 6,3% dan ditutup pada US$107,63 per barel.

Lonjakan tersebut membuat harga minyak telah menguat lebih dari 18% sepanjang September. Pasar kini bersiap menghadapi kemungkinan konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia.

Perang AS-Iran Berpotensi Berlarut

Ketidakpastian pasar semakin meningkat setelah para penasihat utama Gedung Putih dilaporkan membahas dengan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan perang dengan Iran berlangsung lebih lama, bahkan hingga melewati Hari Pelantikan pada Januari 2029.

Laporan The Wall Street Journal tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Trump pada Rabu yang menyebut perang akan segera berakhir setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm elections).

Selama berbulan-bulan, Trump memang berulang kali menyatakan konflik akan segera berakhir. Namun, perkembangan terbaru justru menunjukkan pertempuran semakin meningkat.

Trump juga mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa harga minyak dan bensin akan kembali turun setelah pemilu paruh waktu.

Harga bahan bakar di SPBU sebelumnya sempat mencatat rekor tertinggi pada Hari Buruh (Labor Day), sementara harga solar diperkirakan akan menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya dalam beberapa hari mendatang.

"Iran sangat berambisi untuk memengaruhi pemilu, agar kita mendapatkan kelompok pemimpin yang lemah di sana, sehingga mereka bisa dibiarkan begitu saja dan memiliki senjata nuklir,” tutur dia.

Risiko Harga Minyak Tembus US$120

Eskalasi konflik AS-Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Pertempuran antara Washington dan Teheran kembali pecah bulan ini setelah sempat terjadi ketenangan relatif pada Agustus. Iran disebut berulang kali mencoba menyerang kapal perang Amerika, sementara militer AS telah menghancurkan setidaknya delapan kapal tanker Iran sejak Sabtu sebagai tindakan balasan.

Situasi semakin kompleks setelah kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutu Iran, menyerang sejumlah fasilitas energi dan target lainnya di Arab Saudi pada pekan ini.

Serangan tersebut dilaporkan melukai lebih dari 70 warga sipil dan memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke wilayah lain di Timur Tengah.

Kepala Riset Goldman Sachs, Daan Struyven, menilai eskalasi konflik berpotensi mendorong harga minyak semakin tinggi.

Ia memperkirakan harga minyak bahkan berisiko melonjak menembus US$120 per barel jika serangan terhadap jalur pelayaran semakin intensif.

Sementara itu, Direktur TFP Software FZCO, Andrei Constantin, mengatakan pasar fisik minyak dapat semakin mengetat apabila volume transit kembali turun.

Kondisi tersebut, ditambah eskalasi konflik yang lebih luas atau ancaman terhadap infrastruktur energi, berpotensi memperpanjang tren kenaikan harga minyak dunia.

Analis Trade Nation, David Morrison, mengatakan harga WTI kini telah sepenuhnya memulihkan penurunan yang terjadi antara awal Juni dan Juli.

Sementara itu, harga Brent saat ini berada jauh di atas level yang tercatat pada awal Juni. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement