Breaking News
Memuat breaking news...

Harmoni Manusia, Flora, dan Fauna dalam Sistem Kepercayaan Ugamo Parmalim

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 8.50 PM WIB
Harmoni Manusia, Flora, dan Fauna dalam Sistem Kepercayaan Ugamo Parmalim
Penulis bersama tokoh Parmalim dengan latar belakang rumah ibadah Parmalim. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

EKSPLORASI BUDAYA & EKOLOGI

Oleh: Edy Suhartono¹, Muhammad Rafli², Sagiv Afrand Shuja Harahap², Mutira Simaremare², Nazwa Asriyani Hasibuan², Steviq Colose Andreas Sitompul²

Harmoni Manusia, Flora, dan Fauna dalam Sistem Kepercayaan Ugamo Parmalim

Di tengah laju modernisasi Kota Medan, tepatnya di kawasan Simpang Limun, Kecamatan Medan Denai, terdapat sebuah komunitas yang masih teguh merawat warisan spiritual para leluhurnya.

Mereka adalah penganut Ugamo Parmalim, sebuah sistem kepercayaan tradisional Batak Toba yang diwariskan secara turun-temurun.

Menariknya, ajaran ini tidak sekadar mengatur urusan peribadatan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga menanamkan etika lingkungan yang sangat kuat terkait kelestarian tumbuhan (flora) dan hewan (fauna).

Harmoni Manusia, Flora, dan Fauna dalam Sistem Kepercayaan Ugamo Parmalim

Arsitektur rumah ibadah (Bale Pasogit) umat Ugamo Parmalim yang kokoh berdiri di Simpang Limun, Kota Medan.

Falsafah Sabat dan Kriteria Ketat Hewan Kurban

Dalam kesehariannya, umat Parmalim menerapkan konsep yang sejalan dengan falsafah Sabat. Mereka bekerja mencari penghidupan selama enam hari, lalu menyisihkan hari Sabtu secara penuh untuk berhenti dari urusan duniawi. Waktu ibadah rutin yang disebut Marari Saptu ini digunakan untuk mendekatkan diri kepada Pencipta, mengucap syukur, serta merenungkan dan menyesali kesalahan.

Rasa syukur ini mencapai puncaknya pada perayaan agung tahunan bernama Pamujaon Bolon Sipaha Lima, yang diselenggarakan pada bulan kelima dalam kalender tradisional Batak. Pada momen persembahan atas hasil panen, kesehatan, dan perlindungan ini, mereka menyiapkan hewan kurban dengan aturan yang sangat ketat dan terstruktur.

Harmoni Manusia, Flora, dan Fauna dalam Sistem Kepercayaan Ugamo Parmalim

Ornamen patung kuda putih di area peribadatan yang menjadi representasi kekuatan spiritual dan simbol kepemimpinan umat.

Pada tahun genap, hewan kurban utamanya adalah kerbau, sedangkan pada tahun ganjil menggunakan lembu atau sapi. Kriterianya sangat spesifik: hewan tersebut wajib berjenis kelamin jantan dan sehat. Penggunaan hewan betina dilarang keras demi menjaga populasi.

Kurban utama ini turut didampingi oleh hewan lain, seperti kambing, ayam, dan ikan Batak (ihan). Proses penyembelihannya memiliki persyaratan dan makna tersendiri. Darahnya dikembalikan ke tanah sebagai ungkapan terima kasih kepada penjaga bumi, sementara nyawanya diserahkan kembali kepada Sang Pencipta.

Menjaga Kesucian Tumbuhan Ritual

Tidak hanya hewan, tumbuhan juga menempati posisi yang sangat sakral dalam peribadatan. Umat Parmalim menggunakan flora khusus, seperti kemangi, bane-bane, jeruk purut (anggir), daun rahasia, dan kemenyan.

Harmoni Manusia, Flora, dan Fauna dalam Sistem Kepercayaan Ugamo Parmalim

Tumbuhan bane-bane yang ditanam dan dijaga di sekitar area ibadah sebagai flora wajib persembahan.

Cara memperoleh bahan-bahan suci ini tidak boleh sembarangan. Kemenyan, misalnya, harus diambil langsung dari hutan di kawasan Bukit Barisan, Toba, dan pantang dibeli secara acak di pasar. Jika persediaan di suatu daerah habis, mereka wajib meminta racikan khusus dari pimpinan pusat di Siongkang, Laguboti.

Tumbuhan-tumbuhan tersebut kemudian diramu dengan air murni yang harus diambil paling lambat pukul 04.00. Persyaratan waktu ini memiliki makna filosofis yang indah, yaitu memastikan air masih benar-benar bersih dan belum dilangkahi oleh hewan apa pun. Ramuan inilah yang nantinya dijadikan sarana pembersihan atau pamurason.

Pantangan Makan (Subang) dan Harmoni Alam

Di ranah personal, ajaran Parmalim sangat mendisiplinkan umatnya melalui aturan pantangan keras atau subang dalam hal makanan. Umat dilarang keras mengonsumsi daging babi, daging anjing, darah hewan (martering), hewan yang sakit, maupun bangkai hewan yang mati mendadak. Pelanggaran terhadap aturan ini dinilai sebagai pelanggaran keagamaan, dengan konsekuensi spiritual yang harus ditanggung secara mandiri.

Dari potret kehidupan umat Parmalim di Simpang Limun ini, kita bisa melihat sebuah harmoni yang utuh. Ajaran Ugamo Parmalim tidak hanya memfasilitasi hubungan peribadatan dengan Sang Pencipta, tetapi juga menanamkan kedisiplinan moral yang secara nyata menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, flora, dan fauna. Waspada.id

Penulis adalah:

¹ Dosen Antropologi, Universitas Negeri Medan.

² Mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement