Huntap di Simarpinggan Rampungkan Relokasi 187 KK Korban Longsor Desa Tandihat


ANGKOLA SELATAN (Waspada.id): Pembangunan Hunian Tetap (Huntap) Relokasi Terpusat di Desa Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, kini sedang berlangsung. Sebanyak 187 unit rumah akan dibangun untuk menampung 542 jiwa warga Desa Tandihat yang terdampak bencana pergerakan tanah dan longsor pada November 2025.
Sekretaris Desa Tandihat, Aslan Dalimunthe, menyambut positif upaya pemerintah yang terus mendampingi warga sejak bencana hingga proses pembangunan huntap berjalan. "Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, kementerian terkait, serta Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu, yang telah mendampingi kami. Semoga proyek ini berjalan lancar dan sesuai jadwal," ujarnya saat ditemui di lokasi proyek, Senin (19/10/2026).
Aslan menambahkan, hingga saat ini tidak terdapat kendala signifikan dalam pelaksanaan pembangunan. Warga Desa Tandihat yang sebelumnya menempati Hunian Sementara (Huntara) di lokasi yang sama diharapkan dapat segera menempati rumah baru yang lebih aman dan layak.
Pembangunan 187 unit huntap ini dibiayai APBN dengan nilai kontrak Rp54,83 miliar. Penyediaan lahan dilakukan oleh Pemkab Tapanuli Selatan melalui proses pelepasan HGU PTPN IV. Sedangkan infrastruktur dasar seperti air bersih, sanitasi, saluran pembuangan, dan jaringan listrik di area klaster didanai oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Selanjutnya pembangunan fisik unit Huntap tipe 36 dibiayai langsung oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menggunakan pos anggaran rehabilitasi pascabencana komunal dari APBN.
Rumah tipe 36 seluas 37,5 m² dibangun menggunakan teknologi RISHA yang tahan gempa, dengan luas lahan per unit sekitar 8 x 12 meter. Selain rumah, kawasan juga dilengkapi jalan lingkungan, drainase, air bersih, dan jaringan listrik.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, menegaskan bahwa penyelesaian hunian tetap dan pemulihan infrastruktur publik merupakan prioritas dalam proses pemulihan yang mengacu pada Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Sumatera 2026–2028. Pembangunan didorong berlangsung secara masif sekaligus memastikan jalan, air, listrik, dan prasarana kawasan tersedia agar hunian dapat segera ditempati.
Tito mengatakan, percepatan diperlukan agar masyarakat terdampak tidak terlalu lama berada di tempat pengungsian. Pemerintah juga telah memiliki pengalaman dalam mempercepat pembangunan rumah bagi korban bencana di Sumatera.
Satgas PRR menargetkan pembangunan 57.027 unit hunian tetap di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 46.506 unit ditargetkan di Aceh, 6.779 unit di Sumatera Utara, dan 3.742 unit di Sumatera Barat. Khusus di Tapanuli Selatan, sebanyak 120 unit huntap tahap pertama telah diserahkan kepada masyarakat korban pada Maret 2026 lalu.
Berdasarkan data Satgas PRR per 19 Oktober 2026, di Sumatera Utara sebanyak 544 rumah masih dalam proses pembangunan dan 573 unit telah rampung. Adapun khusus Tapanuli Selatan, dari kebutuhan 1.772 unit huntap, sebanyak 214 unit tengah dalam proses pembangunan dan 227 unit telah selesai.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menyampaikan bahwa pihaknya terus mengawal penyediaan hunian bagi masyarakat terdampak bencana melalui kolaborasi berbagai pihak, baik yayasan swasta maupun kementerian terkait.
Salah satu pembangunan huntap yang telah selesai adalah proyek yang didanai Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di kawasan Perkebunan Sigalagala, Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batangtoru. Sebanyak 227 unit hunian telah selesai dibangun dan kini dihuni masyarakat yang direlokasi dari Desa Hapesong Baru.
Selain itu, Yayasan Buddha Tzu Chi Suci juga tengah membangun huntap di Simatohir. Hunian tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang akan direlokasi dari Dusun Lobu Uhom, Desa Panobasan, Kecamatan Angkola Barat, serta Dusun Aek Rambangan, Desa Simatohir, Kecamatan Angkola Sangkunur.
“Pembangunan mencakup 214 unit hunian untuk warga dari dua desa di dua kecamatan berbeda (Angkola Barat dan Angkola Sangkunur). Dan ada juga sekolah di dalamnya,” ungkap Gus Irawan.
Ia menjelaskan, pembangunan tahap I di Simatohir mencakup 118 unit hunian dan kini telah memasuki tahap penyelesaian akhir atau finishing. Proses pengundian dan pembagian kunci kepada warga penerima manfaat juga telah dilaksanakan.
“Sisa 96 unit berikutnya akan dilanjutkan pada tahap berikutnya,” kata Gus Irawan.
Berita Terkait















































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda