Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Semen Melonjak Hampir 50%, Tekan Sektor Konstruksi

Redaksi
Redaksi
Selasa, 28 Juli 2026 - 8.04 AM WIB
Harga Semen Melonjak Hampir 50%, Tekan Sektor Konstruksi
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Harga semen di Sumatera Utara mengalami lonjakan tajam dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan yang mencapai hampir 50 persen dikhawatirkan akan menekan sektor konstruksi, memperlambat pembangunan perumahan, hingga mengganggu pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan pemantauan pasar, harga salah satu merek semen yang pada Februari masih dijual sekitar Rp57.000 per sak kini telah menembus kisaran Rp80.000 hingga Rp85.000 per sak. Artinya, harga semen melonjak sekitar 49 persen dalam waktu kurang dari enam bulan.

Kenaikan mulai terasa sejak pekan keempat April ketika harga bergerak ke kisaran Rp59.000 per sak. Pada Juni, harga telah berada di level Rp60 ribuan sebelum akhirnya melesat ke kisaran Rp80 ribuan sepanjang Juli.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, lonjakan harga bahan bangunan tidak hanya terjadi pada semen, tetapi juga merata pada sejumlah material konstruksi lainnya.

"Pemantauan menunjukkan harga besi beton berdiameter 12 milimeter naik sekitar 5,6 persen, sedangkan besi 8 milimeter melonjak hingga 21 persen. Cat tembok untuk kebutuhan interior maupun eksterior juga mengalami kenaikan antara 13,5 hingga 29,6 persen," ujar Gunawan.

Di tengah kenaikan tersebut, batu bata justru mengalami penurunan harga dari sekitar Rp555 menjadi Rp550 per buah. Menurut Gunawan, kondisi itu dipicu oleh kelebihan pasokan di tingkat pengrajin sehingga harga jual terus tertekan.

"Pengrajin batu bata menghadapi tekanan ganda. Harga jual turun, sementara biaya hidup meningkat dan permintaan juga belum pulih. Kondisi ini membuat pendapatan mereka semakin tergerus," katanya.

Gunawan menjelaskan, lonjakan harga bahan bangunan dipengaruhi meningkatnya biaya produksi akibat ketidakpastian geopolitik global. Konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi, terutama batu bara yang menjadi salah satu komponen penting dalam industri manufaktur bahan bangunan.

Menurutnya, kenaikan biaya energi tersebut akhirnya diteruskan ke harga jual semen, besi, maupun cat sehingga membebani pelaku usaha konstruksi.

Ia mengingatkan dampak kenaikan harga material tidak hanya dirasakan pengembang properti, tetapi juga berpotensi menghambat program pembangunan rumah yang dicanangkan pemerintah.

"Developer cenderung menunda pembangunan proyek baru dibanding harus menjual rumah dengan harga yang jauh lebih tinggi. Akibatnya, penyediaan hunian bisa melambat," jelasnya.

Lebih jauh, Gunawan menilai efek domino dari lonjakan harga material bangunan dapat memicu tertundanya berbagai proyek konstruksi, membengkaknya anggaran pembangunan, hingga berkurangnya penyerapan tenaga kerja di sektor bangunan.

"Jika kondisi ini terus berlanjut, proyek-proyek berpotensi mangkrak karena biaya tidak lagi sesuai dengan perencanaan awal. Dampaknya bisa meluas terhadap sektor konstruksi, manufaktur, infrastruktur, hingga properti yang pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya.

Gunawan menambahkan, sektor properti saat ini menghadapi tantangan besar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, stabilisasi harga energi dan meredanya tensi geopolitik menjadi faktor penting agar biaya produksi bahan bangunan kembali terkendali dan aktivitas pembangunan dapat kembali bergairah. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement