Hasto Ajak Tokoh Agama dan Masyarakat Samosir Rawat Indonesia sebagai Rumah BersamaHasto Ajak Tokoh Agama dan Masyarakat Samosir Rawat Indonesia sebagai Rumah Bersama

MEDAN (Waspada.id): Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kabupaten Samosir memperkuat semangat kebersamaan dengan menjadikan nilai agama, Pancasila, kemanusiaan dan keadilan sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pesan itu disampaikan Hasto dalam Silaturahmi Kebangsaan bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat Samosir di Hotel Grand Dainang, Kabupaten Samosir, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Hasto bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat dan rombongan ke Kabupaten Samosir. Sebelumnya, rombongan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Samosir.
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Rapidin Simbolon mengatakan, silaturahmi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat Samosir dalam semangat kebangsaan.
Menurut Rapidin, kehadiran tokoh dari berbagai latar belakang agama dan kelompok masyarakat menunjukkan bahwa keberagaman merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Samosir.
“Di sini berkumpul yang disebut dengan kebangsaan. Dari berbagai unsur masyarakat, ada yang HKBP, ada yang Katolik, ada sahabat, ada masyarakat petani, semua lengkap. Inilah undangan kita yang mewakili elemen masyarakat di tingkat Kabupaten Samosir,” ujar Rapidin.
Dalam kesempatan itu, Hasto mengingatkan bahwa kehidupan beragama tidak cukup hanya diwujudkan melalui ritual. Nilai-nilai spiritual, kata dia, harus diterjemahkan menjadi kepedulian terhadap sesama, karya yang bermanfaat serta keberanian memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.
“Doa itu penting sebagai spiritualitas bagi kita, tapi doa harus membumi, doa harus menjadi amal kemanusiaan, doa harus menciptakan karya,” ujar Hasto.
Hasto kemudian menceritakan pengalaman spiritualnya selama menjalani masa penahanan. Ia mengaku banyak membaca kisah para nabi dan kitab suci serta melakukan refleksi terhadap berbagai ajaran agama.
Pengalaman tersebut, menurut Hasto, justru membuka ruang dialog dengan banyak tokoh agama dan memperlihatkan adanya nilai-nilai universal yang dapat menjadi jembatan di tengah perbedaan keyakinan.
Ia menilai setiap agama mengajarkan nilai kemanusiaan, pengampunan, perjuangan menghadapi ujian serta keberpihakan kepada kebenaran. Karena itu, perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi sumber pertentangan, melainkan dapat menjadi kekuatan moral apabila dibangun melalui dialog dan saling menghormati.
Hasto juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam mengelola keberagaman. Perjumpaan berbagai kebudayaan dan keyakinan di Nusantara menjadi bagian dari perjalanan bangsa hingga melahirkan Pancasila sebagai titik temu seluruh warga negara.
“Indonesia ini dibangun untuk semua, bukan untuk satu kelompok tertentu,” tegas Hasto.
Menurutnya, prinsip Indonesia sebagai rumah bersama harus terus dirawat melalui dialog, keteladanan dan penghormatan terhadap hak setiap warga negara. Perjuangan membela kebebasan beragama, katanya, bukanlah perjuangan untuk satu agama tertentu, melainkan kewajiban bersama untuk memastikan hak konstitusional setiap warga tetap terjaga.
Hasto juga mendorong para tokoh agama agar ikut menghadirkan nilai-nilai moral agama dalam menghadapi persoalan konkret masyarakat. Nilai agama dan kebangsaan, menurutnya, harus mampu mendorong kepedulian terhadap kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan dan berbagai bentuk ketidakadilan.
Selain persoalan kebangsaan, Hasto mengajak masyarakat membayangkan kondisi Samosir dalam 100 tahun mendatang. Visi tersebut harus diwujudkan melalui tata ruang yang mampu menjaga kawasan pertanian, hutan, sungai, permukiman, pariwisata dan ruang publik secara seimbang.
“Ke depan mari kita beri imajinasi 100 tahun ke depan Samosir ini bagaimana. Ini harus ada tata ruang. Mana tempat-tempat pertanian yang harus kita lindungi, tempat untuk wisata yang harus kita jaga kelestariannya, sungai-sungai sebagai jalan peradaban, hutan-hutan yang hijau sebagai sumber oksigen kehidupan, semua sekitar jaga,” tuturnya.
Hasto menilai menjaga kelestarian Danau Toba bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga tanggung jawab antargenerasi. Pengelolaan sampah, ancaman pendangkalan, tata ruang dan sistem transportasi harus menjadi perhatian agar Danau Toba tetap menjadi sumber kehidupan sekaligus destinasi wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya memastikan pengembangan pariwisata Danau Toba memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal. Warga Samosir perlu diperkuat dengan keterampilan, termasuk kemampuan berbahasa asing serta pemahaman mengenai potensi budaya dan alam daerah.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata, tetapi menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut.
Menutup Silaturahmi Kebangsaan, Hasto mengajak tokoh agama dan masyarakat Samosir terus memberikan energi positif bagi bangsa dan negara. Perbedaan pilihan politik, agama, suku maupun latar belakang, kata dia, tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh.
“Dari Samosir ini mari kita gelorakan semangat untuk memuliakan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, memperjuangkan keadilan dan juga kebenaran dengan berpihak kepada yang miskin, yang terpinggirkan, dan yang diperlakukan tidak adil,” pungkas Hasto. (wsp.id)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda