Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Tembus US$108 per Barel, IHSG dan Rupiah Tertekan Hebat

Redaksi
Redaksi
Jumat, 11 September 2026 - 9.53 AM WIB
Harga Minyak Tembus US$108 per Barel, IHSG dan Rupiah Tertekan Hebat
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan kembali berada di bawah tekanan. Kenaikan tajam harga minyak mentah dunia hingga menembus level US$108 per barel, ditambah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah semakin tertekan.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap pasar keuangan global kali ini datang dari sejumlah sentimen yang saling memperkuat. Salah satunya adalah kembali meningkatnya tekanan jual pada obligasi atau surat utang AS.

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun bahkan naik ke level 4,961%. Kebijakan Departemen Keuangan AS yang membatasi maksimal operasi pembelian kembali utang jangka panjang hingga US$6 miliar juga belum mampu meredam tekanan jual tersebut.

“Departemen Keuangan AS dikabarkan hanya menyerap sebanyak US$5,19 miliar, sementara penawaran yang masuk mencapai sekitar US$10 miliar,” ujar Gunawan, Jumat (12/9).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap surat utang AS belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan jual di pasar. Pergerakan yield Treasury AS yang tinggi selanjutnya berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di tengah kondisi tersebut, USD Index justru melemah ke level 99,09. Namun, rupiah tetap berada dalam tekanan dan pada pembukaan perdagangan Jumat (12/9) pagi ditransaksikan melemah ke level Rp17.585 per dolar AS.

“Dinamika pasar keuangan, khususnya obligasi AS, berpeluang memicu tekanan pada mata uang rupiah,” kata Gunawan.

Minyak Tembus US$108

Tekanan terhadap rupiah dan IHSG semakin berat karena harga minyak mentah dunia kembali melonjak.

Pada perdagangan di kawasan Asia, harga minyak mentah jenis Brent naik ke kisaran US$108 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Gunawan menilai lonjakan harga minyak menjadi persoalan serius bagi pasar karena dapat meningkatkan kembali risiko inflasi global. Terlebih, penasihat Gedung Putih AS menyatakan bahwa perang dengan Iran berpotensi berlangsung hingga 2029.

“Pasar saham di Asia merespon dengan diperdagangkan melemah pagi ini. IHSG juga melanjutkan tren pelemahan dengan dibuka terkoreksi di level 6.552,” jelasnya.

Menurut Gunawan, IHSG dan rupiah saat ini sangat rentan mengikuti tekanan di sektor keuangan kawasan Asia. Ruang gerak pasar juga menjadi semakin sulit dipetakan karena harga minyak dapat kembali bergerak agresif mengikuti perkembangan konflik AS-Iran.

“Tekanan yang terjadi juga masih sulit untuk dipetakan seiring lompatan baru pada harga minyak mentah dunia,” ujarnya.

Harga Emas Ikut Terkoreksi

Di tengah lonjakan harga minyak dan meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga emas dunia justru mengalami koreksi cukup tajam.

Harga emas saat ini berada di level sekitar US$4.321 per troy ounce, atau setara sekitar Rp2,48 juta per gram.

Gunawan menjelaskan, kenaikan harga minyak berpotensi menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut dapat membuat ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter semakin memudar.

Meroketnya harga minyak, kata dia, bahkan dapat kembali memunculkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan apabila tekanan inflasi berlangsung lebih lama.

“Meroketnya harga minyak memupuskan harapan kebijakan moneter yang lebih longgar, dan kembali membangkitkan rencana kenaikan suku bunga acuan yang bisa menekan harga emas,” pungkas Gunawan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement