Harga Minyak Melonjak, Negosiasi AS-Iran Jadi Sorotan

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia kembali menguat sekitar 2% pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026, atau Jumat pagi waktu Jakarta. Penguatan terjadi setelah Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran, sehingga harapan terhadap terobosan diplomatik dan pemulihan aliran minyak dari kawasan Timur Tengah kembali meredup.
Mengutip CNBC, Jumat (28/8/2026), kontrak berjangka minyak Brent naik 2,2% menjadi US$89,79 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,7% menjadi US$83,66 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak sebelumnya melemah selama tiga sesi berturut-turut. Investor kini kembali memperhitungkan risiko geopolitik, terutama setelah prospek negosiasi AS-Iran belum menunjukkan kemajuan berarti.
"Pelemahan pada WTI mencerminkan kondisi keseimbangan pasokan minyak mentah AS yang semakin nyaman,” ujar Presiden at Geopolitical Risk Consultancy Scarab Rising, Irina Tsukerman.
Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu melaporkan peningkatan persediaan minyak mentah AS. Kenaikan juga tercatat di pusat penyimpanan minyak Cushing, Oklahoma, yang menjadi salah satu indikator penting bagi kondisi pasokan minyak mentah AS.
Namun, sentimen pasar kembali berubah setelah investor menilai peluang terobosan diplomatik yang dapat mendorong pemulihan aliran minyak dari Timur Tengah semakin kecil.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan minimnya kemajuan dalam pembicaraan, ditambah masih terbatasnya aliran minyak, berpotensi mendorong pelaku pasar menyesuaikan kembali pandangan mereka terhadap risiko pasokan.
Gedung Putih menyatakan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran. Meski demikian, Washington menyebut seluruh opsi masih terbuka.
"Tidak ada negosiasi yang terjadi saat ini, dan hal ini akan terus berlanjut sampai presiden merasa bahwa mungkin mereka bersedia duduk di meja perundingan secara serius dan bermakna. Kami belum melihat hal itu terjadi," kata sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah wawancara dengan Fox News.
Di tengah kebuntuan tersebut, Perdana Menteri Qatar melakukan kunjungan ke Teheran untuk menghidupkan kembali upaya diplomatik guna mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran.
Sementara itu, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, jalur utama ekspor energi dari kawasan Teluk, masih terbatas.
AS dan Iran Saling Kecam
Ketegangan antara Washington dan Teheran juga meningkat setelah kedua negara saling melontarkan kecaman terkait kebijakan AS untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran.
Pada Senin, AS mengumumkan apa yang disebut sebagai "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan tekanan ekonomi sehingga mengurangi kebutuhan terhadap operasi militer besar-besaran yang baru.
Namun, Ketua Komite Keamanan Nasional parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengecam kebijakan tersebut sebagai "tindakan tidak manusiawi dan bermusuhan" yang dinilainya telah kehilangan efektivitas.
Ketidakpastian terkait arah negosiasi menjadi perhatian utama pelaku pasar minyak. Kepala Analis KCM, Tim Waterer, mengingatkan risiko munculnya kembali premi geopolitik pada harga minyak jika harapan terhadap kesepakatan ternyata terlalu dini.
"Risiko terbesar saat ini adalah bahwa optimisme mengenai kesepakatan ternyata terlalu dini, sehingga negosiasi kembali macet atau gagal. Hal itu akan dengan cepat memunculkan kembali premi risiko pada harga," tutur Kepala Analis KCM, Tim Waterer.
Head of Market Insights Philip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai persoalan utama dalam konflik tersebut masih berkaitan dengan program nuklir Iran. Penyelesaian masalah itu dinilai membutuhkan waktu dan berpotensi membuat ketidakpastian geopolitik bertahan lebih lama.
"Inti dari perselisihan ini tetaplah program nuklir Iran, dan hal itu kecil kemungkinannya akan diselesaikan dengan cepat. Iran juga memahami pentingnya posisi geografisnya serta daya tawar yang diberikan oleh Selat Hormuz, sehingga risiko ketidakpastian yang berkepanjangan masih tetap ada," ujar Head of Market Insights Philip Nova, Priyanka Sachdeva.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial bagi pasar energi global. Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, jalur tersebut menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia setiap harinya.
Arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz memang sedikit membaik pada Rabu. Sebanyak 10 kapal komoditas tercatat melintasi jalur tersebut, meningkat dari level terendah dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, angka itu masih berada di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai 15 kapal, berdasarkan data Kpler.
Kapal yang melintas keluar dari Selat Hormuz antara lain kapal tanker bahan bakar jarak menengah, kapal tanker bitumen, serta kapal pengangkut curah.
Risiko Geopolitik Meluas
Selain ketegangan AS-Iran, risiko geopolitik juga kembali meningkat di kawasan Eropa.
Rusia memperingatkan kemungkinan serangan terhadap target militer Inggris, baik di dalam maupun di luar Ukraina, sebagai respons terhadap serangan Ukraina ke wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah jarak jauh yang dipasok Inggris.
Perkembangan tersebut menambah daftar risiko geopolitik yang harus diperhitungkan investor di tengah kondisi pasar minyak yang masih sensitif terhadap gangguan pasokan.
Dengan belum adanya negosiasi langsung AS-Iran dan arus energi melalui Selat Hormuz yang belum sepenuhnya normal, pasar minyak masih menghadapi ketidakpastian tinggi. Perkembangan diplomatik dan kondisi lalu lintas di jalur energi tersebut akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga minyak selanjutnya. (Lip6)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda