Harga Minyak Tembus US$90, Konflik Iran MemanasHarga Minyak Tembus US$90, Konflik Iran Memanas

HOUSTON (Waspada.id): Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Senin (17/8/2026). Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan global setelah upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Iran menemui jalan buntu.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman naik US$2,35 atau 2,65% menjadi US$90,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat US$2,10 atau 2,55% menjadi US$84,50 per barel.
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menuntut Iran menyerah dan mengancam akan menyerang Oman apabila negara tersebut dianggap menghambat upaya perdamaian yang digagas Washington.
Trump juga mengatakan AS tidak menginginkan perpanjangan nota kesepahaman dengan Iran. Ia menilai Teheran tidak akan menyepakati kesepakatan sesuai dengan keinginan AS.
Ancaman tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya serta melancarkan serangan jika AS gagal menjalankan kesepakatan damai sementara secara penuh dalam beberapa pekan.
Meski demikian, kenaikan harga minyak diperkirakan masih terbatas. Pasar menilai harga baru akan melonjak jauh lebih tinggi apabila terjadi gangguan serius terhadap arus minyak mentah melalui Selat Hormuz atau penutupan Selat Bab el-Mandeb.
Pasar Berada di Persimpangan
Analis SEB Research Bjarne Schieldrop mengatakan harga minyak kini bergerak di sekitar level US$90 per barel. Pasar tengah menimbang risiko gangguan pasokan dan kelangkaan minyak yang lebih besar dengan peluang tercapainya kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz.
“Ketika retorika memanas, harga juga ikut naik,” kata analis senior Price Futures Group Phil Flynn, sembari menambahkan, ketidakpastian mengenai kapal yang melintasi Selat Hormuz semakin meningkatkan kekhawatiran di pasar.
Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya telah menguat lebih dari 5% pada pekan lalu. Kenaikan terjadi setelah serangan terhadap kapal tanker yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) di Selat Hormuz serta kilang Saudi Aramco.
Negosiasi Iran-AS Belum Jelas
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran belum memutuskan untuk kembali berunding dengan AS. Di sisi lain, Trump meminta masyarakat AS bersiap menghadapi potensi kenaikan harga bensin selama konflik berlangsung.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai kesepakatan untuk mengelola Selat Hormuz masih berlangsung.
Namun, proses tersebut berjalan lambat karena kompleksitas isu, keterlibatan banyak pihak, serta adanya negara-negara yang dinilai berupaya menggagalkan proses tersebut.
Kondisi ini membuat pasar minyak kembali dibayangi ketidakpastian. Jika ketegangan terus meningkat dan mengganggu jalur pelayaran strategis, risiko lonjakan harga minyak akan semakin besar dan berpotensi menekan biaya energi serta inflasi global. (invid)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda